Ekonom: Penurunan harga BBM bisa berdampak negatif terhadap situasi makroekonomi

JAKARTA, Indonesia — Melalui sidang Kabinet Kerja, pemerintah memutuskan untuk menurunkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) pada Rabu, 23 Desember. Pengumuman kebijakan ini dilakukan oleh Menteri ESDM, Sudirman Said. 

BBM untuk jenis premium, harga keekonomiannya turun dari Rp. 7300 menjadi Rp. 6.950 sedangkan solar dari Rp. 6.700 menjadi Rp 5.650. Harga baru BBM akan ditambah Rp. 200 untuk premium dan Rp. 300 solar. Penambahan ini akan dialokasikan untuk dana ketahanan energi.

Dengan demikian harga baru premium adalah Rp. 7.150 dan solar menjadi Rp. 5.950. Harga ini mulai berlaku 5 Januari mendatang.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Dzulfian Syafrian menilai bahwa tak seharusnya pemerintah menurunkan harga BBM. 

Dzulfian melihat harga BBM yang turun akan mendorong peningkatan konsumsinya di dalam negeri. Hal ini dapat berdampak negatif terhadap kondisi makroekonomi Indonesia. 

"Nanti konsumsi dalam negeri naik. Dampaknya nilai impor minyak naik dan defisit neraca perdagangan membesar. Akhirnya defisit transaksi berjalan juga akan membesar. Ini bisa mendorong depresiasi rupiah dan berdampak negatif terhadap makroekonomi kita," kata Dzulfian kepada Rappler, Rabu. 

Harga minyak dunia sedang tunjukkan tren penurunan

Salah satu faktor yang diperhitungkan pemerintah dalam menetapkan harga keekonomian baru adalah harga minyak dunia. Harga minyak mentah dunia memang sedang menunjukkan tren penurunan.

source: tradingeconomics.com

Rappler.com

BACA JUGA: