Pengadilan Turki membebaskan pelajar Indonesia Handika Lintang

JAKARTA, Indonesia - Handika Lintang kini bisa bernafas lega karena pengadilan di Turki menyatakannya tidak terkait dengan kelompok Fethullah Gülen. Dalam persidangan yang digelar pada Selasa, 22 November di kota Gaziantep, majelis hakim membebaskan Handika dari semua dakwaan jaksa.

“Handika disidangkan dalam satu kasus bersama dengan 4 warga negara Turki. Dalam persidangan tersebut, hakim memutuskan bahwa 2 warga Turki ditahan untuk proses hukum selanjutnya. Sementara, 1 orang warga Turki ditahan di luar kota dan sisanya dibebaskan,” ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri, Arrmanatha Nasir melalui pesan pendek pada Rabu, 23 November.

Namun, karena proses persidangan masih terus berlangsung, maka Handika belum diizinkan untuk pergi ke luar negeri. Kehadiran pelajar asal Wonosobo itu juga bisa dibutuhkan sebagai saksi jika majelis hakim membutuhkan.

“Handika kembali ke ibukota Ankara pada sore ini usai proses administrasi yang bersangkutan selesai. KBRI Ankara akan memfasilitasi jika Handika hadir dalam persidangan berikutnya sebagai saksi,” tutur diplomat yang akrab disapa Tata itu.

Handika Lintang ditangkap oleh otoritas berwenang di Turki, karena dianggap terlibat dalam struktur organisasi Fethullah Gülen. Menurut Direktur Perlindungan WNI Kementerian Luar Negeri, Lalu Muhammad Iqbal, nama Handika tertulis dalam struktur organisasi dan telah dipantau oleh otoritas setempat.

Handika merupakan salah satu dari sekitar 300 pelajar Indonesia yang menerima beasiswa dari Yayasan Pasiad, sebuah organisasi yang memperoleh dana dari Gülen. Diakui Iqbal, nominal beasiswa yang diperoleh dari Yayasan Pasiad tidak sebesar yang diberikan Pemerintah Turki. Terlebih kini, banyak donaturnya yang mulai menghentikan pemberian dana untuk beasiswa itu.

Berita penangkapan Handika sempat membuat sang ibunda Supartiningsih terkejut dan depresi. Dia tidak percaya jika putranya ikut terlibat dalam suatu organisasi yang diduga akan menggulingkan pemerintahan yang sah.

"Dia datang ke Turki tujuannya hanya untuk sekolah dan tidak pernah neko-neko. Dia sudah berada di sana selama 3 tahun dan tidak pernah bermasalah, apalagi sampai memusuhi Presiden di negara lain," kata Supartiningsih yang ditemui Rappler pada bulan Agustus lalu. (BACA: Kisah pelajar Indonesia yang tertangkap di Turki karena diduga pendukung Fetullah Gülen) - Rappler.com