'Pesta Boneka ke-5' tawarkan kehangatan rumah bagi pengunjungnya

YOGYAKARTA, Indonesia – Festival internasional teater boneka kontemporer dua tahunan atau yang biasa disebut Pesta Boneka, berlangsung di Yogyakarta sejak hari ini, Jumat, 2 Desember 2016 hingga Minggu, 4 Desember 2016.

Pesta Boneka digagas dan diselenggarakan oleh Papermoon Puppet Theatre yang berbasis di Yogyakarta dan sudah berlangsung sejak tahun 2008. Tahun ini, di tahun kelima penyelenggaraannya, Pesta Boneka digelar di dua lokasi, yakni di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri (PKKH) UGM dan Dusun Kepek, Bantul, Yogyakarta.

Gelaran Pesta Boneka ke-5 kali ini bertema "Home" atau "Rumah". Sebagai pengingat bahwa festival menyediakan kehangatan layaknya rumah bagi siapapun, sekaligus memberi harapan bahwa ada rumah bagi para pengungsi yang pergi dari tanah kelahiran untuk mencari kehidupan di tempat baru.

“Kali ini temanya Home, ada dua makna rumah yang dibicarakan. Pertama tentang isu global pengungsi yang harus meninggalkan asalnya dan makna kedua, bahwa festival boneka selalu menyediakan tempat seolah rumah bagi siapapun,” kata Gusti Arirang, panitia Pesta Boneka, Jumat 2 Desember.

Menurutnya, seniman akan menyampaikan pesan tentang rumah dari berbagai karya seni dan pertunjukan selama festival berlangsung. Bentuknya mulai dari pertunjukan teater boneka, workshop dan presentasi, pameran, memasak bersama dan juga pemutaran film.

Terdapat seniman dari 8 negara di antaranya Prancis, Inggris, Belanda, Philipina, Jepang dan Thailand serta Indonesia mengisi festival tersebut.

'Pesta Bonekau0022 tahun ini diadakan di dua tempat di Yogyakarta. Di PKKH UGM dan Dusun Kepek, Bantul. Foto oleh Papermoon Puppet Theatre.

'Pesta Bonekau0022 tahun ini diadakan di dua tempat di Yogyakarta. Di PKKH UGM dan Dusun Kepek, Bantul. Foto oleh Papermoon Puppet Theatre.

“Sebenarnya ada satu peserta lagi asal Afganistan, yaitu Ahmad Nasir. Beliau akan memberikan seminar tentang pengalaman bom bunuh diri yang terjadi pada salah satu pertunjukannya. Sayangnya beliau tidak mendapatkan visa untuk datang ke Indonesia,” katanya.

Festival terbuka bagi siapapun yang ingin masuk dan menikmati pameran serta instalasi interaktif milik salah satu peserta asal Indonesia. Namun untuk menikmati pertunjukan teater, terdapat tiket masuk sebesar Rp 35 ribu yang bisa dibeli di lokasi.

Gusti menyebut, festival kali ini semakin beragam dalam peserta dan karya seni yang ditampilkan. Di tahun 2008, festival yang berlangsung hanya berisi pertunjukan boneka sebanyak 100 persen.

Berikutnya, festival ke dua di tahun 2010 porsi berubah dengan masuknya workshop sebesar 10 persen dan pameran sebanyak 25 persen. Festival ke tiga di tahun 2012 komposisi acaranya berubah dengan pementasan sebanyak 55 persen, pameran 35 persen dan workshop 15 persen.

Pameran boneka karya Papermoon Puppet Theatre dari pentas bertajuk 'Setjangkir Kopi dari Plaja' digelar di Greenhost Hotel, Prawirotaman, Yogyakarta, Kamis, 1 Desember. Foto oleh Dyah A. Pitaloka/Rappler.com.

Pameran boneka karya Papermoon Puppet Theatre dari pentas bertajuk 'Setjangkir Kopi dari Plaja' digelar di Greenhost Hotel, Prawirotaman, Yogyakarta, Kamis, 1 Desember. Foto oleh Dyah A. Pitaloka/Rappler.com.

Sedangkan di tahun 2014 pameran digantikan dengan kegiatan cooking, memasak bersama lintas komunitas dan peserta. Jumlah pengunjung juga terus meningkat mencapai 3000 pengunjung di tahun 2014.

“Kali ini festival terasa lebih beragam dari peserta, karya seni dan juga dari pengunjungnya,” ujarnya.

Festival akan ditutup dengan rangkaian kegiatan yang bertempat di Dusun Kepek, Timbulharjo, Sewon Bantul pada 4 Desember 2016.-Rappler.com.