SBY merasa terhina dan direndahkan oleh para penyebar berita hoax

JAKARTA, Indonesia - Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono mengaku terhina dan direndahkan oleh pihak-pihak tertentu yang telah menyebarkan berita hoax soal keterlibatannya dalam beragam aksi pengerahan massa. Dua yang dicatat oleh SBY yakni soal tuduhan bahwa dia telah mendanai dan menunggangi Aksi Damai 4 November 2016 serta ikut terlibat gerakan makar untuk menggulingkan pemerintahan yang sah.

“Terus terang saya merasa terhinda dan direndahkan oleh para mastermind, pembisik dan juru fitnah tersebut. Dalam perjalanan hidup saya, hampir 30 tahun saya mengabdi di lingkungan TNI untuk menjaga tegaknya sang merah putih dengan tebusan jiwa dan raga,” ujar SBY ketika berpidato di acara Dies Natalis 15 tahun Partai Demokrat pada Selasa malam, 7 Februari di JCC.

Presiden keenam RI itu menganggap para penyebar berita hoax sangat keji telah memviralkan informasi yang tidak bertanggung jawab di media sosial. SBY juga mengaku pernah dituding berada di balik rencana pemboman Istana Merdeka, tempatnya dulu tinggal bersama keluarga selama 10 tahun.

Penyebar berita hoax itu dianggap pengecut karena menyebarluaskan selebaran-selebaran tanpa identitas asli soal siapa pembuatnya.

Yang terbaru, ketika ratusan mahasiswa yang datang menggeruduk ke kediamannya di kawasan Mega Kuningan pada Senin sore, 6 Februaru. Ratusan mahasiswa itu ujar SBY konon sudah diprovokasi dan diagitasi dari kawasan Bumi Perkemahan di Cibubur di mana mereka tengah melakukan kegiatan jambore.

“Sangat menyedihkan jika forum dan kawasan terhormat itu dikotori oleh tangan-tangan hitam yang melakukan agitasi dan propaganda untuk menghancurkan lawan-lawan politiknya. Para mahasiswa itu dicekoki dengan provokasi bahwa SBY adalah perusak negara, oleh sebab itu harus ditangkap. Naudzubillah. Siapa yang merusak negara?” kata SBY.

Dia pun mengajak kepada seluruh kader Partai Demokrat yang ikut hadir untuk tetap kuat, tegar dan sabar. SBY turut meminta kepada para kadernya untuk mengembalikan kehormatan dan harga diri Partai Demokrat terlebih dahulu.

Dukung pemerintah atur media sosial

Namun, di sisi lain, SBY mendukung langkah pemerintahan Presiden Joko “Jokowi” Widodo untuk mengatur dan menertibkan penyimpangan di media sosial. Sebab, dia mengaku menjadi korban dari beragam fitnah yang disebar luaskan melalui medium tersebut.

“Kita sedih karena media sosial yang seharusnya ikut mencerdaskan kehidupan bangsa sering didominasi oleh kalangan yang kurang beradab (uncivilized),” katanya.

SBY berharap penertiban penyimpangan di media sosial dilakukan dengan cara-cara yang tidak menyimpang, konstitusional dan adil. Kata adil ini menurut SBY penting, karena diduga selama ini yang ditindaklanjuti adalah orang-orang yang menyampaikan pernyataan tak menyenangkan terhadap pemerintah.

“Mereka langsung ‘dihajar’ oleh the invisible group, sebuah kekuatan yang tidak kenatara. Saya adalah salah satu dari korban ‘the invisible group’ itu,” tutur SBY. - Rappler.com