Polresta Denpasar gandeng tokoh agama untuk amankan perayaan Natal

DENPASAR, Indonesia - Jelang perayaan Natal dan Tahun Baru, Polresta Denpasar mengadakan pertemuan dengan para tokoh masyarakat dan tokoh agama. Salah satu tujuannya untuk mengevaluasi keamanan.

Wakapolresta Denpasar, Ajun Komisaris Besar Nyoman Artana mengatakan di wilayah hukum pihaknya terdapat 100 gereja yang tersebar di Denpasar, Kuta, dan Kuta Selatan. Artana mengatakan untuk pengamanan saat Natal, polisi akan menurunkan 1.200 personil. Angka itu akan ditingkatkan menjadi 2.200 personil saat perayaan Tahun Baru mendatang.

Sejauh ini ada 10 gereja besar di wilayah hukum Polresta Denpasar yang menjadi atensi khusus mereka. Tetapi, dia enggan menyebut nama gereja-gereja itu demi alasan keamanan.

“Yang jelas (10 gereja) akan lebih diberikan prioritas,” ujar Artana yang ditemui di Mapolresta Denpasar pada Senin, 19 Denpasar.

Selain tempat ibadah, polisi juga akan memberikan pengamanan di tempat-tempat pariwisata. Salah satunya di wilayah Kuta. Seperti di tahun-tahun sebelumnya, area Ground Zero dan Pantai Kuta selalu dijejali wisatawan saat malam pergantian tahun.

Area bandara, pelabuhan dan terminal turut mendapat perhatian khusus.

“Ada banyak masyarakat Denpasar yang akan meninggalkan Bali untuk merayakan Natal sekaligus menikmati cuti panjang di luar. Sementara, orang-orang dari luar akan menikmati liburan Natal dan Tahun Baru di Bali,” tuturnya.

Artana juga mengingatkan kepada warga Bali untuk tetap waspada dengan ancaman teroris yang belakangan sering terjadi. Salah satunya, kata Artana, penemuan bom panci di daerah Bintara Jaya, Bekasi. Sebagai daerah wisata yang kerap didatangi oleh turis asing, Bali berpotensi menjadi sasaran. Apalagi provinsi yang kerap dijuluki Pulau Dewata itu sudah dua kali kena target pemboman besar yang menewaskan ratusan orang.

Jangan bawa tas ukuran besar

Ketua Persekutuan Gereja-gereja Pantekosta Indonesia (PGPI) Bali, Jonathan Soeharto mengimbau umat Kristiani yang merayakan Natal di Bali tidak membawa tas berukuran besar ketika ibadah di gereja. Menurut dia, agar menumbuhkan kenyamanan para jemaat lainnya, sehingga tidak menimbulkan kecurigaan.

“Saran saya mereka bawa tas secukupnya, seperlunya. Kalau dalamnya (terdapat) Al Kitab, maka bawa tas seukuran itu saja,” kata Jonathan.

Sejauh ini, pihak gereja belum menerima adanya aduan terkait keamanan jelang perayaan Natal.

“Tidak ada hal-hal yang terlalu mencolok, cuma isu-isu saja. Biasa, zaman (publik menggunakan) medsos ini kan orang gampang sekali menyebarkan teror-teror,” katanya.

Walau begitu, pihaknya tetap menginginkan peningkatan keamanan untuk kenyamanan umat dalam menunaikan ibadah saat Natal. Pria yang membawahi 83 sinode itu juga sempat mengusulkan kepada pihak kepolisian terkait peningkatan pasukan keamanan yang melakukan menyamar tanpa menggunakan pakaian dinas. Menurut, Jonathan hal itu diperlukan karena teroris semakin mahir untuk mengelabui aparat keamanan.

“Jadi, harus lebih cerdik lagi dari mereka. Maka polisi (menyamar) yang berpakaian ibadah memantau keamanan. Siapa pun orang yang datang (ke gereja) baik itu pendeta, jemaat, dikenal atau tidak, jangan terlewatkan,” kata dia. - Rappler.com