Ramadan Yummy: Rahasia di balik bubur pedas Aceh

PIDIE,  Indonesia — Selain kopi dan mienya yang khas, Aceh ternyata juga memiliki makanan lain yang tak kalah unik: Ie Bu Peudah.

Ie Bu Peudah adalah bubur dengan rasa pedas yang diracik dari 44 dedaunan. Bubur ini hanya bisa dinikmati selama bulan Ramadan di Aceh.

"Disebut daunnya ada 44, sebenarnya lebih dari itu,” kata Marzuki, 51 tahun, kepada Rappler, Kamis 8 Juni 2017. Marzuki adalah salah satu pembuat setia Ie Bu Peudah.

Hari itu ia bersama tiga rekannya membuat Ie Bu Peudah di belakang Masjid Guci Rumpong Peukan Baro, Pidie, Aceh. Rappler mengikuti bagaimana bubur pedas Ie Bu Peudah ini dibuat.

Pertama-tama, Marzuki bersama tiga rekannya menyiapkan belanga besar. Belanga tersebut dipanaskan di atas tungku dengan kayu bakar.

Asap yang membumbung dari tungku membuat Marzuki harus berulangkali menyeka kedua matanya. Setelah api membesar dan belanga cukup panas, Marzuki lalu menuangkan air ke dalam belanga.

Lalu, bubuk yang terbuat dari 44 dedaunan dimasukkan ke dalam belanga setelah air mendidih. Marzuki mengatakan dirinya tidak semua hafal nama-nama dedaunan tersebut, hanya beberapa saja.

Yang pasti, kata Marzuki, bubuk dedaunan itu adalah bahan utama untuk membuat Ie Bu Peudah. Ia juga mengatakan jika ke-44 dedaunan tersebut  telah mengalami proses panjang sebelum dijadikan bahan utama pembuat Ie Bu Peudah.

Daun-daun tersebut mereka cari sebelum Ramadan, lalu dikeringkan dengan cara dijemur di bawah terik matahari. Pengeringan ini bisa memakan waktu hingga 15 hari.

Setelah kering, daun-daun tersebut kemudian ditumbuk hingga menjadi bubuk halus. Penghalusan dedaunan itu tidak bisa menggunakan mesin karena akan mengurangi kadar seratnya. 

Bubuk inilah yang dituangkan ke belanga. Beberapa menit kemudian, aroma bubuk mulai menyengat. Marzuki segera menuangkan kunyit yang dihaluskan dan dilanjutkan lada dan garam.

Proses memasak Ie Bu Peudah ini berlangsung selama sekitar satu jam. Berbeda dengan bubur khas Aceh lainnya yang cenderung manis, le Bu Peudah justru terasa pedas di lidah.

Marzuki sendiri salah satu pembuat le Bu Peudah yang setia. Bayangkan saja, ia telah menjadi koki Ie Bu Peudah di desanya dalam 10 tahun terakhir. 

Ia memperoleh resep dan ilmu membuat le Bu Peudah dari orang tua terdahulu. "Jadi sudah turun-temurun," ucapnya pelan sambil mengaduk Ie Bu Peudah yang sudah masak. 

Menjelang asar, bubur pedas itu pun matang. Warga datang untuk mengambilnya secara gratis. Tidak hanya warga desa setempat yang kebagian, tapi juga warga desa tetangga pun turut mendapatkan jatah.

Sayangnya, kini tak banyak desa yang memasak Ie Bu Peudah saat Ramadan. Hal ini lantaran cara pembuatannya yang sulit. Apalagi harus menyiapkan bubuk 44 dedaunan terlebih dahulu.

"Saya akan meneruskan resep Ie Bu Peudah ini untuk generasi selanjutnya," ujar Marzuki sambil menuangkan bubur kepada warga yang berdatangan mengambil Ie Bu Peudah. —Rappler.com