Provide your email for confirmation

Tell us a bit about yourself

country *
province *

why we ask about location

Please provide your email address

Login

To share your thoughts

Don't have an account?

Login with email

Check your inbox

We just sent a link to your inbox. Click the link to continue signing in. Can’t find it? Check your spam & junk mail.

Didn't get a link?

Sign up

Ready to get started

Already have an account?

Sign up with email

By signing up you agree to Rappler’s Terms and Conditions and Privacy

Check your inbox

We just sent a link to your inbox. Click the link to continue registering. Can’t find it? Check your spam & junk mail.

Didn't get a link?

Join Rappler+

How often would you like to pay?

Monthly Subscription

Your payment was interrupted

Exiting the registration flow at this point will mean you will loose your progress

Your payment didn’t go through

Exiting the registration flow at this point will mean you will loose your progress

'Dunkirk': Melawan keniscayaan sejarah

JAKARTA, Indonesia — Kita cenderung melihat sejarah sebagai rangkaian kejadian yang selalu akan terjadi, seperti takdir yang tak terelakkan. Kita sering lupa bahwa orang-orang yang hidup pada masa lalu tidak mengalaminya seperti itu. Bahwa bagi mereka, setiap perkembangan baru sama seperti hari esok untuk kita: mengejutkan dan tidak terduga.  

Perasaan itulah yang berhasil ditimbulkan oleh sutradara kawakan Christopher Nolan dalam film terbarunya, Dunkirk.

Dunkirk berkisah tentang salah satu kejadian terpenting dalam Perang Dunia II, dan karena itu, salah satu kejadian terpenting dalam sejarah modern. Pada akhir Mei 1940, 400,000 tentara Inggris yang dikirim untuk mempertahankan Prancis dari serangan Nazi Jerman terjebak di pantai Dunkirk. Pasukan Nazi sudah mengelilingi mereka. Pasukan Sekutu berada di ambang kemusnahan, dan Perang Dunia II bisa berakhir kurang dari setahun setelah dimulai.

Karena semua orang tahu bahwa Sekutu pada akhirnya memenangkan perang, seharusnya film ini tidak lagi menegangkan. Pasukan Inggris tidak mungkin binasa di Dunkirk karena mereka ikut merebut kembali Prancis dari tangan Nazi pada D-Day. Akhir dari film ini dapat ditebak sejak awal. Tapi di bawah arahan Nolan, dengan bantuan skor yang mencekam dari komposer ternama Hans Zimmer, penonton tetap di ujung kursi sepanjang film.

Fokus yang sempit tapi tajam

Sebuah film yang berbeda mungkin akan menceritakan mukjizat di Dunkirk ini dengan menunjukkan perundingan Winston Churchill dan pejabat-pejabat Inggris lainnya tentang bagaimana memulangkan pasukan mereka. Atau dengan memperlihatkan perdebatan Hitler dan jenderal-jenderalnya tentang bagaimana menghabisi tentara yang terjebak itu. Atau dengan warga Inggris di rumah yang dengan cemas menunggu kabar dari Prancis.

Tapi Dunkirk adalah film dengan fokus yang sangat sempit dan tajam: hanya mereka yang terlibat langsung dalam evakuasi yang ditunjukkan di layar. Dengan begitu, kita dapat merasakan ketegangan dan ketidakpastian yang mereka alami. Tidak pernah ada waktu lenggang atau eksposisi yang berlebih.

Dialog yang diberikan kepada para pemeran pun sangat minim. Prajurit yang jadi karakter utama, yang dimainkan oleh Fionn Whitehead, bahkan tidak pernah disebut namanya sepanjang film. Sama juga dengan karakter yang diperankan oleh Harry Styles. Tom Hardy hanya diberikan sekitar 10 baris untuk diucapkan.

Dunkirk tidak mencoba untuk memanipulasi emosi penonton dengan screenplay sentimentil yang mencoba menyentak air mata. Tapi ketika akhirnya kapal-kapal kecil yang dikemudikan warga sipil tiba di pantai untuk menjemput para tentara, hati tetap terenyuh. Karena selama lebih dari satu jam, kita juga serasa mengalami kekhawatiran dan stres yang dialami para prajurit yang menunggu mereka.

Menuturkan cerita secara visual

Salah satu yang mungkin dikritik oleh orang adalah minimnya “cerita” yang ditunjukkan dalam film ini. Selain dialog yang minimalis, karakter-karakter dalam Dunkirk juga tidak diberikan latar belakang, kecuali sedikit untuk Mr. Dawson yang diperankan oleh Mark Rylance.

Tetapi kritik semacam ini melupakan bahwa film adalah media yang visual. Cerita dalam film tidak hanya dalam bentuk dialog atau kata-kata. Cerita dapat disampaikan secara visual, melalui ekspresi wajah, gestur tubuh, dan lirikan mata.

Banyak yang akan membandingkan Dunkirk dengan film Perang Dunia II lainnya seperti Saving Private Ryan atau The Thin Red Line. Tapi film yang paling mirip dengan Dunkirk dalam filosofi berceritanya adalah Mad Max: Fury Road yang disutradarai oleh George Miller.

Sama seperti Mad Max, Dunkirk adalah sebuah pengalaman sinematik yang menerapkan ekonomi dalam kata-kata dan tidak pernah membuang kesempatan untuk bercerita melalui media visual. Dan karena itu Dunkirk adalah film musim panas paling seru dan paling tidak boleh dilewatkan sejak Mad Max dirilis pada tahun 2015.

Yang lama menjadi baru kembali

Kalau ditanya apa sebenarnya yang terjadi dalam film Dunkirk, jawabannya adalah Dunkirk-lah yang terjadi. Sebuah peristiwa yang terjadi 77 tahun menjadi sesuatu yang bisa kita saksikan di layar lebar secara real-time. Kita bisa mengalami kembali sebuah kejadian yang membentuk dunia menjadi seperti yang kita ketahui saat ini dan merasakan kecemasan bahwa mungkin saja, semuanya tidak akan berakhir bahagia. —Rappler.com