'Ferdinand': Tentang persahabatan dan pesan anti kekerasan

JAKARTA, Indonesia —Menyambut libur panjang sekolah akhir tahun, film animasi produksi Blue Sky Studios dan 20th Century Fox Animation berjudul Ferdinand akan turut meramaikan bioskop Indonesia di penghujung tahun ini.

Film yang memiliki latar belakang negara Spanyol  ini menceritakan seekor anak banteng, Ferdinand, yang berperilaku tidak seperti  banteng pada umumnya. Saat anak banteng lainnya berlatih tarung sejak dini, Ferdinand memilih untuk merawat bunga yang ia suka. Ia memiliki alasan sendiri dibalik keputusannya itu, karena ia tidak suka dengan kekerasan.

Dalam film itu diceritakan bahwa setiap banteng sangat mendambakan menjadi seekor banteng adu yang akan bertanding dengan seorang matador. Mereka akan merasa sangat hebat saat terpilih menjadi banteng yang akan bertarung dengan matador.

Suatu hari, ayah Ferdinand terpilih menjadi banteng yang akan diadu dengan matador. Ferdinand merasa sedih karna akan ditinggal sang ayah. Namun ayahnya meyakinkan Ferdinand, sang ayah akan kembali dan mengalahkan sang Torero.

Kisah persahabatan

Setelah ayahnya tidak kunjung pulang dari pertandingan melawan matador, Ferdinand memilih untuk melarikan diri dari penangkaran di mana ia tinggal. Ia berusaha melarikan diri dan berhasil lolos dari kejaran penjaga. Dalam pelariannya, Ferdinand terjatuh dan pingsan.

Diselamatkan oleh keluarga pembudidaya bunga, awalnya Ferdinand takut. Karena sebelumnya ia belum pernah berinteraksi secara langsung dengan manusia layaknya hewan peliharaan. Melihat anak dari keluar yang menyelamatkannya itu, Ferdinand merasa senang karena ia baik. Anak itu Nina namanya.

Nina dan Ferdinand bersahabat hingga mereka tumbuh besar. Segalanya mereka lakukan bersama, bermain hingga tidur. Ke manapun Nina pergi, Ferdinand selalu diajak. Seakan mereka berdua tidak terpisahkan. Ferdinand berhasil keluar dari lingkungan pertarungan banteng yang sebelumnya ia rasakan hingga harus kehilangan ayahnya.

Malapetaka terjadi saat ada festival bunga di kota. Awalnya ayahnya Nina tidak mengizinkan Ferdinand ikut. Karena saat itu banteng berhati lembut itu sudah besar. Dan bisa menakuti orang-orang yang hadir dalam festival tersebut. Akhirnya Ferdinand nekat untuk datang sendiri ke festival itu. Ia merasa sangat senang karena melihat berbagai bunga yang cantik di sana. Namun ia tiba-tiba tersengat lebah, mengamuk karena kesakitan dan mengacaukan acara festival. Alhasil ia ditangkap dan dikembalikan di penangkaran di mana ia dulu tinggal.

Di sana ia menemui sahabat barunya, Lupe namanya. Ia adalah seekor kambing yang terobsesi untuk menjadi pelatih banteng petarung yang hebat. Namun itu tidak sepaham dengan prisip Ferdinand yang tidak suka kekerasan. Di sana juga, ia bertemu dengan banteng-banteng teman lamanya.

Merasa gagal melatih Ferdinand untuk menjadi banteng petarung yang hebat, Lupe akhirnya sepakat untuk membantu Ferdinand keluar dari penangkaran untuk kembali ke keluarga Nina. Setelah segala upaya dan usahanya, Ferdinand berhasil mengeluarkan seluruh teman lamanya yang akan menjadi banteng petarung.

Ferdinand  melakukan itu karena ia merasa banteng yang bertarung dengan matador tidak akan menang. Ia berhasil menyelamatkan teman-temannya dan kembali bertemu dengan Nina.

Kritik pada budaya

Adu banteng sudah menjadi budaya dalam negara Spanyol. Tiap tahunnya selalu diadakan festival adu banteng dalam negara yang memiliki julukan Negeri Matador itu. Tidak sedikit banteng yang menjadi korban dalam budaya itu. Dari luka-luka , hingga kematian dari banteng itu sendiri. Dikarenakan itu sudah menjadi budaya di sana, kematian banteng dalam festival sudah menjadi hal yang biasa.

Film ini mencoba untuk mengubah pemikiran penonton yang melihatnya. Tentang bagaimana adu banteng hanya dilakukan untuk mencari kesenangan semata. Pesan anti kekerasan pun turut tersaji di film ini. Tercermin dari sifat Ferdinand yang tidak suka kekerasan dan saat diminta untuk bertarung selalu menghindar.

Sayang, meski cukup menghibur, ada beberapa kejanggalan cerita dalam film ini. Yang pertama, sosok ibu Ferdinand yang tidak pernah dikisahkan. Yang ada hanya sosok ayahnya saja. Yang kedua adalah saat Ferdinand ditemukan oleh keluarga pembudidaya bunga, ia bersahabat dengan Nina. Saat ditemukan oleh keluarga itu, Ferdinand masih kecil. Namun, saat Ferdinand tumbuh besar, Nina tidak menunjukkan pertumbuhan yang sesuai dengan Ferdinand.

Apapun itu, secara garis besar film ini sangat menarik untuk ditonton terutama bersama keluarga dan anak-anak. Ferdinand siap tayang di bioskop Tanah Air mulai 15 Desember 2017. —Rappler.com