'Stip & Pensil': Pelajaran mendalam dalam kemasan komedi

JAKARTA, Indonesia - Sekilas tidak ada yang terlihat spesial dari film Stip & Pensil. Setelah sukses dengan filmnya Cek Toko Sebelah, Ernest Prakasa kembali tampil untuk mencuri hati para penonton lewat aksi dan lelucon lucu yang ia tawarkan. Tidak ada banyak ekspektasi untuk film ini karena sudah jelas tujuannya hanya menghibur. Namun siapa sangka film komedi ini justru memiliki makna yang mendalam tentang masalah sosial Indonesia?

Stip & Pensil menceritakan tentang 4 orang sahabat SMA berlatar belakang kaya raya yang terdiri dari, Toni (Ernest Prakasa), Agi (Ardit Erwandha), Bubu (Tatjana Saphira), dan Saras (Indah Permatasari). Dimulai dari tantangan yang diberikan guru mereka (Pandji) untuk membuat sebuah essay tentang kesenjangan sosial disertai dengan tekanan, keempat sahabat ini memberanikan diri untuk melakukan observasi anak jalanan di tempat kumuh. Untuk menjaga reputasi mereka, Toni Cs tidak sengaja berjanji akan membangun sekolah untuk para anak jalanan yang tinggal di kolong jembatan tersebut.

Dari situlah kesadaran mereka akan pentingnya pendidikan untuk anak mulai tumbuh. Mereka pun berhenti memfokuskan proyek ini untuk reputasi semata dan mulai memikirkan cara agar anak-anak jalanan tersebut bersedia belajar demi masa depan yang cerah.

Premis sederhana namun berisi

Premis film ini memang terdengar sederhana, namun di dalamnya terdapat potret urban yang begitu realistis. Contohnya adalah para orang tua anak jalanan yang menganggap pendidikan hanyalah sebuah cara untuk membuang-buang waktu. Mereka tidak malu untuk mengambil barang-barang yang disediakan Toni Cs di dalam sekolah kecil yang mereka bangun untuk dijual kembali.

Kemudian ada juga potret realistis yang di ambil dari sudut pandang anak remaja masa kini yang sangat peduli dengan reputasi dan tekanan teman-teman sebayanya sehingga mereka lupa diri. Tidak lupa film ini juga menyelipkan sedikit unsur politik yang diadaptasi dari kisah nyata, tentang penggusuran dan relokasi ke rumah susun, salah satu contohnya.

Film ini mencoba untuk menyelipkan pesan mendalam melalui lukisan keseharian bagian masyarakat yang jarang terdeteksi oleh kalangan menengah. Dikemas secara ringan dengan berbagai "celetukan" ala jaman sekarang, film ini diharapkan mampu menginspirasi siapapun yang menontonnya. Disutradarai oleh Ardy Octaviand, skenario film ini sesungguhnya ditulis oleh sutradara handal, Joko Anwar. 

Joko Anwar, dalam gala premiere Stip & Pensil di Plaza Indonesia pada 18 April, mengakui pada awalnya Ardy hanya secara tidak sengaja menemukan file skenario Stip & Pensil yang sudah lama tersimpan di komputer milik Joko dan langsung jatuh cinta pada ceritanya. 

Komedi yang terlalu biasa

Ditemui dalam kesempatan yang sama, Ernest Prakasa mengaku dirinya diminta untuk mengembangkan bagian komedi dari cerita milik Joko Anwar ini. Ia dibantu kedua rekannya menyelipkan banyak lelucon yang ternyata hasil dari banyak improvisasi. Hanya saja, kebanyakan lelucon yang ada di film komedi ini terkesan sangat biasa.

Singkatnya, jika Anda berharap mendapatkan lelucon yang pintar, film ini bukan tempatnya. Seperti yang sering kita lihat di acara maupun film-film komedi Indonesia, banyak sekali joke yang mengandung unsur ejekan, baik mengenai fisik seseorang atau stereotip etnis tertentu. Sangat disayangkan film yang bernilai moral tinggi harus dibayang-bayangi lelucon yang sangat standar. 

Kelebihan dari sisi komedi film ini justru datang dari tokoh-tokoh pendukungnya seperti tokoh yang diperankan Arie Kriting dan karakter anak jalanan berdarah Batak, Iqbal Sinchan (Ucok). Aksi dan lelucon jenaka yang mereka sampaikan lewat film ini justru terkesan lebih natural dibanding keempat pemeran utamanya. Sang sutradara sendiri mengakui bahwa dalam eksekusinya, film ini dipenuhi dengan improvisasi.

"Banyak sekali improvisasi dalam pembuatan film ini. Seperti Pandji, dia hanya saya beri arahan dan akhirnya mengimprovisasi sendiri setelah baca skrip. Saya ingin setiap aktor diberikan ruang untuk berkreasi," jelas Ardy di acara yang sama.

Sayang, bukannya mengubah film ini menjadi komedi yang natural, terlalu banyaknya improvisasi dan komedi situasi membuat Stip & Pensil melenceng dari apa yang sudah ada di premise utama. 

Editing yang berantakan

Produser Manoj Punjabi menjelaskan bahwa film ini mengalami pemotongan adegan selama 30-40 menit. Namun tetap saja untuk film komedi, durasi hampir dua jam terasa begitu bertele-tele. Kadang kala film ini terlihat seperti kehilangan arah dalam menyusun adegan secara kronologis.

Belum lagi ditambah penyelipan unsur percintaan remaja yang sebetulnya sama sekali tidak ada urgensi dan resolusinya. Hal yang nampak banyak dipotong justru adegan yang seharusnya dapat menyentuh hati penonton, seperti saat seorang anak jalanan yang sangat berniat untuk belajar meski tidak dibayar.

Jika anak tersebut mendapatkan lebih banyak sorotan, emosi dan pesan dari film ini pasti akan lebih tersampaikan. Banyak pula pergantian adegan yang terkesan tidak mulus sehingga dapat terlihat lubang yang ditinggalkan oleh sistem pengeditan.

Menghibur dan memotivasi

Tatjana Saphira menambahkan, "Tujuan utama film ini memang untuk menghibur dengan joke seru, cerita fresh, premis unik, tontonan menarik, cerita ramah yang disajikan untuk semua umur."

Untungnya apa yang disampaikan Tatjana tetap ada benarnya. Terlepas dari segala kekurangannya, film ini tetap menjadi film yang menghibur dan menginspirasi. Disajikan secara ringan, film ini tetap berhasil menyampaikan potret kesenjangan sosial di Ibukota dan mungkin membuka mata untuk lebih peduli terhadap sekitar. 

Film Stip & Pensil tayang mulai 19 April 2017 di bioskop terdekat. -Rappler.com