'The Seen and Unseen': Terinspirasi dari adat Sekala Niskala di Bali

YOGYAKARTA, Indonesia —The Seen and Unseen atau Sekala Niskala turut diputar dalam gelaran Jogja-NETPAC Asian Film Festival ke 12. Film kedua karya Kamila Andini tersebut berkisah tentang kekerabatan yang erat antara Tantri dan Tantra, anak kembar yang lahir dan tinggal di sebuah pedesaan di Bali.

Di antara kekerabatan tersebut, ada pula hubungan mereka dengan hal-hal yang tak kasat mata dan bulan purnama. Film dengan proses menulis sejak 2011 itu diselesaikan dalam waktu 12 hari dan melibatkan sekitar 10 pemain anak-anak dengan kemampuan gerak tubuh yang memesona.

Tantri, bocah berusia 10 tahun adalah kembaran Tantra, yang harus dirawat di rumah sakit akibat penyakit yang menggerogoti kemampuan otaknya. Tantri selalu berada di samping Tantra. Membawa keceriaan, mengajak Tantra bermain musik, menari dengan kostum ayam dari janur, atau menanam sebatang padi. Semua dilakukan di rumah sakit di tempat Tantra dirawat.

Lambat laun kesehatan Tantra semakin menurun dan tak bisa lagi bangun untuk membalas sapaan Tantri. Namun kekerabatan emosional anak kembar tersebut tak hanya terlihat di permukaan saja.

Di saat malam, di bawah bulan purnama, Tantri menjelma riang, bermain dan menari dengan mahluk tak kasat mata, mengisahkan tentang hidupnya kepada bulan dan Tantra. Ketika siang tiba, Tantri kembali bertemu dengan kenyataan dan Tantra yang tak berdaya dan tergolek di tempat tidur rumah sakit.

Melewati proses panjang

“Film ini dibuat dengan proses yang panjang. Penulisannya dimulai tahun 2011 ketika saya tertarik untuk melihat apapun dalam perspektif anak-anak, kemudian dalam perjalanannya, saya menikah dan menjadi ibu dari dua anak. Saya menjadi orang yang berbeda.  Kemudian saya ingin mengeksplor antara yang terlihat dan yang tak terlihat, deep connection dalam kembar buncing (kembar laki-laki dan perempuan) dan saya menempatkan konteks ini di Indonesia,” kata sutradara film, Kamila Andini usai pemutaran film the Seen and Unseen di Empire XX1 Selasa, 5 Desember 2017.

Menurutnya, dia berhutang pada proses yang panjang dalam penyelesaian tersebut. Di mana banyak orang terlibat dengan ekspresi masing-masing. Baginya, perjalanan yang panjang  menjadi kekuatan dan keunikan film tersebut. “Proses itu yang harus dijalani sehingga film ini jadi seperti ini," terangnya.

Bali dipilih karena tradisi antara yang kasat mata dan yang tidak masih terjaga dengan baik dalam keseharian. "Sebenarnya konsep yang kasat mata dan yang tidak bukan mendefinisikan hanya Bali, tetapi juga Indonesia. Tetapi di Bali semuanya sangat nyata di keseharian," lanjutnya. Setting itu pun kemudian menemukan bulan sebagai kalender yang turut mengatur keseharian masyarakat Bali.

Film yang menggabungkan berbagai simbol dalam semesta kepercayaan serta unsur mistis kemudian dibawakan dengan sempurna oleh akting dan tarian anak-anak di banyak adegan dalam film.

Aksi koreografer Tantri, yang diperankan oleh Thaly Titi Kasih di sepanjang film seolah membawa penonton terseret masuk dalam dunia mistisnya. Tata musik dan sinematografi menambah kesan gelap dan misterius serta menyisakan tanda tanya hingga membuat penonton yang memenuhi salah satu studio Empire XX1 tak beranjak dari kursi hingga film usai diputar.

Kamila mengakui, sempat kesulitan mencari pemeran anak-anak untuk mengisi plot Tantri. Dibutuhkan waktu 1 tahun khusus untuk mencari bakat anak dengan kemampuan gerak tubuh sekaligus olah vokal memadai.

Nama Thaly Titi Kasih pun baru ditemukan di waktu yang hampir bersamaan dengan dimulainya proses syuting film. “Tantanganya adalah mengumpulkan mereka ke mood atau ritme yang sebenarnya bukan mood anak anak (mistis). Tetapi anak anak ali sebenarnya sangat biasa dengan hal yang mistis dalam keseharian, bahkan lebih paham daripada saya. Tapi yang cukup sulit adalah menemukan anak anak dengan olah tubuh yang cukup bagus tapi juga dengan ekspresi yang cukup dalam," tandas Kamila.

Kesulitan lain juga diakui oleh sinematografer film, Anggi Frisca. Menurutnya film tersebut menantang perempuan yang juga sutradara dari film dokumenter Negeri Dongeng itu, untuk belajar mencari nafas dalam tari dan menggabungkan dengan bulan purnama.

“Tantangan bagi saya adalah menggabungkan anak kecil dengan setting purnama dan menari. Saya belajar untuk mencari nafas dalam tariannya dan bagaimana menerangkan purnama dalam gelap,” katanya.

Menuai apresiasi

Ada banyak apresiasi yang muncul dari pegiat perfilman di Indonesia. Joko Anwar yang ikut hadir dalam pemutaran film tersebut menyatakan kekagumannya dengan peran dan aksi koreografer Tantri serta adegan tari di bagian penutup film, yang terlihat sangat emosional.

FOTO BERSAMA. Sutradara dan kru film 'The Seen and Unseen' berfoto bersama dengan penonton di studio Empire XX1 Yogyakarta Selasa, 5 Desember 2017. Foto oleh Dyah A.

Pitaloka/Rappler

Kekaguman juga disampaikan oleh Reza Rahadian yang turut menjadi juri dalam kategori Light of Asia di JAFF. Menurutnya, The Seen and Unseen adalah salah satu film terbaik di tahun ini. Elemen di dalam film disampaikan dengan detil namun tetap indah dan disebutnya poetic. Hubungan antara adik dan kakak juga diceritakan dengan cara yang indah.

“Telur sebagai simbol kehidupan digambarkan lewat film ini melalui hubungan adik dan kakak yang begitu indah. Tidak over dramatic, tidak mellow, tapi sangat dramatis. Saya rasa ini yang membuat film ini adalah film terbaik di tahun ini yang pernah saya tonton,” katanya ditemui di tempat yang sama.

Reza juga sangat mengapresiasi akting anak-anak di film tersebut. “Anak-anak bermain sangat luar biasa. Tepat sekali jika Tempo memberikan penghargaan pada salah satu dari dua pemeran anak di film itu. Mereka berdua bermain sangat brilian sekali,” tandasnya.

Film The Seen and Unseen sendiri telah meraih sejumlah penghargaan, di antaranya dari Tokyo Filmex 2017, serta Best Youth Film di ajang Asia Pasific Screen Award. Meski hingga kini belum ada tanggal resmi rilis film ini di bioskop Tanah Air, namun direncanakan The Seen and Unseen akan tayang 2018 mendatang. 

—Rappler.com