Screenplay Films hidupkan kembali urban legend 'Jailangkung'

JAKARTA, Indonesia - Setelah 16 tahun berlalu, film horor Jelangkung yang sempat meraih sukses di box office dihidupkan kembali oleh rumah produksi Screenplay Films. Film yang diberi judul Jailangkung itu merupakan racikan duo sutradara yang sama yakni Rizal Mantovani dan Jose Purnomo.

Jailangkung bukan merupakan film prequel atau sekuel dari Jelangkung dan Tusuk Jelangkung. Rizal dan Jose memutuskan untuk membuat kisah baru dan berbeda dari cerita yang disajikan ke penonton 16 tahun lalu.

“Jika di film sebelumnya berkisah anak-anak muda yang iseng bermain boneka jelangkung, maka kali ini film fokus ke cerita keluarga, di mana ayahnya ditemukan dalam keadaan koma di sebuah pulau,” ujar salah satu sutradaranya Rizal Mantovani kepada Rappler usai penayangan premiere filmnya di XXI Plaza Senayan pada Senin malam, 19 Juni.

Kemudian, kedua anaknya yang diperankan oleh Amanda Rawles dan Hannah Al Rashid mencoba mencari tahu apa yang terjadi kepada ayah mereka. Belakangan, mereka baru tahu jika sang ayah yang diperankan oleh Lukman Sardi bermain boneka jelangkung di sebuah pulau terpencil bernama Alas Keramat.

Rizal mengaku cerita yang digarapnya kali ini benar-benar baru dan segar. Tetapi, kisah tersebut baru bisa direalisasikan pada tahun ini. Padahal, setiap kali berbincang dengan Jose, keduanya sudah rindu dan ingin membuat film jelangkung versi baru.

Sutradara berusia 49 tahun itu mengaku sejak awal tidak pernah tertarik untuk membuat kelanjutan dari film Jelangkung dan Tusuk Jelangkung yang terbukti sukses di pasaran. Cerita baru dinilainya lebih pas bagi penonton di tahun 2017.

Walaupun, dia mengaku ada beban tersendiri di pundaknya untuk bisa membuat film ini sama suksesnya seperti 16 tahun lalu. Oleh sebab itu, Rizal dan Jose bertekad untuk menyajikan jalan cerita dan tontonan terbaik sehingga tidak mengecewakan penonton.

Lalu, optimiskah film Jailangkung akan melampaui rekor yang dicetak Jelangkung dan Tusuk Jelangkung?

“Saya enggak terlalu mengurus mengenai target penonton dari film ini. Saya dan Jose hanya fokus untuk memberikan cerita yang seru dan produksi yang bagus untuk bisa dinikmati penonton,” kata sutradara terbaik Festival Film Bandung (FFB) 2013 itu.

Ubah mantra

Hal lain yang menarik dalam film ini yaitu penulis skenario mengganti mantra yang digunakan ketika bermain boneka jelangkung. Jika mantra sebelumnya, “Datang tak dijemput pulang tak diantar” maka itu diubah menjadi “Ada pesta kecil-kecilan, datang digendong pulang dibopong”.

Menurut Rizal, mantra baru ini kembali ke akar asli ritual pemanggilan arwah dengan menggunakan boneka jelangkung. Mantra tersebut juga dinilai lebih berbahaya karena jika arwah itu benar-benar hadir, maka dia akan nyantol ke tubuh orang yang memanggilnya. Untuk memulangkan arwah itu pun dibutuhkan ritual yang tidak mudah.

“Makanya bermain jelangkung itu sebenarnya berbahaya. Tapi kami tidak didampingi paranormal ketika proses syuting. Karena kami bukan film maker yang mistis,” kata Rizal sambil tertawa.

Semua proses syuting dikerjakan secara teknis dan sesuai koridor pembuatan film. Walaupun para kru dan pemain film mengaku mereka sempat mengucapkan kata “permisi” agar selama proses pengambilan gambar tidak diganggu.

Proses syuting dilakukan selama satu bulan dan di beberapa lokasi antara lain Pulau Menjangan, Bali, Batu Raden, Cimahi, Depok dan Jakarta. Dalam film itu, produser menggunakan sea plane agar bisa mendarat di permukaan air untuk menuju ke Pulau Menjangan. Maka tak heran jika anggaran untuk membuat film berdurasi 90 menit itu mencapai Rp 10 miliar.

Tetapi, Rizal mengaku tidak tahu banyak soal jumlah anggaran yang dihabiskan untuk membuat film tersebut.

“Yang tahu lebih banyak itu adalah produser. Tapi, memang tempat-tempatnya (untuk syuting) jauh-jauh. Lalu, selama syuting ada rumah, pulau, dan sea plane. Mungkin itu yang menyebabkan biayanya membengkak,” kata dia.

Film Jailangkung mulai tayang di bioskop di seluruh Indonesia pada 25 Juni mendatang. - Rappler.com