Satu warna, satu rasa di 'Golden Globe Awards 2018'

JAKARTA, Indonesia —Seperti tahun-tahun sebelumnya, para bintang Hollywood berkumpul di The Beverly HIlton, Beverly Hills, California, AS untuk menghadiri ajang pemberian penghargaan Golden Globe Awards ke-75.

Tapi tahun ini ada yang berbeda di gelaran Golden Globe Awards. Untuk kali pertama, ajang ini didominasi bintang yang mengenakan busana berwarna hitam.

Sebenarnya kondisi ini sudah diprediksi sejak beberapa awal Desember 2017 sebelum penyelenggaraan malam puncak pada Minggu, 7 Januari 2018 waktu setempat California atau Senin, 8 Januari 2018 waktu Indonesia.

Seperti biasanya, beberapa pekan sebelum malam penghargaan, selebriti dan timnya pasti sudah berburu gaun yang akan mereka kenakan. Dan dalam proses perburuan itu, banyak dari mereka yang sepakat akan mengenakan pakaian serba hitam.

Bentuk pernyataan sikap

Pilihan untuk mengenakan busana berwarna hitam bukan tanpa alasan. Para aktris kenamaan Hollywood berniat menyampaikan pesan tentang sikap mereka terhadap "epidemi" pelecehan seksual yang terjadi di dunia hiburan Hollywood.

Seperti yang diketahui bersama, satu demi satu kasus pelecehan seksual yang menjadikan perempuan sebagai korban mulai terungkap sejak New York Times merilis artikel investigasi mereka tentang serangkaian kasus pelecehan seksual yang dilakukan produser kenamaan Harvey Weinstein Oktober lalu.

Sejak saat itu, satu per satu kasus pelecehan seksual di masa lalu yang pernah dialami para pelaku industri hiburan (mayoritas perempuan) pun terkuak. Satu per satu pula mulai berani buka suara tentang pelecehan dan ketidakadilan yang mereka alami saat berkarier di Hollywood. 

Dilatarbelakangi keinginan untuk melawan dan bersuara soal pelecehan seksual dan isu kesetaraan di industri hiburan Hollywood, para wanita ini pun menggagas ide untuk tampil dengan busana serba hitam. 

Seperti dilansir New York Times awal bulan ini, ajakan untuk mengenakan busana serba hitam di kalangan pesohor Hollywood saat gelaran Golden Globe Awards tahun ini jadi bagian kampanye besar yang bertajuk Time's Up.

Kampanye ini digagas dan diinisiasi perempuan-perempuan yang bekerja di Hollywood sebagai bentuk kepedulian dan keinginan mereka untuk menyebarkan pesan soal diskriminasi, pelecehan dan kekerasan di industri hiburan. Lebih dari 300 pesohor diketahui bergabung dan aktif di kampanye ini, termasuk Reese Witherspoon, Eva Longoria, America Ferrera dan Nicole Kidman.

Kampanye ini kabarnya sukses mengumpulkan dana hingga USD 15 juta untuk membantu perempuan-perempuan yang jadi korban diskriminasi dan pelecehan serta kekerasan di tempat mereka bekerja, bukan hanya di Hollywood saja.

Malam itu, deretan selebriti yang mengenakan busana hitam antara lain adalah Zoe Kravitz, Nicole Kidman, reese Witherspoon, Issa Rae, Angelina Jolie, Meryl Streep, Emma Watson, Emma Stone, Jessica Chastain, Octavia Spencer, Gal Gadot, Soirse Ronan dan banyak lagi.

Pesan anti diskriminasi, kekerasan seksual dan kekerasan di Hollywood tak hanya disampaikan oleh para perempuan. Para pria turut mendukung kampanye ini dan memutuskan untuk mengenakan setelan jas hitam.

Tak hanya itu, banyak dari mereka yang turut mengenakan pin bertulis Time's Up di jas mereka. Sebut saja Justin Timberlake, Daniel Kaluuya, Ewan McGregor, William H. Macy, Joseph Fiennes, Joe dan Nick Jonas serta Ryan Seacrest. 

Bersanding dengan aktivis 

Tak cuma menunjukkan sikap dengan mengenakan gaun hitam, banyak dari pesohor pun berusaha menyampaikan pesan dengan datang bersama sahabat mereka yang datang dari kalangan aktivis. Hal ini seolah ingin menunjukkan bahwa baik pekerja hiburan dan aktivis perempuan dan kemanusiaan juga memiliki keinginan dan mimpi serupa untuk memberantas diskriminasi, pelecehan dan kekerasan terhadap perempuan.

Malam itu, aktris senior Meryl Streep hadir bersama pimpinan organisasi National Domestic Workers Allianc, Ai-jen Poo. "Orang sekarang sudah mengerti soal ketidakseimbangan kekuasaan. Hal itu yang mendorong terjadinya kekerasan dan pelecehan di industri ini (hiburan)," ujar Streep saat diwawancarai E! saat berjalan di karpet merah Golden Globe Awards.

Bersama Streep, beberapa bintang lainnya pun datang bersama plus-one mereka yang berprofesi sebagai aktivis perempuan. Sebut saja Amy Poehler yang hadir bersama pengacara Saru Jayaraman. Ada pula Emma Stone yang datang dengan legenda tenis sekaligus advokat kesetaraan gender Billie Jean King.

Emma Watson datang bersama aktivis Marai Larasi, sementara aktris Laura Dern dengan pengacara Monica Ramirez. Penggagas kampanye #MeToo Tarana Burke datang dengan aktris Michelle Williams, dan Shailene Woodley bersama pengacara spesialis Native American Calina Lawrence.

Terpesona pidato Oprah Winfrey

Sepanjang acara berlangsung pun, banyak aktris dan juga aktor yang berusaha mengirimkan pesan serupa, anti kekerasan, dikriminasi dan pelecehan terhadap perempuan. Namun satu yang menarik perhatian adalah saat aktris Natalie Portman bersanding dengan sutradara Ron Howard membacakan pemenang dan nominasi untuk kategori Best Director - Motion Picture.

Saat ingin membacakan nominasi, Natalie sempat melontarkan "sindiran" karena menyadari bahwa 5 sutradara yang masuk nominasi di kategori ini semuanya adalah laki-laki.

"Dan ini adalah seluruh pria yang masuk nominasi," ujar Natalie. Sementara sutradara Ron Howard yang berdiri di sampingnya hanya bisa tertawa. Sutradara film Shape of Water, Guillermo del Toro yang akhirnya membawa pulang piala malam itu.

Natalie seolah ingin mengungkapkan ironi yang terjadi malam itu. Saat semua bicara soal kesetaraan, Hollywood Foreign Press Association (HFPA), penyelenggara Golden Globe Awards justru menyajikan daftar nominasi sutradara terbaik yang tak memuat satu pun wanita di dalamnya.

Fakta ini seakan membenarkan temuan Time's Up yang mengungkap bahwa dalam 10 tahun terakhir, hanya 4% sutradara perempuan yang dikenal sebagai sutradara berpenghasilan terbanyak di Hollywood. Dan di antara 4% tersebut, hanya 7 orang yang berkulit hitam.

Tapi tentu saja, yang paling memukau di malam puncak Golden Globe Awards adalah saat Oprah Winfrey menyampaikan pidatonya yang sangat powerfull. Malam itu, Oprah naik panggung menerima piala dan anugerah Cecil B. DeMille Award yang diberikan pada mereka yang dinilai berkontribusi besar untuk dunia hiburan. Oprah sekaligus jadi perempuan berkulit hitam pertama yang pernah menerima penghargaan serupa.

Oprah yang malam itu juga mengenakan gaun hitam menyampaikan pidatonya usai menerima piala dari Reese Witherspoon.

Setelah bercerita soal kariernya di dunia hiburan dan apa yang membuatnya bisa jadi seperti sekarang, Oprah menyampaikan pesannya terkait ragam kasus kekerasan, pelecehan seksual dan diskriminasi yang menimpa banyak aktris di Hollywood yang baru ramai terungkap belakangan ini.

"Sudah terlalu lama perempuan tidak pernah didengar atau dipercayai jika mereka bicara jujur di bawah kekuasaan para pria. Tapi semua itu harus dihentikan. Waktu mereka sudah habis," ujar Oprah yang disambut riuh tepuk tangan para hadirin.

"Aku ingin semua perempuan yang menonton sekarang tahu bahwa hari yang baru telah tiba. Dan ketika hari baru itu hadir, itu semua karena banyak perempuan luar biasa, yang sebagian besar ada di ruangan ini malam ini, dan karena beberapa pria fenomenal yang berjuang keras untuk memastikan bahwa mereka telah jadi pemimpin yang bisa membawa kita ke masa di mana tidak harus ada lagi yang berkata 'Aku juga'," tambah Oprah.

Pidato Oprah sangat powerfull untuk menyampaikan sekaligus merangkum pesan yang tampaknya ingin disampaikan para wanita (dan juga pria) yang berprofesi di Hollywood malam itu.

Tapi tentu saja, yang terpenting bukan hal-hal simbolis. Tak berhenti di gaun hitam dan pin belaka. Ada pekerjaan rumah besar yang harus diselesaikan untuk menghentikan diskriminasi, pelecehan seksual dan kekerasan terhadap perempuan di segala bidang.

Semoga contoh yang diperlihatkan para pelaku industri perfilman dan Hollywood ini memberi dampak baik bagi usaha bersama kita untuk memerangi hal serupa. Karena sudah tiba saatnya kita bersuara demi melenyapkan diskriminasi, pelecehan dan kekerasan seksual. Bersama. —Rappler.com