Provide your email for confirmation

Tell us a bit about yourself

country *
province *

why we ask about location

Please provide your email address

Login

To share your thoughts

Don't have an account?

Login with email

Check your inbox

We just sent a link to your inbox. Click the link to continue signing in. Can’t find it? Check your spam & junk mail.

Didn't get a link?

Sign up

Ready to get started

Already have an account?

Sign up with email

By signing up you agree to Rappler’s Terms and Conditions and Privacy

Check your inbox

We just sent a link to your inbox. Click the link to continue registering. Can’t find it? Check your spam & junk mail.

Didn't get a link?

Join Rappler+

How often would you like to pay?

Monthly Subscription

Your payment was interrupted

Exiting the registration flow at this point will mean you will loose your progress

Your payment didn’t go through

Exiting the registration flow at this point will mean you will loose your progress

Temui Jokowi, SBY akui sudah tidak ada lagi miskomunikasi

JAKARTA, Indonesia (UPDATED) - Presiden ke-6 Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono akhirnya bisa mewujudkan keinginannya untuk bertemu dengan Presiden Joko “Jokowi” Widodo di Istana Negara. SBY tiba di Istana pada Kamis, 9 Maret sekitar pukul 12:40 WIB dan disambut langsung oleh mantan Gubernur DKI Jakarta itu.

Dalam pertemuan empat mata, kedua pemimpin membahas banyak hal. Baik yang menyangkut isu politik hingga ekonomi nasional.

Jokowi mengaku baru bisa bertemu dengan Ketua Umum Partai Demokrat tersebut semata-mata lantaran ketersediaan waktu.

“Waktunya tidak ketemu-ketemu. Kadang-kadang saya yang ada waktu, sedangkan Beliau (SBY) tidak ada. Dan sebaliknya,” ujar Jokowi yang sekaligus menepis tudingan SBY bahwa ada pihak yang melarang pertemuan itu terealisasi pada hari ini.

Sama seperti pemimpin partai politik lainnya, Jokowi juga menjamu SBY dengan makan siang. Keduanya kemudian pindah ke bangku di belakang Istana untuk melakukan veranda talk. Dari sorot kamera, terlihat pembicaraan kedua pemimpin berjalan begitu cair.

SBY pun terlihat menunjukkan ekspresi kebahagiaannya karena bisa mengklarifikasi berbagai isu secara langsung kepada Jokowi.

“Tadi, saya mendengarkan dari Bapak Presiden apa saja yang menjadi dari agenda Beliau baik (di tingkat) nasional dan internasional. Saya juga mengucapkan selamat atas keberhasilan menjadi tuan rumah kunjungan Raja Salman maupun KTT IORA yang baru selesai,” kata SBY kepada media.

Dengan keberhasilan tersebut, tutur SBY, menunjukkan Indonesia masih memiliki peranan yang penting di dunia internasional.

Presiden yang pernah memimpin Indonesia selama 10 tahun itu mengaku tidak ada lagi miskomunikasi di antara kedua pemimpin. Kesalahpahaman antara dia dan Jokowi semata-mata disebabkan kurangnya intensitas pertemuan.

“Insya Allah, saya senang sekali dan tadi menjelaskan dengan seksama. Saya juga mendengar langsung dari Beliau. Alhamdulilah, ini menjadi awal yang baik, karena tidak baik jika ada miskomunikasi di antara kami-kami yang pernah memimpin negara ini,” tutur dia.

Alih-alih terus berprasangka buruk, SBY berjanji akan menjadi bagian dari negara dan pemerintahan saat ini.

Tak bahas dukungan Pilkada DKI

Lalu, apakah pertemuan tersebut menjadi pertanda suara Partai Demokrat akan dialihkan kepada kubu Ahok-Djarot dalam Pilkada DKI putaran kedua nanti? SBY menepis ada pembicaraan mengenai isu politik praktis.

Dia mengatakan, sudah ada mekanisme khusus yang membahas isu tersebut. Lagipula kedatangannya ke Istana Merdeka, kata SBY, bukan dalam kapasitas sebagai Ketua Umum Partai, melainkan sebagai Presiden ke-6.

Namun yang penting untuk digaris bawahi, katanya lagi, adalah kedua pemimpin memiliki misi yang sama untuk menyelamatkan Indonesia.

“Saya kira kerjasama politik apa pun bisa terbuka,” ujar dia.

Sementara, Djoko Suyanto yang ikut mendampingi SBY ke Istana Merdeka juga menjelaskan kendati Presiden ke-6 Indonesia itu mengatakan siap menjadi bagian dari pemerintahan, belum tentu menyiratkan adanya dukungan kepada kubu pemerintah. 

Maksud pernyataan Pak SBY, kata Djoko, lebih menekankan kepada semua pihak harus bersinergi dalam hal pembangunan bangsa dan negara.

"Urusan politik praktis sudah punya platform masing-masing. Bukan berarti kemudian tidak bisa membangun dalam aspek yang lebih holistik," ujar Djoko kepada Rappler melalui pesan pendek.

Tradisi yang baik

BERTEMU. Presiden Joko u0022Jokowiu0022 Widodo ketika berbincang dengan Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Istana Merdeka pada Kamis, 9 Maret. Foto: istimewa

BERTEMU. Presiden Joko u0022Jokowiu0022 Widodo ketika berbincang dengan Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Istana Merdeka pada Kamis, 9 Maret.

Foto: istimewa

Baik Jokowi dan SBY sama-sama menekankan jika peralihan kekuasaan di antara kedua pemimpin yang berjalan secara damai merupakan tradisi yang baik. Tidak semua pemimpin negara bisa melakukan hal tersebut.

Itu sebabnya, kedua pemimpin sepakat agar tradisi politik tersebut terus dipelihara.

“Bahkan, kalau bisa ada klub presiden dan mantan presiden. Kan baik ya untuk saling berkomunikasi,” kata SBY melemparkan lelucon kepada media.

Sementara, Jokowi memaknai tradisi itu sebagai peralihan tongkat estafet yang harus terus dibawa. Hal ini terkait dengan pembangunan fisik yang belum terselesaikan di masa pemerintahan terdahulu.

“Jika budaya estafet itu dimiliki, maka negara gampang bisa mencapai titik dan satu target. Ini untuk kebaikan rakyat dan negara. Sehingga, kita tidak memulai semua dari awal terus,” kata Jokowi.

Salah satu proyek yang mangkrak dan diwarisi oleh pemerintahan Jokowi adalah pembangunan Wisma Atlet di area Hambalang, Bogor. Jokowi telah berkomitmen untuk menuntaskan pembangunan proyek yang kental dengan nuansa korupsi itu.

Menteri Pekerjaan Umum dan Pembangunan Rakyat (PUPR), Basuki Hadimuljono sudah menyampaikan hasil evaluasi tim independen kepada Jokowi tahun 2016. Dia mengatakan proyek tersebut paling cepat bisa kembali dilanjutkan tahun 2017. - dengan laporan Uni Lubis, Santi Dewi/Rappler.com