Indonesia vs Thailand: Perlawanan Gajah Putih sesungguhnya

JAKARTA, Indonesia — Timnas U-22 Indonesia akan memulai perjuangannya di ajang SEA Games Kuala Lumpur 2017 pada Selasa, 15 Agustus petang nanti di Stadion Shah Alam, Kuala lumpur.

Target tiga poin memang tak terucap secara eksplisit. Namun, pelatih timnas menyebut gap kedua tim sangat dekat sehingga hasil tak bisa diprediksi. 

Juli lalu, Indonesia mampu menahan imbang skuat Thailand dalam kualifikasi Piala Asia U-23 dengan skor 0-0. Tapi, yang harus perhatikan dalam laga itu adalah pertandingan tak berjalan normal.

Bukan waktunya, tapi dalam kondisi lapangan yang jauh dari kata ideal.  

Selain hujan sangat deras setelah lima menit laga berjalan, lapangan menjadi sangat becek dan banyak genangan di mana-mana. Bayangkan saja, kondisinya mirip dengan Stadion Utama Gelora Bung Karno saat sebelum dilakukan renovasi.

Saat hujan sangat lebat, otomatis lapangan tergenang dan bola sulit mengalir.

Skema permainan pun tak terlihat, yang ada hanyalah bola asal diangkat, bola panjang diumpan langsung direct ke depan gawang. Karena kondisi lapangan becek, licin, dan tergenang itu, kedua tim pun sulit mencetak gol.

Dibandingkan kondisi di lapangan Chonburi, Thailand, Shah Alam, yang menjadi venue laga kali ini kondisinya lebih baik. Cuaca pun sejauh ini diprediksi akan cerah disertai sedikit gerimis.

Itu akan menjadikan laga semakin seru, karena kemampuan taktikal kedua tim akan tersaji dengan mulus.

Pelatih Timnas Indonesia U-22 Luis Milla Aspas juga memastikan Indonesia sudah siap menghadapi Thailand. Pelatih asal Spanyol itu kembali menegaskan ke awak media, bahwa timnya sudah cukup mengetahui kekuatan lawan. 

"Kami mempersiapkan pertandingan per pertandingan satu demi satu, saya yakin tim ini masih berkembang. Untuk Thailand tim kami sudah siapkan dengan matang untuk laga perdana," katanya. 

Bagi Milla, SEA Games adalah turnamen besar yang menjadi taget Timnas. Dia mengakui, tak akan mudah melawan negara-negara favorit seperti Thailand, namun Indonesia, lanjut dia, juga layak difavoritkan menjadi juara di turnamen ini. 

"(Kemampuan dan kualitas,red) tim kami sangat dekat dengan Thailand, kami bermain sangat bagus di Kualifikasi Piala Asia U-23 2018 di Thailand. Karena itu kami berharap hasil yang terbaik untuk tim ini," dia menegaskan. 

Sementara itu, pelatih Thailand Worawoot Srimakha menganggap Indonesia sebagai lawan yang layak diwaspadai. Dia juga melihat, selama ini tim Garuda kerap menyulitkan Thailand saat saling bertemu, karena itu dia merasakan laga perdana di SEA Games layaknya sebuah pertandingan menentukan. 

"Bertemu Indonesia dan kami tampil di laga perdana grup membuat kami harus kerja lebih keras, ini ibarat fase gugur bagi kedua tim di mana keduanya harus saling mengalahkan," ungkapnya. 

Utak-atik komposisi 

Kedua tim tentu masih saling penasaran dengan laga Kualifikasi Piala Asia U-23 2018 lalu. Dalam kondisi lapangan yang normal, kedua pelatih akan saling uji kesaktian strategi mereka. Karena itu, komposisi dan formasi kedua tim tak akan banyak berubah seperti laga terakhir keduanya. 

Hanya, yang membedakan adalah dalam taktikal dan strategi di lapangan. Indonesia yang sebelumnya banyak bermain di sektor flank karena Evan Dimas saat itu tak diturunkan dari awal akibat cedera, kemungkinan dimainkan dari awal.

Peluang itu semakin besar seiring membaiknya pemain Bhayangkara FC itu dari cedera engkel kiri. 

Kombinasi gaya permainan ibaratnya Barcelona juga akan tersaji, saat bek sayap Osvaldo Haay, akan dimaksimalkan perannya seperti Dani Alves di Barcelona.

Dalam sesi latihan, ini sudah terlihat di mana crossing diagonal dari kiri ke kanan sering dilakukan, dan Haay menyambutnya dengan apik, karena dia memiliki kemampuan kontrol dan dribling yang bagus. Eksekusi sendiri atau cutting back, menjadi pilihan saat dia berhasil membawa bola ke kotak penalti. 

Taktik lainnya, adalah gaya permainan klasik Indonesia yang mengandalkan dua winger untuk maju dan memberikan crossing kepada Marinus Manewar di depan, atau melakukan penetrasi sebelum memberikan passing ke kotak penalti.

Gaya ini tentu sudah dibaca, karena itu diperlukan taktik tambahan yang menjadi plan C Indonesia.

Taktik itu dengan menempatkan pemain bertipikal striker lubang, untuk siap-siap mengambil inisiatif tusukan kedua, atau sepakan dari luar kotak penalti saat Thailand memiliki disiplin pertahanan di dalam kotak penalti.

Septian David Maulana atau Ezra Walian bisa ditempakan dalam posisi tersebut. Keduanya sama-sama memiliki kemampuan dribling, kecepatan, dan kejelian dalam menempatkan bola ke gawang. 

Thailand sendiri, akan banyak mengandalkan pemain seperti Chaiyawatt Buran dan Chenrop Samphaodi untuk membongkar lini tengah Indonesia. Duel lini tengah kedua tim dan konsentrasi lini pertahanan, akan menentukan hasil akhir.

Tapi, melihat pertemuan kedua tim sebelumnya, dipastikan dalam laga kali ini sulit untuk berakhir imbang. Harus ada pemenang, untuk menjaga kans lolos dari fase grup. 

Prediksi pemain 

Indonesia: Kurniawan Kartika Ajie (gk); Osvaldo Haay, Ricky Fajrin, Hansamu Yama, Gavin Kwan; Hargianto, Evan Dimas; Saddil Ramdani, Septian David, Febri Hariyadi; Marinus Marianto  

Formasi: 4-2-3-1

Perkiraan Taktik

Memaksimalkan Flank dengan variasi serangan sayap berupa penetrasi dan crossing mendatar. Sedikit memainkan bola crossing lambung. 

Pelatih: Luis Milla Aspas

Thailand: Nont Muangngam (gk); Suriya Singmui, Ratthanakorn Maikami, Peerawat Akhtam, Saringkarn Prompsupa; Worachit Kanitsrimbampen, Nopphon Ponkum, Chaiyawat Buran; Sukjitthammakul, Chenrop Samphaodi, Montree Promsawat 

Formasi: 4-3-3/ 4-3-1-2

Prediksi Taktik

Thailand bakal memainkan formasi menyerang seperti laga sebelumnya. Kreativitas dua gelandang tengah akan menjadi pembeda. Lebih sedikit melakukan serangan dari flank, dominan serangan dari tengah.

Pelatih: Worawoot Srimakha. —Rappler.com