Sketsatorial: Sejarah Pulau Banda, penghasil pala

JAKARTA, Indonesia — Pada awalnya adalah pala. Buah berwarna kekuningan dengan biji hitam yang dilapisi selaput merah itu menjadi tujuan pendatang dari berbagai bangsa menjejakkan kaki mereka di Kepulauan Banda, Maluku, ratusan tahun lalu.

Bagaimana sejarah pala dan Kepulauan Banda? Simak uraiannya di Sketsatorial Rappler Indonesia.

Zaman dahulu, Maluku merupakan penghasil rempah-rempah terbesar, seperti pala dan cengkih, yang paling dicari oleh negara-negara di Eropa. 

Karena awalnya pala dan cengkih hanya ditemukan di Maluku, pulau tersebut dijuluki The Spice Island. Para pedagang dan penjajah dari Eropa pun memperebutkannya.

Rempah-rempah dinilai sangat berharga, bukan hanya karena manfaatnya sebagai penambah rasa masakan, tapi juga efeknya sebagai obat-obatan. 

Pala kemudian menjadi salah satu komoditi rempah yang ditaksir dengan harga sangat tinggi karena sulit dicari. Segenggam pala pada masa itu dianggap lebih bernilai dari segenggam emas.

Pada saat itu, pala digunakan sebagai obat untuk penyakit pes yang pernah mewabahi Eropa. Akibatnya, nilai pala langsung naik 10 kali lipat. 

Rempah-rempah yang berasal dari Kepulauan Banda ini dikuasai oleh Benda. Kepulauan Banda sendiri terdiri atas 10 pulau vulkanis yang tersebar di Laut Banda.

Pemerintahan Ratu Elisabeth I mengirim ekspedisi untuk mendapatkan pala di Pulau Run, salah satu pulau di Banda, yang kemudian menjajahnya. 

Namun Belanda tak gentar demi memonopoli perdagangan pala. Pulau Run pun menjadi penyebab Perang Inggris-Belanda pada tahun 1652-1654.

Pada 31 Juli 1667, Inggris dan belanda menyepakati Perjanjian Breda, yang berisi bahwa Pulau Run diserahkan kepada Belanda sementara Inggris mendapatkan New Amsterdam, yang sekarang bernama Manhattan di New York, Amerika Serikat. 

Ratusan tahun kemudian, Manhattan berkembang menjadi kota metropolis, sementara Pulau Run kian terlupakan. 

Selain sebagai penghasil pala, Kepulauan Banda turut pula berperan penting dalam lahirnya Indonesia. Di Banda, kolonialisme dimulai. Namun di Banda pula ide-ide kebangsaan lahir.

Pada saat hampir bersamaan, empat orang founding fathers Indonesia; Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, Dr Tjipto Mangunkusumo, dan Iwa Kusuma Sumantri, dibuang ke Banda Neira. Kisah terusirnya pribumi dan kedatangan bangsa-bangsa yang kemudian menjadi orang Banda dalam ragam interaksi sosial budaya membuat Sutan Sjahrir menjadikannya sebagai salah satu gagasan dalam perumusan Undang-Undang Dasar.

Saat ini Banda tetap bertahan dengan industri perikanan dan pariwisata bawah lautnya. Pala Banda yang pernah menjadi koordinat penting dalam sejarah penjelajahan dan penaklukkan manusia, hari ini dihadapkan dengan kenyataan bahwa saat ini tidak lagi lebih dari komoditas sampingan karena tidak adanya inovasi dan kebaruan. Banda tetap bertahan walaupun dengan denyut nadi yang lemah. —Rappler.com