Sketsatorial: Tragedi kemanusiaan Rohingya di Myanmar

JAKARTA, Indonesia — Etnis Rohingya kembali menjadi tajuk utama. Mereka menjadi korban konflik persaudaraan di Myanmar.

Akibatnya, ratusan warga Muslim Rohingya melarikan diri ke negara-negara terdekat.

Kritik menuding negara-negara Asia Tenggara (ASEAN) tak memiliki kepedulian terhadap kaum Rohingya yang terdampar. Bahkan mereka tak diterima di Bangladesh saat melalui perbatasan.

Siapakah kaum Rohingya? Mengapa mereka termajinalkan? Simak uraiannya di Sketsatorial Rappler Indonesia. 

Siapa Muslim Rohingya?

Rohingya adalah kaum minoritas Muslim. Mereka tinggal di negara bagian Rakhine Utara (sebelumnya disebut Arakan), sebuah desa pesisir di Myanmar.

Menurut Menteri Imigrasi dan Kependudukan Myanmar, ada sekitar 1,33 juta orang Rohingya di negaranya.

Organisasi Nasional Rohingya Arakan (ARNO) menyatakan bahwa orang-orang ini telah bermukim di Myanmar “sejak zaman dahulu”. 

Namun, Myanmar tidak mengakui kaum Rohingya sebagai warga negara atau kelompok etnis mereka. 

Mengapa orang-orang Rohingya tidak diakui?

Pada 1982, pemerintah Myanmar mengeluarkan undang-undang yang menyatakan bahwa rakyatnya adalah warga yang telah menetap di negara tersebut sebelum kemerdekaan pada 1948. Kelompok minoritas yang ingin secara resmi diakui harus menunjukkan dokumen sebagai bukti bahwa nenek moyang mereka hidup di Myanmar (dulu disebut Burma) sebelum 1823.

Orang-orang Rohingya mengklaim bahwa leluhur mereka telah tinggal di Myanmar sejak ratusan tahun yang lalu. Namun, mereka tidak memiliki dokumentasi yang tepat untuk membuktikan klaim tersebut.

Mengapa mereka meninggalkan Myanmar?

Rohingya mengalami diskriminasi selama beberapa dekade terakhir, yang mengakibatkan mereka berupaya melarikan diri dari Myanmar. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bahkan mengakui bahwa masyarakat Rohingnya sebagai salah satu kaum minoritas yang paling teraniaya di dunia.

Sebuah insiden besar melibatkan mereka terjadi pada 2012, ketika umat Islam Rohingya terlibat dalam kasus pemerkosaan dan pembunuhan seorang wanita Buddha di Myanmar. Hal ini mengakibatkan serangkaian perkelahian berdarah antara umat Buddha di Rakhine dan Muslim Rohingya. 

Meski melibatkan dua agama, Islam dan Buddha, Majelis Buddha di Indonesia menekankan, konflik di Rakhine adalah tragedi kemanusiaan, bukan konflik agama. —Rappler.com