Mengenang perjuangan Soegijapranata di Gereja Gedangan Semarang

Gereja Gedangan Semarang merupakan gereja tertua di Jawa Tengah. Foto dari Wikimedia

Gereja Gedangan Semarang merupakan gereja tertua di Jawa Tengah.

Foto dari Wikimedia

SEMARANG, Indonesia — Sang surya hampir tenggelam saat lantunan kidung doa sayup terdengar dari dalam Gereja Paroki Santo Yosef Gedangan yang terletak di Jalan Ronggowarsito, Semarang, Jawa Tengah, pada Rabu, 24 Mei. Beberapa suster tampak tergopoh-gopoh menyusul jemaat lainnya yang sedang menggelar misa menyambut Kenaikan Isa Almasih di dalam gereja.

Ibadah misa yang digelar para jemaat Katolik berlangsung khidmat. Puji-pujian doa menggema di seluruh ruangan. Sang pastor berulang kali mengajak jemaatnya agar berdoa dengan khusyuk.

"Ini merupakan gereja paling tua di Jawa Tengah. Usianya sudah mencapai ratusan tahun. Maka di sinilah keluarga saya turun-temurun beribadah setiap pagi maupun sore," kata seorang jemaat, Elizabet Yulianto Raharjo, saat berbincang dengan Rappler.

Liza, panggilannya, selalu terketuk hatinya untuk menyambangi gereja tersebut. Karena selain jadi tempat ibadah utama, tempat itu juga sarat makna akan sejarah panjang Kota Semarang.

Perempuan yang aktif di Lembaga Pemberdayaan Usaha Tani Nelayan (LPUBTN) itu berpendapat bahwa sejak zaman dahulu, Gereja Gedangan telah jadi pusat pergerakan perekonomian masyarakat setempat.

Bersama sekretaris pribadinya yang bernama John Dijkstra, mendiang Monsinyur Albertus Soegijapranata turut menggerakan rakyat di bidang gerakan ekonomi Pancasila. Ragam profesi pun masuk ke organisasi itu, mulai dari buruh, tani, nelayan, paramedis, hingga pengusaha.

Gereja itu bahkan jadi saksi bisu saat rakyat dengan gigih melawan tentara Jepang pada masa zaman kolonialisme. Berawal dari Gereja Gedangan, mendiang Soegijapranata berjuang bersama rakyat melakukan propaganda.

"Soegijapranata kardinal Jawa pertama di gereja tersebut. Beliau menetap di gereja dan jadi pejuang Katolik yang bergerak untuk mencari genjatan senjata dalam pertempuran Lima Hari di Semarang," kata Yongki Tio, seorang budayawan lokal.

Sembari merujuk pada manuskrip-manuskrip kuno, Yongki lantas mengisahkan ulang perjalanan hidup uskup agung pertama tersebut.

Perjuangan Monsinyur Soegijapranata begitu gigih saat membantu menyelamatkan banyak pemuda melawan Jepang.

"Monsinyur Soegijapranata tidur dan mengumpulkan pemuda di dalam gereja. Baru kemudian beliau melakukan misi propaganda melalui jaringan radio lokal," kata Yongki.

Sang uskup ketika itu menggerakkan seluruh elemen masyarakat pesisir pantai untuk bahu-membahu melepaskan diri dari cengkeraman tentara Nipon Jepang.

Interior Gereja Gedangan Semarang. Foto dari Wikimedia

Interior Gereja Gedangan Semarang.

Foto dari Wikimedia

Jejak peninggalan sang uskup masih dapat dilihat hingga saat ini. Semua ornamen gereja masih asli bergaya arsitektur Eropa. Semua tembok gerejanya terbuat dari batu bata merah berukuran besar. Balok-balok batu bata itu didatangkan langsung dari Belanda.

Pada kedua daun pintunya tampak besar dan kokoh, mencerminkan guratan keanggunan arsitektur tempo dulu.

"Jubin [keramik lantai] dan batu batanya didatangkan dari Belanda. Karena dulu kapal yang bersandar dalam kondisi kosong, pulangnya membawa rempah-rempah. Nah, waktu kosong dibawain batu bata buat membangun Gereja Gedangan," kata Yongki.

Meski begitu, ia menganggap pamor Gereja Gedangan kini mulai memudar. Banyak orang lebih mengenal Gereja Blenduk ketimbang Gereja Merah, sebutan untuk Gereja Gedangan. 

Padahal dari ragam literatur sejarah Indonesia, Gereja Gedangan disebut jadi titik awal pembangunan kawasan Kota Lama yang mahsyur dengan nama Little Netherland.

Ia pun menyarankan agar keunikan Gereja Gedangan kembali ditonjolkan mengingat perannya pada zaman dahulu sebagai pusatnya Kota Lama. —Rappler.com