Survei CSIS 3 Tahun Jokowi: Elektabilitas PDIP naik tipis

JAKARTA, Indonesia – Lembaga think tank CSIS merilis hasil surveinya ke publik pada Selasa, 12 September. Salah satu yang disoroti yakni mengenai elektabilitas partai politik penguasa saat ini yakni Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). 

Berdasarkan survei CSIS, suara PDIP mengalami kenaikan sedikit dalam batas margin error, dari 34,6% dalam survei 2016, menjadi 35,1% dalam survei 2017. Sedangkan, suara Partai Golkar turun 3,2% dari 14,1% pada 2016, menjadi 10,9% pada 2107. Partai Gerindra ada di peringkat ketiga dalam elektabilitas partai politik, yaitu 14,2% pada 2017, turun tipis dibanding 14,3% pada 2016.

Sementara, untuk kandidat Presiden, tingkat elektabilitas Jokowi saat ini masih tertinggi dibandingkan kandidat yang lainnya, yaitu 50,9%, meningkat 9% dibandingkan tahun 2016, sedangkan Prabowo Subianto di posisi kedua dengan 25,8%, relatif stagnan dibandingkan dengan angka 2016 sebesar 24,3%. 

Pemerintahan Joko “Jokowi” Widodo pun masih dianggap demokratis berdasarkan hasil survei itu. (4,58 dari skala 1 untuk otoriter sampai skala 5 untuk demokratis).  

Beberapa temuan di atas adalah bagian dari laporan CSIS berjudul Survei 3 Tahun Jokowi; Kenaikan Elektoral dan Kepuasan Publik. Survei tersebut dilakukan pada periode 23-30 Agustus 2017, dengan 1.000 responden yang dipilih secara acak dan tersebar secara proporsional di 34 provinsi di Indonesia. Margin of error survei sebesar +/- 3,1% pada tingkat kepercayaan 95%.  

Sebanyak 18,6% responden mengaku  sangat dekat dengan organisasi massa Nahdlatul Ulama, 3,3% dengan Muhamadiyah, 1,8% Persis. Yang mengaku cukup dekat dengan NU  ada 28,7%, dengan Muhamadiyah 17,7% , dan 6,5% dengan Persis.

Dalam bagian pengumpulan pendapat tentang peluang partai-partai dalam Pemilu 2019 dan Kinerja DPR, CSIS juga mencatat Golkar dan PDIP dalam posisi sebagai dua partai politik yang paling dikenal, Partai Demokrat di posisi ke-3 dengan angka masing-masing yaitu Golkar ( 95,2%), PDIP (94,3%), Demokrat (992,8%). 

Partai Demokrat ada di posisi ke-2 sebagai parpol yang disukai (68,9%), PDIP (70,7%), Gerindra ( 68,4%) dan  Golkar (67,4%).

Dukungan ke DPR menurun

Menjawab pertanyaan mengenai dukungan terhadap kinerja DPR RI, 47,7% responden menjawab cukup baik, turun dibandingkan dengan survei 2016 49,1% dan survei 2015 50,7%. Yang menjawab kurang baik 40,0%, naik dibandingkan 2016 39,5%. (BACA: Linimasa anggota DPR RI 2014-2019 yang terlibat kasus korupsi)

Survei CSIS ini juga menanyakan pengenalan terhadap hak angket DPR kepada KPK dan sikap terhadap keinginan DPR meminta rekaman pemeriksaan saksi kasus KTP Elektronik. Sebanyak 72,2% mengaku tidak pernah mendengar hal ini, 27,8% pernah mendengar. Responden yang mengetahui  hal ini menjawab cukup setuju (31,2%), kurang setuju (30,5%), sangat setuju (25,1%) dan tidak setuju sama sekali (12,5%). (BACA: Hampir rampung, berikut 11 temuan sementara pansus Hak Angket KPK)

Sebanyak 34,9% menolak kebijakan DPR membangun gedung baru, 42,8% kurang setuju, dan 17,9% cukup setuju. Dari sisi relasi DPR dengan konstituen sebanyak 95,6% mengaku tidak pernah berkomunikasi dengan DPR, 94,6% tidak pernah menyampaikan pendapat secara langsung ke anggota DPR, sementara 95,2% tidak pernah mengikuti kegiatan reses DPR.

Masalah utama parpol

Sementara, sebanyak 44,2% responden menempatkan lemahnya kepercayaan masyarakat pada parpol sebagai masalah utama terbesar saat ini. Berikutnya adalah kepemimpinan parpol yang bermasalah (21,2%), jenjang karier kader yang tidak terencana dengan baik (11,1%),  demokrasi internal parpol yang tidak berjalan dengan baik (9,8%), dan menguatnya politik dinasti di sejumlah parpol (7,2%). – Rappler.com