Apakah itu tantangan #SayaBerani?

Yuk, tes HIV. Cari tahu lebih lanjut di sini.

Tahukah kamu, status HIV baru hanya bisa diketahui setelah mengikuti tes HIV yang disertai konseling? 

Tantangan #SayaBerani bertujuan untuk menghapus stigma negatif yang selama ini melekat pada tes HIV. Penularan HIV bisa terjadi pada semua orang, tak memandang lapisan. Kamu juga tidak bisa mengenali apakah seseorang berada dalam tahap HIV atau tidak, karena mereka tampak sehat dan tidak menunjukkan gejala penyakit apapun. 

Sayangnya, kebanyakan orang yang menjalani gaya hidup beresiko takut untuk melakukan tes HIV, karena mereka terbayang akan mendapat stigma negatif dari masyarakat.

Jika kamu mengetahui status HIV sedini mungkin, maka kamu dapat langsung melakukan perawatan Antiretroviral (ARV) yang dapat membantumu agar tidak memasuki ke tahap AIDS. Dengan menjalani pengobatan, pengidap HIV tetap dapat menjalankan aktivitasnya seperti biasa. Artinya, kamu dapat menjaga kesehatan diri dan juga melindungi orang-orang yang kamu sayangi dari infeksi HIV.

Mengapa #SayaBerani? Kami tahu, dibutuhkan keberanian yang besar untuk melakukan tes HIV, meskipun tak seseram yang dibayangkan. Maka dari itu, kami menantangmu untuk berani. Dan kami juga mengajakmu untuk menantang teman-temanmu sehingga mereka merasa berani, melakukan tes HIV, dan membantu menghapus stigma yang selama ini meliputi tes HIV.

Bagaimana caranya mengikuti tantangan #SayaBerani? Simak langkah-langkahnya di bawah ini. Kamu bisa memilih untuk mengunggah foto, video, atau keduanya. Selanjutnya, unggah foto dan videomu ke Twitter, Facebook, dan Instagram.

Sebaiknya, tag teman-teman dari kelompok pertemanan yang berbeda agar pesan #SayaBerani semakin menyebar.

Foto

Sebelum kamu melakukan selfie, tulis #SAYABERANI di telapak tanganmu. Setelah itu, tunjukkan telapak tanganmu ke kamera seperti di bawah ini.

Untuk Twitter dan Facebook, Tuliskan caption: 

Saya menantang @teman1 @teman2 @teman3 @teman4 @teman5 untuk mengikuti tantangan #SayaBerani. Cari tahu di sini: rappler.com/sayaberani 

Saya menantang @natashya_g @karinamt222 @aqbastian @hhaanniiyy @kuchuls untuk mengikuti tantangan #SayaBerani. https://t.co/Ipb0DyufdT pic.twitter.com/5AznGVdR6Y — NV Hamid (@nadiavetta) November 18, 2016

Tag akun Twitter @UNAIDS_ID & @RapplerID di fotomu. Jika kamu mengunggah fotomu di Facebook, tag akun Facebook UNAIDS Indonesia dan Rappler Indonesia.

Bagaimana dengan Instagram? Ganti link di profilmu dengan rappler.com/sayaberani, dan tuliskan caption ini: 

Saya menantang @teman1 @teman2 @teman3 @teman4 @teman5 untuk mengikuti tantangan #SayaBerani. Cari tahu dengan mengklik link di profil saya. 

Saya menantang @dimatakola @ninoprabowo @rickykapoyos @denadaindonesia @dazenvrilla untuk mengikuti tantangan #SAYABERANI . Cari tahu dengan klik link di profile saya A photo posted by Yansen Masran Martadinata (@yansendinata) on Nov 18, 2016 at 3:04am PST

Tag akun Instagram @unaids.id dan tentunya @rapplerid.

Video

Ingin mengikuti tren terkini sambil mengedukasi follower kamu mengenai HIV? Kamu juga bisa mengunggah video Mannequin Challenge.

Caranya, ajak teman-teman atau keluargamu untuk diam mematung ala boneka maneken. Setelah menyorot ke orang terakhir, arahkan kameramu ke bawah untuk selanjutnya kembali merekam 'patung-patung' yang kini berpose dengan menunjukkan telapak tangan yang bertuliskan #SayaBerani. 

Kami menantang pembaca Rappler Indonesia untuk mengikuti tantangan #mannequinchallenge #SayaBerani. Cari tahu dengan mengklik link di profil kami. A video posted by Rappler Indonesia (@rapplerid) on Nov 18, 2016 at 3:15am PST

 

Lalu, tuliskan caption ini untuk di Twitter & Facebook:

Saya menantang @teman1 @teman2 @teman3 @teman4 @teman5 untuk mengikuti tantangan #MannequinChallenge #SayaBerani. Cari tahu di sini: rappler.com/sayaberani 

Gunakan caption ini untuk Instagram:

Saya menantang @teman1 @teman2 @teman3 @teman4 @teman5 untuk mengikuti tantangan #MannequinChallenge #SayaBerani. Cari tahu dengan mengklik link di profil saya. 

Yuk, bersama-sama mengangkat tangan untuk mengakhiri stigma negatif akan tes HIV. —Rappler.com