TPN OPM klaim bertanggung jawab terhadap serangan teror di area Freeport

JAYAPURA, Indonesia - Tentara Pembebasan Nasional Organisasi Papua Merdeka (TPN-OPM) mengaku bertanggung jawab atas beberapa aksi teror penembakan yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir di area tambang PT Freeport Indonesia di distrik Tembagapura Timika Papua. Aksi itu, menurut mereka, merupakan bagian dari upaya untuk memperjuangkan kemerdekaan Papua.

Juru bicara TPN-OPM Sebby Sambon melalui telepon bahwa penyerangan itu merupakan instruksi langsung dari Goliath Tabuni, Jenderal dan Komando Nasional Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB). Pada awal Januari lalu, Goliath menyatakan perang terhadap Pemerintah Indonesia.

“Penyerangan di Tembagapura murni dilakukan TPN-OPM di bawah perintah Goliath Tabuni dan merupakan operasi gabungan Komando Daerah Operasi (Kodap) Kali Kopi, Tembagapura dan Intan Jaya di bawah pimpinan Brigjen Ayub Waker dan Tene Murib,” ujar Sebby dari hutan wilayah perbatasan antara Indonesia-PNG pada Sabtu, 28 Oktober.

Ia menegaskan bahwa TPNPB dan warga Papua akan terus memperjuangkan kemerdekaan mereka.

“Sebab, Indonesialah yang menganeksasi Papua untuk kepentingan PT Freeport. Kemudian, mereka mengambil kekayaan alam kami,” katanya.

Kendati kini mereka tengah diburu oleh polisi, tetapi anggota TPN-OPM tidak akan berhenti melancarkan serangan kepada Pemerintah Indonesia dan Freeport. Bahkan, anggota TPN-OPM dari daerah lain segera bergabung dengan personel yang kini berada di Tembagapura.

“Dalam dua pekan ini, anggota TPN-OPM dari Puncak Jaya, Illaga, Lany Jaya, Paniai dan Wayage segera bergabung dengan yang ada di Tembagapura. Untuk menghadapi tentara Indonesia maupun Freeport,” katanya.

Mereka bahkan mengancam akan tetap beraksi kecuali Indonesia kembali duduk di meja perundingan.

“Tuntutan kami pejuang Papua Merdeka, Indonesia kembali ke meja perundingan bersama Belanda, Amerika Serikat dan PBB. Lalu, difasilitasi pihak netral untuk meluruskan sejarah, karena sebenarnya Papua sudah merdeka tapi dicaplok Indonesia untuk kepentingan kekayaan alam bersama Amerika,” kata dia.

Mereka juga meminta agar TNI dan Polri tidak mengejar kelompok masyarakat sipil saat berhadapan TPN-OPM. Jika berani, ujar Sebby, fokus saja untuk mengejar mereka.

“Jangan kejar masyarakat tak berdosa, mari kejar kami OPM! Kami pun siap menghadapi,” katanya tegas.

Sebby juga menegaskan kepada Polri bahwa mereka bukan kelompok kriminal, tetapi pejuang kemerdekaan Papua. Sehingga, apa yang disebut bolak-balik oleh polisi di media tidak benar.

Sebby mengaku dalam beberapa aksi belakangan, mereka berhasil menembak mati satu personel Brimob dan enam anggota lainnya. Anggota Brimob yang tewas diketahui bernama Briptu Berry Pramana Putra. Ia tewas di tempat pada 22 Oktober lalu di daerah Jembatan Utikini Tembagapura sekitar pukul 16:00 WIT.

Sementara, menurut klaimnya lagi, hanya ada satu personel OPM yang terluka. Itu pun di bagian jari.

Akibat berbagai aksi teror itu, para karyawan PT Freeport, guru-guru, dokter, dan personel medis dievakuasi dari lokasi kejadian.

Pernyataan video

Sebelumnya, pernyataan dengan nada serupa disampaikan oleh seseorang yang mengaku sebagai Staf Makodam (TPN-OPM) III Timika. Video pernyataan itu diunggah melalui akun media sosial milik Ketua Umum Komite Nasional Papua Barat (KNPB) Victor Yeimo pada 23 Oktober lalu. 

Selain video, di media sosial Victor, juga terdapat surat pernyataan yang dibacakan oleh staf tersebut. Mereka mengatakan penyerangan terhadap PT Freeport Indonesia bukan sekedar penyerangan, tapi juga satu pernyataan sikap. 

"Itu merupakan suatu sikap yang disampaikan kepada Pemerintah Indonesia, Pemerintah Amerika Serikat, Belanda, dan organisasi internasional PBB serta 27 negara yang memangku kepentingan di PT Freeport Mc Moran/PT Freeport Indonesia," tutur mereka dalam video itu. 

Saksikan pernyataan lengkapnya di sini: 

Mereka menuntut agar semua pihak mengakui hak kedaultan atas bangsa Papua Barat, ras Melanesia yang kurang lebih 50 tahun sudah ditutupi atas kepentingan di atas tanah Papua. Selain itu, mereka juga kembali menegaskan bahwa proses integrasi Papua ke dalam Indonesia, semata-mata hanya untuk kepentingan ekonomi kapitalis asing di atas tanah Papua.

“Hal itu dilakukan oleh empat oknum utama yaitu Amerika Serikat, Indonesia, Belanda, dan PBB,” kata mereka.

Mereka juga menyatakan bahwa demi menjaga nota kesepahaman (MoU) dengan ketiga oknum lainnya berjalan, Indonesia mengirimkan pasukan militer sehingga mengakibatkan ribuan jiwa warga Papua melayang.

“Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia secara langsung memusnahkan rakyat pribumi asli Papua dan secara tidak langsung sudah menjadi perpanjangan tangan oleh AS, Belanda, PBB serta 27 negara yang memangku kepentingan di PT Freeport,” katanya.

Mereka pun meminta agar nota kesepahaman yang pernah diteken dengan PT Freeport dihapus dan mengembalikan hak kedaulatan yang selama ini dimilik oleh rakyat Papua. - Rappler.com