SAKSIKAN: Trailer film 'Banda The Dark Forgotten Trail'

JAKARTA, Indonesia — Dahulu, Kepulauan Banda yang kini seolah terlupakan pernah menjadi satu dari beberapa kawasan paling diburu oleh para pedagang karena menghasilkan pala. 

Sejak diperkenalkan oleh para pedagang Cina, pala menjadi salah satu komoditi rempah yang ditaksir dengan harga sangat tinggi. Segenggam pala pada masa itu dianggap lebih bernilai dari segenggam emas. Karena pala-lah ekspedisi-ekspedisi besar dari Eropa diluncurkan, saling berlomba untuk mencapai pulau kecil di timur ini. 

Sejarah Banda penuh dengan darah dan kesedihan. Masa depan Banda dan pala berubah saat Jan Pieterszoon Coen yang saat itu sudah berbendera VOC tiba di Banda dan melakukan aksi paling brutal sepanjang sejarah. Eksodus besar-besaran dari Banda mengakibatkan penduduk asli Banda hilang tak bersisa saat ini. 

Di sisi lain, habisnya masyarakat asli, menjadikan Banda sebuah kawasan yang unik karena dihuni berbagai suku bangsa di Nusantara, Arab, Tionghoa, dan Eropa. Masyarakat inilah yang membentuk masyarakat Banda hari ini. 

Perseteruan Belanda dan Inggris selama bertahun-tahun di Banda berakhir dengan ditanda tanganinya Perjanjian Breda pada 1667 yang berisi penyerahan Pulau Run dari Inggris ke Belanda. Sebagai gantinya Inggris mendapatkan hak atas Nieuw Amsetrdam (Mannhatan, New York) yang waktu itu dinilai sebagai ganti rugi yang cukup atas Pulau Run. 

Banda turut pula berperan penting dalam lahirnya Indonesia. Di Banda, kolonialisme dimulai. Namun di Banda pula ide-ide kebangsaan lahir. 

Pada saat hampir bersamaan, empat orang founding fathers Indonesia; Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, Dr Tjipto Mangunkusumo, dan Iwa Kusuma Sumantri, dibuang ke Banda Neira. Kisah terusirnya pribumi dan kedatangan bangsa-bangsa yang kemudian menjadi orang Banda dalam ragam interaksi sosial budaya membuat Sutan Sjahrir menjadikannya sebagai salah satu gagasan dalam perumusan Undang-Undang Dasar. 

Mengisahkan kehidupan di Kepulauan Banda dan pala saat ini adalah mengisahkan kisah-kisah tersembunyi yang membentuk kehidupan manusia hari ini. Kepulauan Banda dengan pala pada satu masa telah menjadi penyebab migrasi manusia dalam jumlah besar dari satu kawasan ke kawasan lain dan mencipakan ruang akulturasi bangsa bangsa dari seluruh penjuru dunia. 

Saat ini Banda tetap bertahan dengan industri perikanan dan pariwisata bawah lautnya. Pala Banda yang pernah menjadi koordinat penting dalam sejarah penjelajahan dan penaklukkan manusia, hari ini dihadapkan dengan kenyataan bahwa saat ini tidak lagi lebih dari komoditas sampingan karena tidak adanya inovasi dan kebaruan. Banda tetap bertahan walaupun dengan denyut nadi yang lemah. 

Film dokumenter Banda The Dark Forgotten Trail menuturkan ulang kisah sejarah Kepulauan Banda dan pala. Ini adalah sebuah cerita yang hampir terlupakan yang sebetulnya mampu membangkitkan kembali suatu semangat kebangsaan dan persatuan bangsa Indonesia saat ini. 

Film ini akan tayang di bioskop mulai 3 Agustus 2017. Menyambut rilisnya film ini, Rappler akan mengadakan diskusi dengan segenap kru yang terlibat dalam pembuatan dokumenter ini pada Kamis, 20 Juli 2017.

Diharapkan melalui acara ini dan film Banda, dapat membangkitkan kembali semangat generasi muda dan rasa kebanggaan terhadap bangsa, sekaligus membangkitkan lagi rasa kepemilikan atas Jalur Rempah.

Untuk detail acara dapat dilihat di laman ini. —Rappler.com 

BACA JUGA: