UNICEF sambut baik hasil kongres ulama perempuan

Ulama wanita asal Arab Saudi Hatoon Al Fassi (kanan) memberikan materi dalam International Seminar on Women Ulama di Kampus IAIN Syekh Nurjati, Cirebon, Jawa Barat, Selasa (25/4). Foto oleh Dedhez Anggara/ANTARA

Ulama wanita asal Arab Saudi Hatoon Al Fassi (kanan) memberikan materi dalam International Seminar on Women Ulama di Kampus IAIN Syekh Nurjati, Cirebon, Jawa Barat, Selasa (25/4).

Foto oleh Dedhez Anggara/ANTARA

JAKARTA, Indonesia — Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Anak-anak (UNICEF) menyambut baik rekomendasi yang dikeluarkan Kongres Ulama Perempuan Indonesia tentang batas minimal usia perempuan untuk menikah.

Dalam kongres yang digelar di Pondok Pesantren Kebon Jambu Al Islamiy Babakan Ciwaringin Cirebon pada 25 - 27 April 2017, para ulama perempuan sepakat usia minimal perempuan untuk menikah adalah 18 tahun.

Selain itu kongres juga mendesak diubahnya Undang-Undang Perkawinan Tahun 1974, yang menyatakan perempuan boleh dinikahi jika telah berusia 16 tahun. Rekomendasi kongres dianggap bisa menghentikan praktek “riskan” perkawinan usia anak.

“Ini adalah momen yang sangat penting bagi upaya mengakhiri perkawinan usia anak di Indonesia, dimana rata-rata lebih dari 3.500 anak perempuan dikawinkan setiap hari,” kata Kepala Perwakilan UNICEF Indonesia Gunilla Olsson dalam keterangan tertulis, Sabtu 29 April 2017.

Gunilla mengatakan anak perempuan yang menikah di bawah usia 18 tahun menghadapi berbagai risiko yang berbahaya bagi kesehatan, karena kehamilan dini. Dan sebagian besar dari mereka putus sekolah. 

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat 1.348.886 anak perempuan menikah sebelum usia 18 pada tahun 2012. Dari jumlah tersebut, 292.663 anak perempuan menikah sebelum usia 16 dan 110.198 sebelum usia 15.  

Anak-anak yang menikah dini juga juga  tidak menyelesaikan pendidikan menengah enam kali lebih besar dibandingkan mereka yang menikah di usia kemudian, membatasi peluang karier dan keterampilan mereka serta meningkatkan risiko terhadap kekerasan rumah tangga. “Ketika seorang anak perempuan diberdayakan, semua orang memperoleh manfaatnya.” kata Gunilla. —Rappler.com