Provide your email for confirmation

Tell us a bit about yourself

country *
province *

why we ask about location

Please provide your email address

Login

To share your thoughts

Don't have an account?

Login with email

Check your inbox

We just sent a link to your inbox. Click the link to continue signing in. Can’t find it? Check your spam & junk mail.

Didn't get a link?

Sign up

Ready to get started

Already have an account?

Sign up with email

By signing up you agree to Rappler’s Terms and Conditions and Privacy

Check your inbox

We just sent a link to your inbox. Click the link to continue registering. Can’t find it? Check your spam & junk mail.

Didn't get a link?

Join Rappler+

How often would you like to pay?

Monthly Subscription

Your payment was interrupted

Exiting the registration flow at this point will mean you will loose your progress

Your payment didn’t go through

Exiting the registration flow at this point will mean you will loose your progress

5 hal yang harus dipahami jika ingin jadi penulis

JAKARTA, Indonesia —Seiap orang pasti memiliki keahlian dan bakat masing-masing dalam banyak bidang. Termasuk dalam urusan menulis. Tapi tak semua orang ditakdirkan menjadi seorang penulis handal.

Meski terkesan sepele, profesi sebagai penulis, seperti halnya profesi lain, tidak selamanya indah. Akan ada masa dan kondisi di mana seorang penulis mengalami kebuntuan. Itu akan jadi kendala terbesar seorang penulis.

Apa saja yang perlu dipahami sebelum kamu memutuskan menjadi seorang penulis profesional? Simak di bawah ini.

Writer's block

Writer's block pasti pernah menyerang setiap penulis. Ini adalah kondisi di mana penulis merasa buntu, kehabisan ide dan kreativitas dalam menulis. Hal ini bisa datang tiba-tiba, berlangsung singkat atau malah ada yang sampai berlarut-larut.

Akibatnya, suasana hati jadi tak menentu dan semua terasa salah karena ada sesuatu yang belum tuntas meski tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

Jika ini terjadi, jangan panik. Banyak cara yang bisa dilakukan. Berhenti sejenak, tenangkan pikiran, istrahat, lakukan hal lain selain menulis, bahkan bepergian. Cobalah membangun mood dengan bertemu dan berdiskusi dengan banyak orang dan mungkin mendengarkan musik, menonton film atau melakukan hobi lain. 

Saat hatimu sudah nyaman, inspirasi akan lebih mudah datang dan kamu bisa melanjutkan tulisan yang tertunda.

Moody

Berbeda dengan profesi lain yang lebih taktis dan teknis, penulis lebih banyak mengandalkan perasaan. Karena itu, mood sangat menentukan hasil dan proses menulis seseorang. Tulisan yang bagus adalah tulisan yang berasal dari hati.

Jika mood sedang tidak bagus, sebaiknya tidak usah menulis. Kembali ke poin pertama, lakukan hal-hal yang membuatmu nyaman terlebih dahulu. Barulah inspirasi dan mood yang baik akan muncul.

Ide datang tiba-tiba

Ide dan inspirasi menulis bisa datang kapan dan di mana saja. Karena itu, usahakan untuk selalu siap sedia saat ide datang. Jangan sampai ide atau inspirasi itu berlalu begitu saja. Trik yang tepat adalah dengan merekam suaramu atau menulis di notebook atau smartphone.

Dengan demikian, ide bisa tertampung sementara sebelum kamu menuangkannya dalam bentuk tulisan yang lebih sempurna. Cukup catat atau rekam garis besar dari ide yang kamu pikirkan. Ditambahkan dengan sedikit keterangan yang bisa memudahkanmu mengembangkan tulisan nantinya.

Tidak yakin

Setelah tulisan selesai dan kamu membaca berulang-ulang, mungkin akan ada rasa ketidakpuasan yang hinggap di dirimu. Jangan langsung menghakimi hasil karyamu sendiri. Cara terbaik adalah dengan mengendapkannya dulu beberapa saat. Bisa berhari-hari atau berminggu-minggu. Lupakan tulisan itu sejenak.

Setelah pikiranmu terbarukan, barulah buka kembali dan baca lebih seksama. Dengan begitu, kamu bisa melihat lebih jernih tentang mana kekurangan dan kelebihan tulisan tersebut. Selain itu, jangan malas meminta pendapat orang lain. Mereka bisa memberikan opini yang netral untuk karyamu.

Naskah ditolak

Bahkan penulis-penulis besar dunia banyak yang mengalami masa saat karya mereka ditolak penerbit. Banyak alasan yang membuat karyamu ditolak. Jangan keburu depresi. Berbesar hatilah dan belajar dari kesalahan. Perkaya diri dengan mengikuti perkembagan zaman dan menggali apa yang kurang dari tulisanmu.

Kamu juga bisa berdiskusi dengan sesama penulis atau mungkin editor dan penerbit, apa yang harus diperbaiki dari karya tulismu. —Rappler.com

Artikel ini merupakan hasil kerjasama Rappler Indonesia dengan IDN Times