Bupati Purwakarta: Mulai hari ini pelajar tidak bisa merokok

 

JAKARTA, Indonesia — Mulai hari ini, Kamis, 1 Oktober, pelajar di Purwakarta, Jawa Barat, tidak bisa merokok. Bukan hanya di sembarang tempat, tapi juga di rumah. Jika nekat, Bupati Dedi Mulyadi siap memberi sanksi, yakni tidak naik kelas. 

Sanksi ini resmi diberlakukan setelah Dedi mengeluarkan Peraturan Bupati (Perbup) No. 71 tahun 2015 tentang Larangan Merokok Bagi Pelajar.

Perbub tersebut berisi larangan bagi para pelajar untuk merokok, serta larangan bagi warung, toko, minimarket dan supermarket menjual rokok kepada pelajar dan anak di bawah umur. Larangan juga termasuk bagi orangtua yang menyuruh anaknya membelikan rokok.

Ternyata, Dedi tak main-main dengan rencananya "bersih-bersih" perokok di bawah umur. Ia sampai mendatangkan puluhan dokter dari sebuah universitas swasta di Bandung.

Nota kesepahaman (MoU) ditandatangani untuk melayani puluhan ribu pelajar di Purwakarta. 

Simak wawancara singkat Rappler dengan Dedi pagi ini: 

Sasaran Perbub siapa saja? 

Terutama pelajar di bawah usia 17 tahun. Mulai dari anak SMA, SMP, hingga SD. Mereka akan dihukum tidak naik kelas. 

Di Purwakarta terdapat 27 SMA, 100 SMP, dan 450 SD. Jumlah murid SMA dan SMP mencapai 50 ribu siswa. Sedangkan SD mencapai 150 ribu siswa. 

Apa latar belakangnya? Ada data? 

Saya tidak berangkat dari data. Saya enggak baca dari data. Tapi berangkat dari pencegahan. Saya sering menjumpai anak-anak yang memakai baju seragam sekolah merokok di jalan-jalan. Saya pikir harus ada regulasi yang mengatur, agar ada efek jera buat bagi mereka. 

Optimis ini akan berhasil? Bagaimana kalau mereka merokok sembunyi-sembunyi? Anda tidak tahu, kan? 

Mereka enggak bisa diam-diam merokok. Karena kami akan periksa kesehatan gigi dan mulutnya, apakah mereka masih merokok enggak. 

Kami sudah uji coba pemeriksaan kesehatan gigi di empat SMA. Dan kami mendapati 150 anak aktif merokok. 

Untuk memudahkan pemeriksaan, kami memisahkan 150 siswa yang merokok dengan yang tidak merokok. Nanti siswanya dibuat kelas khusus dipisahkan dari teman-temannya. Tujuannya, agar memudahkan identifikasi kesehatan. 

Sekarang kami punya 20 dokter gigi yang memeriksa mereka. Kami juga bekerjasama dengan Universitas Kristen Maranatha Bandung. Kami sudah tandatangani MoU.

Nanti kita lihat perkembangan kesehatan gigi mereka pada Desember nanti. 

Optimis ya? 

Optimis, sangat optimis. 

Ngomong-ngomong, Anda dulu waktu muda merokok tidak? 

Tidak. Sejak kecil saya tidak merokok! —Rappler.com

BACA JUGA: