Kenangan pahit di Jembatan Lima

Beberapa bulan kemudian, tepatnya pada Oktober 1998, tim relawan kembali tertimpa bencana dengan terbunuhnya satu-satunya saksi untuk PBB yang juga korban pemerkosaan Mei 1998, Ita Martadinata.

Ita saat itu diminta menjadi saksi oleh PBB. Wiwin Haryono, ibunda Ita Martadinata, mengizinkan anak perempuannya yang masih berusia 18 tahun itu untuk pergi ke Amerika Serikat untuk memberikan kesaksian. Media massa saat itu pun tak luput untuk memberitakan kabar ini.

Sepekan sebelum berangkat, Ita Martadinata yang masih duduk di kelas 2 Sekolah Menengah Atas (SMA) menjalani aktivitas seperti biasa. Usai jam sekolah, ia pulang ke rumah.

Saat Ita Martadinata pulang, gadis belia itu langsung naik ke lantai dua menuju kamarnya. 

Ternyata di kamar itu sudah menunggu seorang laki-laki yang kemudian menyerangnya dengan benda tajam. Ita Martadinata tewas seketika. Tubuhnya ditemukan tertelungkup. 

Jenazahnya pun langsung dibawa ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Setelah divisum, dokter rumah sakit, Mun’im Idris, alih-alih mengungkap temuan tentang luka yang diderita Ita, tapi malah mengeluarkan pernyataan bahwa saksi untuk PBB itu menderita kelainan seksual. 

Hasil otopsi ini membuat tim relawan geram. Tim pun menggugat hasil otopsi ke pengadilan. 

Terkubur bersama kenangan pahit para korban

Setelah kematian Ita Martadinata, tak ada lagi saksi dan korban yang dapat memberikan keterangan di PBB. Laporan di PBB juga tak dapat dilanjutkan, karena negara menolak mengakui. 

Meski demikian tim relawan tak patah arang. Mereka terus berjuang untuk korban hingga 2007. 

Tapi suara-suara keadilan untuk korban mulai senyap. Korban pun akhirnya memilih bungkam dan menemukan penyelesaian versi mereka sendiri-sendiri. 

Seorang korban, Siska (bukan nama sebenarnya), yang diterbangkan ke Singapura berangsur-angsur pulih. Setelah ia sehat kembali, ia mengatakan pada pendampingnya, tak ingin kembali ke Indonesia. Ia masih trauma. 

Tapi ia menitipkan pesan tentang peristiwa yang menimpanya dan ratusan perempuan Tionghoa lainnya. 

“Sampai sekarang saya tidak habis pikir. Mengapa hanya gara-gara soal pergantian presiden, ada segelintir orang yang tega memperkosa orang Cina dan membakari rumah orang Cina? Mengapa ada orang yang tega menelanjangi  dan memperkosa seorang perempuan ramai-ramai seperti binatang? Meski keturunan Cina, saya adalah Indonesia! Makco dan buyut saya lahir di Indonesia!” kata Siska. 

“Kulit saya putih, mata saya memang sipit. Apakah karena itu saya patut diperlakukan berbeda?” katanya lagi. 

Saat ini, ia terus berjuang melupakan kejadian naas yang menimpanya pada Mei 1988 silam. Ia mengaku tak ingin membenci siapapun. 

Sementara itu, Ita F Nadia memberikan catatan terkait kasus pemerkosaan ini. Ia mengatakan, pemerkosaan pada perempuan Tionghoa bukan pemerkosaan biasa. Ia meyakini pemerkosaan ini dilakukan oleh sekelompok orang yang terlatih. 

Pemerkosaan ini juga bukan cerita biasa. Karena pemerkosaan Mei 1998 adalah bentuk teror politik yang menggunakan tubuh dan seksualitas perempuan Tionghoa. 

Sama dengan pemerkosaan-pemerkosaan massal lainnya yang terjadi pada 1965, misalnya. Di saat politik bergejolak, lagi-lagi tubuh perempuan harus dikorbankan. —Rappler.com

Laporan ini disusun dengan bahan dari laporan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) dan publikasi Komnas Perempuan terkait kasus pemerkosaan Mei 1998 berjudul "Disangkal". 

BACA JUGA: