Status darurat asap di Riau diperpanjang satu bulan


PEKANBARU, Riau—Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Riau memutuskan memperpanjang status darurat asap hingga sebulan mendatang. "Jangan sampai lengah, hotspot di Riau menurun namun kabut asap kembali muncul. Dengan pertimbangan itu, status diperpanjang," kata Kepala BPBD Riau, Edwar Sanger di Pekanbaru, Sabtu 31 Oktober 2015.

"Seluruh anggota tim penanggulangan bencana asap sepakat status siaga darurat penanggulangan karlahut diperpanjang hingga 30 November 2015," kata . Kesepakatan ini juga diambil menimbang beberapa kondisi saat ini. Selain juga untuk mengantisipasi munculnya titik api baru. Pertimbangan lain juga karena Provinsi Sumatera Selatan masih terdapat hotspot.

"Prediksi masih fluktuatif, sebab belum masuk musim hujan," ujarnya.

Status pencemaran udara akibat kabut di Provinsi Riau akan habis 1 November esok. "Kami juga menetapkan perpanjangan status Riau darurat pencemaran udara akibat kabut asap dengan koordinasi dengan BMKG," tuturnya.

Edwar Sanger mengingatkan tim saat ini lebih banyak mencegah dari pada penanggulangan api. Tim satgas TNI yang baru didatangkan juga akan dimanfaatkan seoptimal mungkin.

Berdasarkan pengamatan Antara di lapangan, kualitas udara Pekanbaru secara umum mulai membaik. Hujan yang menyirami beberapa wilayah menjelang sore pada intensitas lebat antara 1-1,5 jam perhari membuat cahaya matahari mulai terlihat.

Papan Indeks Standar Pencemaran Udara yang dipajang pada tiga titik sudah menunjukkan kualitas sedang dengan nilai 65 Psi pagi ini. Aktivitas belajar mengajar di semua jenjang pendidikan pun mulai normal dua hari ini. 

Empat bandar udara masih ditutup

Menteri Perhubungan Ignasius Jonan mengatakan bahwa hingga saat ini masih terdapat empat bandara yang ditutup akibat kabut asap.

"Dari sebanyak 35 bandara yang terkena dampak kabut asap, saat ini masih ada empat bandara yang belum beroperasi," kata Ignasius Jonan saat berkunjung di Bandara Internasional Adisutjipto Yogyakarta, Sabtu, 31 Oktober 2015.

Menurut dia, saat ini memang kepekatan asap dari kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Sumatera dan Kalimantan sudah mulai menurun dan ada beberapa yang sudah aman untuk penerbangan.

"Saat ini aktivitas penerbangan di Sumatera dan Kalimantan sudah mulai bergeliat lagi, puluhan bandara sudah kembali beroperasi lagi," kata dia.

Jonan mengatakan, empat bandara yang masih ditutup adalah

"Penutupan empat bandara ini lebih disebabkan kondisi udara yang masih pekat karena kabut asap," katanya.

Jonan mengatakan, sebelumnya akibat bencana kabut asap ini sebanyak 25 hingga 35 bandara di Indonesia sempat ditutup karena berbahaya bagi penerbangan pesawat udara.

"Keempat bandara yang masih ditutup tersebut dalam waktu dekat ini diharapkan dapat kembali beroperasi dan melayani jasa transportasi sipil," kata dia—Rappler.com dengan laporan dari Antara