Dinas Kesehatan Riau bantah 9 korban meninggal karena kabut asap

PEKANBARU, Indonesia — Dinas Kesehatan Provinsi Riau membantah pemberitaan media yang mengatakan kabut asap telah memakan sembilan korban jiwa.

“Sampai saat ini belum ada laporan korban meninggal akibat kabut asap,” kata Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau Andra Sjafril kepada Rappler, Senin, 26 Oktober.

Menurutnya, memang benar selama beberapa bulan belakangan ada warga Riau yang meninggal dunia, tapi penyebabnya bukan karena asap.

“Mereka yang diberitakan meninggal di media perlu diteliti lagi lebih detil penyebabnya. Kami belum mendapatkan laporan itu. Yang dilaporkan, korban meninggal karena penyebab lain,” kata Andra.

Sebelumnya, pada 14 September lalu, seorang gadis berusia 12 tahun bernama Muhanum Anggriawati meninggal dunia di RSUD Arifin Achmad, Pekanbaru, akibat gagal pernafasan.

“Dia batuk, parah kan, batuk parah seminggu itu, dan dia setelah batuk itu kan sesak,” kata Musriati, ibu Muhanum kepada Rappler, 19 September silam.

Namun menurut Andra, penyebab wafatnya Muhanum bukan karena kesulitan bernapas akibat menghirup asap, melainkan penyakit TBC.

“Dari pemeriksaan dokter, korban meninggal akibat penyakit TBC,” kata Andra.

Catatan 9 korban

Berdasarkan pemberitaan media dan testimoni keluarga korban, hingga kini sudah ada sembilan korban meninggal di Riau akibat terpapar kabut asap, Muhanum hanya salah satunya.

Korban berikutnya di Pekanbaru adalah Umaryanta (45 tahun), seorang pegawai Balatrans Pekanbaru. Umaryanta diduga meninggal karena penyempitan paru-paru di Rumah Sakit Santa Maria Pekanbaru, 19 September. 

Selanjutnya ada Iqbal Ali (31 tahun), seorang pegawai Kantor Wilayah Kementerian Agama Riau yang meninggal karena asmanya kambuh di RSUD Arifin Achmad, 5 Oktober. 

“Dari dulu anak saya memang mempunyai penyakit asma. Asmanya kambuh sejak asap pekat belakangan ini,” kata Hasan Amal, ayah Iqbal usai pemakaman anaknya.

Selain itu, ada Nafizah Azahrah, anak berumur 1 tahun 9 bulan, yang menderita infeksi paru-paru di Rumah Sakit Awal Bros Panam, 1 Oktober.  

Korban selanjutnya adalah Ramadhani Lutfi Aeril (9 tahun), seorang murid MIN 1 Pekanbaru yang meninggal di RS Santa Maria, 21 Oktober. Dari hasil rontgen terlihat ada bercak putih di parunya. 

Ada juga Keysa Putri, seorang bayi yang baru berumur 45 hari. Ia meninggal di rumah di Komplek Tarai II Kubang Raya, Pekanbaru, 22 Oktober. Kesya mengalami sesak nafas tanpa sempat dibawa ke rumah sakit.

Sementara tiga korban lainnya berada di luar wilayah Pekanbaru. Mereka adalah Muliya (12 tahun) dan Andriyanto (10 tahun) yang tinggal di Tembilahan Kabupaten Indragiri Hilir, dan Angga Saputra (2 tahun) di Pangkalan Kerinci Kabupaten Pelalawan.

Muliya meninggal dunia pada 1 Oktober setelah sempat dirawat di RSUD Puri Husada Tembilahan, Indragiri Hilir. Saat dilarikan ke rumah sakit, korban mengalami sesak nafas, kejang, dan muntah. 

"Hidungnya juga mengeluarkan darah. Dia meninggal setelah satu hari di rawat," kata Mansah, ayah Muliya.

Sementara itu, ayah Andriyanto, Kurnain, menyebutkan gejala yang sama terjadi pada anaknya sebelum meninggal di RSUD Puri Husada, 22 Oktober.

"Dokter bilangnya karena asap. Terus ketika di rumah sakit, sempat diasap beberapa kali, dan banyak cairan hitam-hitam yang keluar," ungkap Kurnain.

Pihak RSUD Puri Husada Tembilahan memvonis Andriyanto meninggal karena mengidap bronkopneumonia — peradangan dinding bronkiolus (saluran napas kecil pada paru – paru. Bronkopneumonia biasanya disebabkan oleh pencemaran, baik pencemaran udara, air, maupun tanah.

''Kita tidak ngerti apa penyakit itu, tapi kata dokternya karena asap,'' ujar Kurnain. Ia mengaku, selama kabut asap terjadi, anaknya bisa dikatakan tidak pernah menggunakan masker saat bermain di luar rumah.

Korban lainnya, Angga Saputra asal Kabupaten Pelalawan, meninggal setelah sempat dirawat di RS Evaria. Ia meninggal pada 22 Oktober karena infeksi paru-paru.

Namun, Dinas Kesehatan Kabupaten Pelalawan langsung membantah kematian Angga akibat asap.

"Kami sudah turun ke RS Evaria dan mengonfirmasi langsung pihak rumah sakit dan dokter yang menangani korban. Jadi kalau dibilang karena ISPA, itu tidak benar, " kata Sekretaris Dinas Kesehatan Asril, Sabtu, 24 Oktober.

Asril menyebutkan, korban saat masuk rumah sakit sudah menderita pneumonia berat atau infeksi paru-paru. Ada juga beberapa infeksi di bagian organ dalam. 

Namun Asril tidak membantah, kalau korban yang terkena infeksi paru-paru, akan semakin parah jika terkena asap kalau tidak ditangani cepat. 

Perlu hasil rontgen dan autopsi untuk tentukan penyebab kematian

Koordinator Humas Dinas Kesehatan Provinsi Riau Rozita Rossi menyebutkan, pihaknya tidak bisa merilis data meninggal, karena menurutnya dinas kesehatan hanya menerima laporan dari pihak rumah sakit dan puskesmas seluruh Riau.

“Kami juga tidak bisa memasukkan mereka yang meninggal akibat asap seperti dimuat di media sebagai korban asap, karena perlu kajian lebih dalam. Perlu diperiksa hasil rontgen dan autopsi” kata Rozita. 

Berdasarkan testimoni keluarga korban, rata-rata korban meninggal akibat ISPA, pneumonia, dan ada yang asmanya kambuh karena terpapar kabut asap dan minimnya oksigen.

Inilah yang disesalkan Ketua PWI Provinsi Riau Dheni Kurnia. Dheni mengambil perumpamaan orang yang hidup terus menerus di ruang penuh asap rokok, padahal dia tidak merokok. 

“Apakah kalau dia kemudian mati, tidak bisa disebutkan dia mati karena menghirup asap rokok?” ucapnya berumpama.

“Betul, orang meninggal karena ajalnya tiba. Tapi, asap bisa jadi penyebab kematian seseorang dipercepat,” kata Dheni. 

Ia memberi contoh seperti yang terjadi pada Iqbal Ali. Korban sejak kecil mempunyai riwayat asma, namun setelah terpapar kabut asap tiga bulan lebih, asmanya kembali kambuh dan meninggal. —Rappler.com

BACA JUGA: