Ekonom Mari Pangestu soal Brexit: Dampak langsung ke Indonesia terbatas

 

JAKARTA, Indonesia — Masyarakat ekonomi dan bisnis menunggu dengan harap-harap cemas hasil akhir dari referendum atau pemungutan suara yang tengah dilakukan oleh warga Inggris, yang akan memutuskan apakah mereka akan tetap bersama atau keluar dari Uni Eropa, pada Jumat, 24 Juni.

Referendum ini juga disebut sebagai Brexit, gabungan antara kata “Britain” dan “Exit”. Hasil hitung awal menunjukkan 52 persen warga Inggris memilih untuk keluar dari Uni Eropa.

Apa itu Brexit? Selengkapnya dapat dibaca di sini.

“Kita tidak banyak perdagangan dengan Inggris,” kata Mari kepada Rappler, Jumat. 

Menurutnya, dalam jangka pendek akan terjadi kerentanan di pasar uang.  

“Mata uang poundsterling dan euro akan memimpin dalam aliran kerentanan pasar uang ini. Mata uang dolar AS akan menguat. Tentu dampaknya rupiah melemah,” ujar Mari.

Dalam jangka menengah muncul pertanyaan serius mengenai kelangsungan Uni Eropa, masa depan mata uang Euro, dan kebebasan lintas batas bagi warga di kawasan itu. 

“Untuk Inggris, sebenarnya masih ada proses yang belum pasti. Dari referendum hari ini, ada dua tahun proses sebelum benar-benar keluar dari Uni Eropa,” kata mantan Menteri Perdagangan ini.  

Walaupun Inggris keluar dari Uni Eropa mereka masih bisa mengakses pasar Eropa, sebagaimana yang tengah dilakukan dalam perjanjian antara Norwegia dan Uni Eropa saat ini.  

“Jadi, jika benar Brexit yang menang, bisa saja less distruptive daripada yang kita khawatirkan,” kata Mari.  

Lagipula Inggris selama ini memang tidak menggunakan mata uang euro.

Skenario positif jika dalam dua tahun ke depan memang hasilnya adalah Brexit, maka dalam prosesnya pemerintah Inggris harus melakukan berbagai cara untuk menyenangkan kelompok yang pro Brexit. 

Mulai dari pembatasan imigran yang lebih ketat, kesetaraan lebih besar dalam masyarakat, lebih besar transparansi dan kesempatan bagi usaha kecil dan menengah. —Rappler.com

BACA JUGA: