Inggris vs Rusia: Serba was-was di laga perdana

JAKARTA, Indonesia – Inggris adalah “tanah air sepak bola”. Demikian kata penulis Sindhunata dalam catatan sepak bolanya yang termashyur itu.

Tapi, prestasi mereka di lapangan hijau tak menunjukkan bahwa mereka adalah “pemilik sepak bola yang sah”.

Dari semua partisipasi tim berjuluk The Three Lions tersebut di turnamen akbar, hanya sekali mereka menjadi juara Piala Dunia, yakni pada edisi 1966.

Di Piala Eropa alias Euro justru lebih buruk. Mereka bahkan tak pernah mencapai final. Paling banter hanya sampai semi final. Itupun, dari 14 kali ajang tersebut digelar, hanya dua kali mereka tembus ke semi final. Pada Euro 1968 dan 1996.

Sisanya, mereka berputar-putar di antara keok sejak fase grup dan perempat final.

Prestasi mereka dalam tiga edisi terakhir major tournament juga setali tiga uang. Inggris hanya mampu mencapai 16 besar di Piala Dunia Afrika Selatan 2010 dan bahkan menjadi juru kunci di grup D Piala Dunia Brasil 2014.

Yang lebih mendingan adalah catatan mereka di Euro 2012. Mereka mencapai perempat final sebelum kandas di tangan Italia melalui drama adu penalti.

Dengan sekian banyak rentetan naas mereka di turnamen besar, para penggemar sepak bola tak banyak yang menjagokan mereka di ajang empat tahunan ini. Mereka bahkan tak masuk dalam favorit juara utama.

Padahal, tahun ini mereka sedang panen talenta. Terutama di sektor depan dan lini tengah.

Line up lini depan pasukan Roy Hodgson itu termasuk yang paling berbahaya di Eropa. Mereka memiliki dua penyerang paling produktif di Liga Primer. Harry Kane adalah top scorer dengan 25 gol sedangkan Jamie Vardy hanya berselisih satu gol dengannya.

Itu belum termasuk idola baru publik Old Trafford Marcus Rashford, Daniel Sturridge (Liverpool), dan muka lama Wayne Rooney.

Di lini tengah ada talenta menjanjikan Tottenham Hotspur Dele Alli dan pemain utama Manchester City Raheem Sterling.

Nama-nama besar tersebut tak hanya jadi macan kertas. Di fase kualifikasi, Inggris mencatat hasil sempurna dengan 10 kemenangan. Mereka bahkan menjadi satu-satunya kontestan yang lolos dengan hasil 100 persen.

Determinasi itu juga menular di laga uji coba. Dari 7 laga uji coba, mereka menang 6 kali. Hanya sekali kalah. Pada Maret lalu, mereka bahkan mengalahkan Jerman 3-2.

Setelah babak belur di Piala Dunia 2014, banyak yang menganggap ini adalah titik balik Inggris. Apalagi, mereka kini berkekuatan para pemain muda. Rata-rata usia pemain menyamai juara dunia Jerman: 25 tahun.

Karena itulah, mau tidak mau, harapan masih selalu ada untuk tim dari “negeri sepak bola” itu. Namun, harapan itu menagih pembuktian: mereka harus tampil meyakinkan saat melakoni laga perdana grup B melawan Rusia, Minggu 12 Juni pukul 02.00 WIB dini hari.

#EURO2016 #EUROFACT England has played 14 times against Russia or URSS: 6 WINS 4 DRAWS 4 DEFEATS — MisterChip (English) (@MisterChiping) June 11, 2016

Masalahnya, Inggris kerap lambat panas. Laga perdana biasanya berakhir seri. Di Euro 2012, misalnya. Mereka ditahan Perancis 1-1. Di Piala Dunia 2014, mereka bahkan keok atas Italia 1-2.

Jauh sebelum itu, mereka juga kalah atas Perancis 1-2 di Euro 2004.

Lantas, bagaimana dengan Euro 2016?

Catatan head to head kedua tim cukup imbang. Sejak Uni Soviet pecah, Inggris hanya dua kali bertemu Rusia. Dalam kualifikasi Euro 2008, Inggris menghajar Rusia 3-0 di Wembley. Namun, kemenangan telak itu dibalas Rusia dengan mengalahkan mereka 2-1.

Inggris unggul pengalaman dan skuat

Namun, secara teknis Inggris jelas berada di atas angin. Skuat mereka termasuk salah satu yang kompetitif di antara tim-tim lainnya. Dengan pengecualian adu penalti, pasukan ini belum pernah kalah dalam 22 laga resmi Eropa sejak November 2007.

Kekuatan Inggris juga jauh lebih merata. Mereka punya pemain bintang di semua sektor.

Bandingkan dengan Rusia yang sangat bergantung pada Artem Dzyuba. Dari 18 gol mereka di kualifikasi, 50 persen di antaranya selalu melibatkan Dzyuba. Rinciannya, 8 gol dan satu assist.

Selain itu, Rusia bakal kalah jauh dalam hal faktor pengalaman. Roy Hodgson sudah mendampingi anak asuhnya sejak 2012 atau empat tahun berjalan. Dia tak bakal canggung dengan panggung elit sepak bola seperti Euro.

Hal itu jauh berbeda jika dibandingkan dengan pelatih Rusia Leonid Slutsky. Ini adalah major tournament pertama pelatih 45 tahun tersebut.

Dengan situasi tersebut, Rusia tampaknya bakal lebih banyak bertahan. Mereka akan membuat para penyerang cepat Inggris frustrasi untuk kemudian melancarkan serangan balik.

Inggris hanya perlu menenangkan dirinya. Tekanan laga perdana selalu tak mudah. Hal itu diakui oleh Rooney.

“Saya ingin menikmati pertandingan ini dan saya harap seluruh tim juga. Sudah terlalu banyak harapan dan tekanan dan biasanya itu tidak akan menghasilkan apa-apa,” katanya seperti dikutip ESPN.

Tapi, kata dia, Inggris yang sekarang sudah banyak belajar. Apalagi, dulu tekanan itu dia emban seorang diri. Sebagai pemain utama Manchester United, dia ditekan untuk menularkan kesuksesan yang sama di level timnas.

“Sekarang semuanya berbeda. Tim sudah memiliki banyak pemain bermental juara. Beban saya jadi lebih enteng,” katanya.

Jika Inggris bisa mengatasi tekanan laga perdana, bisa jadi kemenangan bakal tiba. Dan lagu football comes home bakal kembali mengudara.—Rappler.com

BACA JUGA: