Irlandia Utara vs Jerman: Titik balik Die Mannschaft

JAKARTA, Indonesia – Jerman tak berkutik di laga keduanya melawan Polandia di Euro 2016. Pertandingan yang berlangsung seri 0-0 itu menunjukkan tumpulnya lini depan. Pemain yang berperan sebagai pembeda juga tidak banyak terlihat.

Hasil seri tersebut menunjukkan bahwa mereka kehilangan sosok penerobos pertahanan. Pemain yang masuk ke pertahanan lawan dari ruang-ruang kosong.

Sebelumnya, peran itu diemban Philipp Lahm. Meski berposisi sebagai fullback, pemain yang kini menginjak usia 32 tahun itu kerap menerobos masuk ke pertahanan lawan dari posisi blind space.

Lawan yang tak menduga pergerakan pemain Bayern Muenchen pun tak sanggup menghentikannya. Lahm pun leluasa mengirim crossing atau melakukan skema umpan-umpan pendek dengan para penyerang.

Bahkan, banyak yang menganggap Lahm adalah bek dengan mindset seorang playmaker. Pantas jika der trainer Bayern Muenchen, Josep “Pep” Guardiola, sempat memasangnya sebagai gelandang jangkar.

Namun, setelah kapten timnas itu pensiun dari timnas, tak ada lagi pemain yang memiliki kemampuan setara dengannya. Fullback Jerman saat ini tidak banyak yang memiliki inisiatif serangan seperti Lahm.

Selain itu, ketiadaan Lahm juga mengisi posisi lowong yang sulit tergantikan: kepemimpinan. Meski kini ban kapten sudah berpindah ke Bastian Schweinsteiger, tapi pemain Manchester United itu tak bisa benar-benar menggantikan peran Lahm.

Terbukti, dalam laga melawan Polandia, kebuntuan di lini depan tak bisa diselesaikan. Tak ada inisiatif berbeda dari para pemain kecuali melakukan skema serangan yang sama berulang-ulang.

Menghadapi Irlandia Utara, Selasa, 21 Juni, pukul 23:00 WIB, situasi tersebut tak boleh terjadi. Tim berjuluk Die Mannschaft tersebut harus segera kembali ke jalur juara. Sebab, hasil seri melawan tim asuhan Michael O’Neill itu bakal mengancam peluang mereka ke 16 besar.

Irlandia Utara siapkan skema bertahan

Jerman bisa gugur di fase grup jika bermain seri lawan Irlandia Utara dan Polandia mengalahkan Ukraina.

Apalagi, dengan peluang Ukraina ke babak berikutnya sudah pasti tertutup, Polandia jelas berada di atas angin untuk membekuk mereka.

Situasi sulit bagi pasukan Joachim Loew karena Irlandia Utara termasuk tim dengan karakter bertahan. Mereka kerap menumpuk sepuluh pemain di belakang demi menjaga gawangnya dari kebobolan.

Dalam laga melawan Polandia yang berakhir 0-1, mereka memainkan skema 3-5-1-1. Di laga kedua, O’Neill berubah pikiran dengan menurunkan formasi 4-5-1. Formasi tersebut membuat pertahanan lebih aman dan serangan balik via sayap bisa lebih mematikan.

Selain itu, lini kedua bisa lebih banyak melepas tembakan. Hasilnya, mereka menang 2-0 atas Ukraina.

Dengan menumpuk pemain di tengah dan memasang penyerang tunggal, tak heran tak ada gol yang lahir dari kaki penyerang dalam laga tersebut.

Justru gol datang dari bek Gareth McAuley dan Niall McGinn yang seorang gelandang.

Mau tidak mau, Joachim Loew harus membuat terobosan untuk membongkar pertahanan Irlandia Utara sekaligus mewaspadai serangan balik mereka.

Salah satu upayanya adalah dengan memasang Thomas Mueller sebagai ujung tombak dalam formasi 4-2-3-1. Itu membuat pemain Bayern Muenchen itu bebas bergerak.

Apalagi, Mueller termasuk penyerang yang pergerakannya sangat bebas dan tak bisa diduga. Meski berada di ujung tombak serangan, dia bisa beredar di banyak tempat di lini depan. Tak salah jika dia juga dijuluki Der Raumdeuter alias si pencari ruang.

“Sangat mungkin akan ada satu dua perubahan dalam line up. Tentu saja kami juga sudah membicarakan kemungkinan menempatkan Mueller di depan. Apakah itu akan terjadi? Wait and see,” kata Loew seperti dikutip situs resmi UEFA.

Meskipun begitu, Jerman tetap sulit jika hanya mengandalkan pergerakan Mueller. Harus ada pemain dari lini kedua yang rajin menerobos benteng Irlandia Utara. Peran itu bisa diemban Mesut Oezil atau Julian Draxler.

Pelatih Irlandia, Michael O’Neill, sadar bahwa timnya berada dalam posisi inferior. Namun, mereka kini tinggal berjarak satu laga saja dari 16 besar.

Jika bisa mengalahkan Jerman, mereka langsung lolos ke 16 besar. Namun, apabila kemenangan dirasa terlalu ambisius, hasil seri saja bisa menjaga asa mereka. Tentu, mereka tak langsung lolos. Tapi menunggu dengan berdebar-debar apakah mereka masuk dalam 4 peringkat ketiga terbaik.

“Poin berapapun yang kami raih, semuanya sangat berat. Tapi ‘hadiah’ yang akan kami dapatkan sangat luar biasa. Peluang untuk lolos ke 16 besar,” kata O’Neill.

“Jika kami bisa meraih sesuatu dari laga ini, tiga atau satu poin, kami akan berada pada posisi yang kuat. Kami akan mengulangi gaya yang sama saat melawan Ukraina,” imbuh 46 tahun tersebut.—Rappler.com

BACA JUGA: