Perancis vs Albania: Saatnya Les Bleus tepis keraguan

JAKARTA, Indonesia – Laga perdana Perancis di Euro 2016 sama sekali tak menunjukkan kelasnya sebagai favorit juara. Mereka memang menang 2-1 atas Rumania. Namun, kemenangan yang baru datang di menit ke-89 via Dimitri Payet itu menunjukkan bahwa tim masih belum sempurna.

Di babak pertama, pasukan Didier Deschamps tersebut bermain dengan intensitas yang rendah. Peluang tak banyak dihasilkan. Padahal, mereka sudah memasang pemain terbaiknya.

Trio penyerang diisi oleh barisan pendobrak terbaik Perancis: Antoine Griezmann di kanan, Olivier Giroud di tengah, dan Payet di kiri.

Tiga gelandang di belakang mereka ada Blasé Matuidi, N’Golo Kante, dan Paul Pogba.

Namun, beberapa kali pemain juga membuat kesalahan. Pogba yang biasanya banyak masuk ke area berbahaya lawan justru kerap terpinggirkan. Begitu juga Griezmann yang benar-benar dibuat mati kutu oleh bek-bek Rumania.

Akibatnya, setelah unggul 1-0 di babak pertama, Perancis harus rela skor disamakan Rumania di menit ke-65 melalui Bogdan Stancu. “Perancis terpincang-pincang di laga pertamanya,” kata penulis sepak bola Jonny Singer di Daily Mail.

Lantas, bagaimana laga kedua mereka melawan Albania, Kamis, 16 Juni di Stade Velodrome, Marseille, pukul 02.00 WIB?

Jelang laga digelar, Deschamps tak mau menekan pasukannya. Dia tahu Pogba mendapat kritikan tajam di laga tersebut. “Paul bisa berbuat lebih baik, saya tahu. tapi saya tak mau terlalu keras padanya,” kata Deschamps seperti dikutip Daily Mail.

Kapten tim Hugo Lloris mengakui bahwa timnya banyak masalah di pertandingan pertama. Situasi tersebut memang bisa dianggap wajar. Sebab, jelang turnamen dimulai masalah internal kembali menerpa tim.

Deschamps harus menendang striker Real Madrid Karim Benzema dari line up Perancis yang diboyong ke Euro 2016. Benzema terlibat konflik dengan Mathieu Valbuena.

Absennya Benzema mungkin membuat pasukan semakin solid. Sebab, Deschamps benar-benar menegakkan disiplin. Para pemain jadi lebih mempercayai kepemimpinannya.

Tapi, harus diakui Benzema adalah mesin gol Perancis. Musim ini dia mencetak 24 gol bagi Real Madrid dan total 27 gol untuk timnas.

Namun, Lloris menganggap masalahnya bukan soal itu. Tapi lebih pada mental. “Penyebab utama adalah masalah mental,” kata kiper Tottenham Hotspur tersebut seperti dikutip Sports Mole.

“Di laga pertama kami tidak tahu apa yang harus dilakukan. Tekanannya jauh lebih besar daripada biasanya,” kata pemain 29 tahun tersebut.

“Tapi, di laga kedua akan berbeda,” janjinya.

Misi Albania hentikan Payet

Perancis memang harus segera menepis keraguan. Pasalnya, Albania bukan tim yang gampang dikalahkan. Melawan Swiss di laga pertama, mereka hanya kalah 0-1. Padahal, tim berjuluk Shqiponjat (Si Elang) tersebut bermain dengan sepuluh orang.

Di laga pertama juga Albania mampu menunjukkan soliditas tim. Absennya Lorik Cana akibat kartu merah di laga pertama bisa digantikan Ledian Memushaj.

Pelatih Albania yang asal Italia, Gianni De Biasi, jelas mendasarkan permainan timnya pada pertahanan yang kokoh.

Sayap kanan Odise Roshi bisa digantikan Andi Lila yang seorang bek kanan. Tujuannya, meredam penyerang sayap Perancis paling berbahaya: Payet.

Lila bakal saling menutupi pergerakan Payet dengan Elseid Hysaj. Hysaj adalah bek kanan Albania yang bermain di Italia bersama Napoli.

Payet memang harus mendapat perhatian spesial dari pasukan De Biasi selain talenta Perancis lainnya. Sebab, pemain West Ham United itu terbukti mampu menjadi pembeda saat rekan setimnya tak bisa berkreasi karena solidnya pertahanan lawan.

Situasi bagi Perancis sedikit lebih sulit karena rekor dalam dua tahun terakhir berpihak pada Albania. Sejak 2014, Hugo Lloris dan kawan-kawan belum pernah mengalahkan Albania.

Keduanya bermain seri dalam laga persahabatan November 2014 dan Albania justru menang 1-0 saat bentrok 13 Juni tahun lalu.

Albania jelas bakal lebih berhasrat untuk mengulanginya lagi. Dalam partisipasi pertamanya di ajang sepak bola Eropa empat tahunan itu, Lorik Cana jelas bermain lebih lepas.

Apapun hasilnya, partisipasi mereka di Euro 2016 sudah merupakan prestasi yang besar bagi republik yang hanya berpenduduk 2 juta jiwa itu.

Deschamps mengakui, pertandingan bakal sulit bagi kedua tim. Terutama pasukannya yang harus lebih banyak menciptakan inisiatif serangan.

Karena itu, dia tetap berharap Payet bakal kembali bermain cemerlang. “Payet berperan sangat penting dalam situasi seperti ini. Di level klub, kiprah dia selalu menentukan hasil pertandingan. Sekarang dia menularkannya di laga internasional,” katanya.–Rappler.com 

BACA JUGA: