Provide your email for confirmation

Tell us a bit about yourself

country *
province *

why we ask about location

Please provide your email address

Login

To share your thoughts

Don't have an account?

Login with email

Check your inbox

We just sent a link to your inbox. Click the link to continue signing in. Can’t find it? Check your spam & junk mail.

Didn't get a link?

Sign up

Ready to get started

Already have an account?

Sign up with email

By signing up you agree to Rappler’s Terms and Conditions and Privacy

Check your inbox

We just sent a link to your inbox. Click the link to continue registering. Can’t find it? Check your spam & junk mail.

Didn't get a link?

Join Rappler+

How often would you like to pay?

Monthly Subscription

Your payment was interrupted

Exiting the registration flow at this point will mean you will loose your progress

Your payment didn’t go through

Exiting the registration flow at this point will mean you will loose your progress

FAKTA: Pelaku tindak pidana terorisme berusia belia

JAKARTA, Indonesia – Tengoklah data-data yang membuat hati miris ini. 

Zefrizal Nanda Mardani, lahir di Trenggalek pada 30 Desember 1993. Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Surabaya ini diduga pergi ke Suriah bersama istrinya. Sang istri kuliah di Fakultas Sains dan Teknologi di Unair juga dan lebih dahulu bergabung dengan Negara Islam di Irak dan  Suriah (NIIS) atau lebih popular dengan singkatan ISIS (Islamic State of Iraq and Syria).  

Zefrizal pernah menyabet medali emas Olimpiade Astronomi di Ukraina tahun 2007.  Sebelum dicurigai pergi ke Suriah, sejak dua semester Zefrizal tak nampak di kampusnya.

Rudi Jaelani usianya sekitar 25 tahun. Dia alumni Universitas Islam Bandung (Unisba) yang diduga bergabung dengan ISIS melalui Turki. Dugaan bergabungnya Rudi berdasarkan laporan sebuah akun Twitter milisi Kurdi asal Indonesia yang menggunggah dokumen berupa foto ijazah warga Kota Bandung itu.  

Sekitar bulan April-Mei 2015, keluarga sempat berkomunikasi dengan Rudi.  Saat itu Rudi mengaku tengah berada di Singapura. Tak kurang dari Rektor Unisba yang meminta pemerintah mengecek apakah benar Rudi bergabung dengan ISIS. Informasinya simpang-siur.

Ada pula RES yang baru berusia 16 tahun. Menurut data yang dikumpulkan Badan Nasional Penangggulangan Terorisme (BNPT), pelajar sebuah sekolah menengah di provinsi Jawa Barat ini bergabung dengan kelompok Bahrum Naim. Bahrum Naim disebut polisi sebagai terduga dalang penembakan dan bom di Jalan Thamrin Jakarta

RES diduga belajar membuat senjata api bom asap beracun dari internet.  Sejak di kelas 5 SD RES sudah mengenal media sosial dan aktif menggunakan akun Facebooknya.  Dari situ terlihat kecenderungan RES mengakses informasi dari situs Islam garis keras.  Keluarganya sempat mengajaknya belajar mengaji.  Namun RES menganggap apa yang disampaikan guru mengaji tidak sesuai dengan pemahamannya.

Tiga anak muda ini hanya sebagian dari mereka yang diduga terbujuk untuk bergabung dengan organisasi teroris, ISIS. Ada lagi bentuk lain yang terinspirasi ISIS dan melakukan tidak kekerasan. IAH, 18 tahun, mencoba meledakkan bom di Gereja Santo Yosep, Medan. Untung tidak ada korban jiwa tewas.  

Pelaku sempat melukai pastor dengan menikam tangannya. Kepada polisi, IAH mengaku terinspirasi dari informasi di internet terkait serangan teroris di Perancis.

 Pada bulan Juli 2016, seorang pastor di Perancis tewas digorok oleh dua orang tak dikenal. Keduanya juga menyandera beberapa orang.  ISIS mengklaim pelaku adalah “tentara” mereka.

 Teroris berusia belia dan berpendidikan tinggi

“Usia teroris makin belia. Mereka dalam rentang usia yang sedang aktif menggunakan medium komunikasi internet,” kata Kepala BNPT Komisaris Jendral Polisi Suhardi Alius.  

Pekan terakhir September 2016, Suhardi memaparkan perkembangan upaya penanggulangan teror di hadapan sejumlah pemimpin media. Acara dibuka oleh Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan, Wiranto. 

Dari data yang diperoleh BNPT, berdasarkan riset terhadap 110 pelaku tindakan terorisme, paling banyak ada di rentang usia 21-30 tahun (47,3 persen), setelah itu pada rentang usia 31-40 tahun (29,1 persen). Yang berusia di bawah 21 tahun ada 11,8 persen. Data ini berdasarkan penelitian 2012.  

Tapi melihat kasus-kasus yang ada belakangan ini, fakta bahwa teroris berusia semakin belia itu sulit dibantah. Survei di tahun yang sama mengenai potensi radikalisme di lingkungan mahasiswa menunjukkan 26,7 persen setuju jihad dengan penggunaan kekerasan.  Yang tidak setuju 68,4 persen.

Survei di atas dilakukan dengan sampel mahasiswa Universitas Islam Negeri/IAIN di UIN Jakarta, UIN Yogyakarta,  UIN Makassar, UIN Surabaya, UIN Banjarmasin, UIN Sumatera Utara dan IAIN Padang.

Temuan BNPT lainnya soal tingkat pendidikan pelaku tindak terorisme. Faktanya,  teroris berasal dari kalangan terdidik. 

Sebanyak 63,6 persen lulus sekolah menengah atas, 16,4 persen lulus dari universitas.  

“Mereka ini terpapar intensif dengan teknologi komunikasi dan berpotensi untuk menjadi perekrut juga,” ujar Suhardi Alius.

Survei terbaru yang dilakukan oleh Wahid Foundation di tahun 2016 menunjukkan angka yang membuat kita perlu waspada. Menurut proyeksi, dari 150 juta penganut muslim di Indonesia, sekitar 7,7 persen atau 11,5 juta orang berpotensi bertindak radikal sedangkan 0,4 persen atau 600 ribu orang pernah terlibat.

Mengenai persepsi terhadap ISIS, Setara Institut pernah melakukan survei terhadap pelajar sekolah menengah umum di Jakarta dan Bandung pada tahun 2015.  Hasilnya, 16,9 persen menyatakan bahwa ISIS adalah pejuang-pejuang yang hendak mendirikan agama Islam.

Tentang pengaruh komunikasi di media sosial terhadap proses radikalisasi dan rekrutmen pelaku aksi teror diakui oleh Ayub Abdurrahman, mantan pimpinan Jemaah Islamiyah yang kini insaf dan membantu BNPT dalam melakukan program deradikalisasi di berbagai penjara, tempat pelaku teror ditahan. Karena itu komunikasi dan pengawasan dari keluarga sangat penting. 

Motif, pola dan cara perekrutan teroris menjadi lebih canggih. ISIS merekrut dalam tiga tahap.

“Kalau ISIS ini saya juga ngeri, karena saya juga punya anak. Jangan sampai anak saya mengikuti jejak saya, sampai meninggalkan keluarga berperang di Afghanistan selama lima tahun dan dianggap sudah mati sama keluarga saya, karena enggak pamit dan enggak boleh berkomunikasi,” ujar Ayub Abdurrahman, kepada Rappler, tak lama setelah terjadi ledakan bom di depan kawasan Sarinah, Jakarta.

Perang melawan teror di dunia maya menjadi semakin sulit karena unsur anonimitas.  Pemerintah juga memiliki kesulitan untuk memonitor, termasuk menutup situs maupun akun media sosial yang menebar paham radikal. Panduan membuat alat ledak dan berjihad berserakan di dunia maya.

Kementerian Luar Negeri AS memonitor, setiap hari ada sekitar 90.000 konten terkait ISIS dan paham radikal yang diunggah ISIS dan organisasi terkait ISIS ke media sosial. Analis intelijen mengamati bahwa para pengikut dan simpatisan bekerja 24 jam dalam membangun percakapan dan diskusi di media sosial, dengan tujuan merekrut pengikut. 

Dari film Jihad Selfie kita mendapatkan pengakuan Teuku Akbar Maulana, remaja usia 17 tahun asal Aceh, yang nyaris menjadi tentara Abu Bakr Al-Baghdadi, pemimpin ISIS. Menurut versi Akbar, ada empat cara ISIS mendekati kaum muda.  

Langkah pertama adalah menyasar media sosial. Faktor kedua adalah soal keluarga.  

“Kurangnya perhatian terhadap anggota keluarga dalam memantau akses ke internet yang dilakukan anak-anak, memperlebar ruang nyaman bagi mereka untuk terjerat ke jaringan terorisme,” kata Suhardi Alius.

Sampai April 2016 lalu, jumlah Warga Negara Indonesia (WNI) di Suriah diperkirakan berjumlah sekitar 1000 orang. Sementara, data BNPT menunjukkan jumlah WNI yang tergabung dengan ISIS sekitar 500 orang. -Rappler.com