Kawanan gajah mencoba menyelamatkan diri dari kebakaran hutan


PEKANBARU, Riau—Sekitar 15-20 ekor gajah di Taman Nasional Teso Nilo, Indragiri Hulu, Pelalawan, Riau terlihat keluar dari hutan. Kawanan gajah ini diduga mencoba menyelamatkan diri dari kebakaran hutan.

“Tim Flying Squad kami mendapat laporan dari masyarakat mengenai adanya kawanan gajah yang keluar dari dalam hutan,” kata Syamsidar, staf komunikasi World Wife Fund (WWF) Pekanbaru, kepada Rappler, Rabu siang, 28 Oktober di Pekanbaru. Kawanan gajah itu ditemukan di daerah Peranap Indragiri Hulu dekat perbatasan hutan tanaman industry PT Rimba Peranap Indah (RPI).

Flying Squad adalah tim yang menggunakan gajah terlatih untuk mengusir gajah-gajah liar yang masuk ke dalam pemukiman penduduk untuk kembali ke hutan.

Menurut Syamsidar, tim Flying Squad yang menggunakan empat ekor gajah itu tidak berani mendekati kawanan gajah liar tersebut. Kabut asap yang pekat mengurangi jarak pandang dan membuat mereka tidak berani mendekat. Tim ini hanya berani menembakan bedil untuk mengusir kawanan itu kembali ke dalam hutan.

“Waktu itu tim tidak bisa menghitung berapa jumlahnya, tapi diperkirakan ada 15-20 ekor kawanan yang sudah mendekat lahan konsesi HTI PT RPI,” ujar Syamsidar.

Kabar baiknya, sejauh ini WWF belum menemukan ada satwa seperti gajah dan harimau yang mati di dalam kawasan TNTN yang terbakar.

Gajah di Sumatera Selatan

Wartawan Antara melaporkan melihat dua ekor gajah dewasa berserta satu ekor anaknya sedang mencari makan di dekat aliran sungai, tak jauh dari hutan yang sudah terbakar hebat di kawasan hutan lindung Padang Sugihan, Air Sugihan, Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan.

Hutan lindung tempat gajah itu tinggal turut terbakar sehingga mengancam kelangsungan satwa liar di kawasan tersebut.

Sementara, areal yang sudah terbakar mengalami kerusakan parah dengan terpantau dari pohon-pohon gelam yang kulitnya gosong sejauh mata memandang.

Dibakar Untuk Kebun Sawit

WWF Pekanbaru terus memantau perkembangan kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di dalam kawasan Taman Nasional Teso Nilo. Dalam catatan, setiap musim kemarau, lahan di TNTN yang memiliki luas 83.068 hektar selalu terbakar. Kebakaran di dalam Taman Nasional itu disengaja dibakar untuk dijadikan perkebunan sawit.

“Dalam hitungan berdasarkan citra satelit, kawasan yang masih memiliki hutan hanya tinggal 18-19.000 hektar. Sisanya sudah habis dirambah orang untuk dijadikan kebun sawit,” ungkap Syamsidar.

Perambahan areal TNTN mulai marak terjadi pada tahun 2006, 2007 dan 2009. Sementara TNTN ditetapkan pemerintah jadi Taman Nasional pada tahun 2004.

Dari temuan lapangan, pembukaan lahan di areal TNTN bukan dilakukan oleh masyarakat sekitar, tapi oleh pemodal.

“Satu orang bisa punya areal 100-150 hektar. Lahan dirambah ketika musim kemarau, lalu dibakar. Pada musim hujan baru ditanam dengan sawit,” tambah Syamsidar.

Upaya penertiban yang dilakukan tim terpadu dari Balai Besar Konservasi Daya Alam (BBKSDA) Riau, Polisi hutan dan Balai Taman Nasional Teso Nilo selalu tidak berhasil. Tim selalu dihadang oleh masyarakat yang jumlahnya sudah mencapai ribuan tinggal di dalam kawasan.
“Sekarang kita hanya meminta kepada pemerintah, tolong jaga hutan yang tersisa di dalam TNTN. Jika hutan itu akhirnya habis dibabat perambah liar, maka hewan yang dilindungi seperti gajah dan harimau tidak punya tempat tinggal lagi,” kata juru bicara WWF Pekanbaru ini.

Dari catatan WWF Pekanbaru, saat ini jumlah gajah yang berdiam di dalam TNTN sekitar 200 ekor. Sementara Harimau Sumatera yang terpantau pada tahun 2012 berjumlah 9 ekor. Jika kebakaran hutan dan lahan terus meluas di dalam areal TNTN, maka dikhawatirkan hilanglah sudah rumah para satwa. —Rappler.com dengan laporan dari Antara

BACA JUGA: