Ada korban meninggal terdampak kabut asap, masyarakat Riau minta dievakuasi

 

JAKARTA, Indonesia — Perwakilan masyarakat dan anggota DPRD Riau ke Komnas HAM, Jumat, 18 September, mengadukan Pemerintah Riau yang dianggap abai melindungi warga Riau dari bencana asap. 

“Kami dari Gerakan Rakyat Riau melawan asap datang ke Komnas HAM karena kami menganggap telah terjadi pelanggaran hak hidup bebas dari pencemaran asap,” kata perwakilan gerakan Helda Khasm di kantor Komnas HAM. 

“Kami di Riau selama sebulan ini tiap hari bernafas racun. Sudah ada 43.386 jiwa rakyat Riau yang terpapar ISPA (infeksi saluran pernapasan akut).”

Keputusan melaporkan ke Komisi Nasional Hak Asasi Manusia ini dilakukan setelah seorang anak perempuan bernama Muhanum Anggriati meninggal karena kesulitan bernafas. Dia jatuh saat bermain dan tidak tersadarkan diri lagi. 

Kepala Dinas Kesehatan Riau Andra Syafril mengatakan bahwa Hanum meninggal karena meningitis dan gizi buruk, namun mengakui bahwa asap bisa menjadi kondisi yang memberatkan sakitnya. 

Helda mengatakan evakuasi mendesak untuk dilakukan karena indeks standar pencemaran udara sudah pada level yang membahayakan. 

“Anak-anak sudah sebulan tidak ke sekolah dan tidak ada evakuasi untuk anak-anak, ibu hamil dan menyusui,” ujar Helda. 

Menurut Helda, dia mengharapkan dievakuasi ke Bukit Tinggi atau Padang. 

“Kami bilang kami bukan korban tsunami atau gempa bumi,” katanya. “Saya bilang kami butuh udara segar dan mereka bilang belum ada prota (prosedur tetap) sehingga masih belajar dan saya bilang ini sudah 18 tahun jadi bukan saatnya lagi belajar.”

Wakil ketua internal Komnas HAM, Siti Noor Laila, mengatakan bahwa pihaknya akan mempelajari laporan yang diberikan dahulu untuk kemudian memberikan rekomendasi kepada pemerintah. 

“Laporan yang diterima Komnas HAM, rakyat Riau melarikan anak-anaknya ke Bukit Tinggi dan ini tidak didampingi pemerintah,” kata Laila. “Pemerintah harusnya tanggung jawab evakuasi anak-anak dan ibu-ibu karena partikularnya sudah tidak memungkinkan kelompok rentan untuk tinggal di situ.” — Rappler.com

BACA JUGA: