Guru demo minta presiden tetapkan kabut asap bencana nasional

 DEMO ASAP. Para guru berdemonstrasi meminta pemerintah menetapkan kabut asap sebagai bencana nasional di Pekanbaru, Riau, 23 Oktober 2015. Foto oleh Denni Risman/Rappler

PEKANBARU, Indonesia—Ratusan guru di Pekanbaru yang tergabung dalam Forum Guru Melawan Asap (FGMA), Jumat siang, 23 Oktober, melakukan aksi unjuk rasa di samping kantor Gubernur Riau. Mereka menginginkan Presiden Joko “Jokowi” Widodo, Ketua DPR dan MPR menetapkan kabut asap sebagai bencana nasional.  

 “Saat ini puluhan guru dan pelajar sudah terkapar sakit karena ISPA (infeksi saluran pernafasan akut),” kata Sahran Ritonga, koordinator demonstrasi guru ini. “Proses belajar mengajar juga sudah terganggu hampir dua bulan lamanya. 

Tak hanya korban sakit, ada beberapa korban yang ditengarai meninggal karena kabut asap, termasuk seorang murid kelas 3 Madrasah Ibtidaiyah Negeri 1 (MIN 1) Pekanbaru, Ramadhani Lutfi Aerly. 

Kepala Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru Zulfadhil yang ikut berorasi juga mengekspresikan kekhawatirannya terkait keberlangsungan pendidikan di kotnaya. 

"Kita berharap, agar presiden bekerja keras lagi dalam menangani bencana asap ini," kata Zulfadil. 

Sekolah libur, siswa pajang poster 

PROTES. Para siswa menuliskan protes mereka di karton yang diletakan di depan sekolah, karena aktivitas belajar mengajar sudah dua bulan terhenti karena kabut asap. Foto oleh Denni Risman/Rappler

PROTES. Para siswa menuliskan protes mereka di karton yang diletakan di depan sekolah, karena aktivitas belajar mengajar sudah dua bulan terhenti karena kabut asap.

Foto oleh Denni Risman/Rappler

Sesuai perintah Kepala Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru, selama dua hari, Jumat dan Sabtu, 23-24 Oktober, seluruh proses belajar mengajar (PBM) di seluruh tingkatan sekolah diliburkan. 

Keputusan itu diambil melihat kondisi kabut asap pekat dengan kadar polutan berbahaya yang mencapai 610 psi.

Libur sekolah ini telah membuat para pelajar ikut melakukan protes. Aksi protes dilakukan dengan memajang poster melampiaskan kekecewaan hati mereka, karena aktivitas sekolah yang sudah lumpuh hampir dua bulan lamanya. Tidak diketahui, kapan mereka memasang poster itu di pagar sekolahnya.

Beragam isi protes yang ditulis para pelajar ini, ada yang meminta Jokowi untuk cepat menyelesaikan bencana kebakaran agar mereka bisa kembali bersekolah seperti biasa. — Rappler

BACA JUGA: