Hanum, anak yang diduga meninggal karena kabut asap

  

RIAU, Indonesia — Asap akibat kebakaran hutan ini sampai ke negeri tetangga, seperti Singapura dan Malaysia. Sudah 20 ribu warga mengalami kesulitan bernafas akibat kabut asap ini. 

Tak hanya itu, kabut asap juga diberitakan merenggut nyawa seorang gadis kecil berusia 12 tahun di Riau. 

“Walaupun dibilang sabar, ikhlas, ya pasti dicoba kan Kak, tapi ini nggak mudah untuk kami, dan mudah-mudahan ini cuma sampai di kami ajalah,” kata Musriati. 

“Jangan sampai ada lagi yang merasakan yang lainnya. Soalnya ini sangat bukan cuma, membuat kami, ini kehilangan diri kami sendiri juga Kak. Entahlah, nggak tahu, ngomong apa lagi, nggak ngerti lagi aku kayak gimana ngomongnya.” 

Duka masih menggelayuti keluarga Musriati. Warga Kelurahan Kulim, Pekanbaru, Riau, ini masih tak percaya putri sulungnya, Muhanum Anggriawati, meninggal.

“Dia batuk, parah kan Kak, batuk parah seminggu itu, dan dia setelah batuk itu kan sesak. Jangankan dia, aku sendiri saja, kalau batuk parah sesak kan, Kak. Tahun lalu pun waktu asap parah-parahnya itu, anakku pun udah kena. Tapi waktu tahun lalu tuh, dua kali asap di dekat rumah, alhamdulillah membaik kan. Ini udah mau keempat kalinya nggak membaik juga.”

Kondisi Hanum itu sudah terjadi sejak Riau dikepung asap dua bulan terakhir. Bencana tahunan ini adalah yang terburuk. Sejak 4 September lalu, Indeks Standar Pencemar Udara di Riau masuk level berbahaya. 

Hanum menjadi korban pertama. Di RSUD Arifin Achmad, bocah itu menghembuskan nafas terakhir. 

“Aku bawa ke rumah sakit, malah di luar dugaanku pula. Seharusnya anak kubawa pulang dengan gembira, malah kami ada di ICU, belum lagi Kakak tau lah, bukan hal yang mudah untuk kami. Tiba-tiba kehilangan napas, gitu kan, tiba-tiba anak kami kehilangan kemampuan untuk bernapas pun hilang, tiba-tiba pula.” 

Pemerintah bantah

Tapi kematian putrinya, menyisakan tanda tanya. Pemerintah setempat justru mengklaim Hanum meninggal karena meningitis, bukan karena ISPA. Sementara catatan Dinas Kesehatan Riau, 20 ribu warga terkena ISPA. 

“Sebenarnya penyakit anak kami pun, sama kami aja belum dipastikan, tapi sama semua media dipastikan sama rumah sakit, bayangkanlah perasaan kami tuh. Kata dokternya sama kami belum bisa dipastikan kalau anak kami aja belum bisa bernapas, tapi diduga, ini sakitnya lho bu, masih diduga, sama kami orang tua masih diduga, sementara sama media udah dipastikan,” Mukhlis, suami Musriati, tak terima dengan klaim itu. 

"Sebenarnya kami jujur tidak menerima dengan ungkapan beliau, memvonis anak saya terserang penyakit TBC meningitis, yang konon kabarnya penyakit yang sangat parah, dan tidak ampun, kayak gitu." 

Musriati bahkan menyebut pemerintah setempat berdusta dan berusaha menutup-nutupi penyebab kematian anaknya. 

“Tapi yang paling menyakitkan, yang diangkat itu penyakit anak kami, bukannya kenapanya, pencetusnya apa, nggak itu yang dibahas sama orang-orang yang datang ke rumah kami ini Kak,” kata Musriati. 

“Bukannya datang ke rumah kami ini buat kami merasa, aduh bapak ini. Tapi kami merasa, kami seperti merasa dihakimi kan Kak. Anaknya sakit ini lho, bukannya karena ini, seolah-olah seperti itulah Kak waktu bilangnya, walaupun dengan cara halus waktu bilangnya."

Namun Kepala Dinas Kesehatan Riau, Andra Syafril tetep berkeras, Hanum meninggal karena meningitis dan gizi buruk. 

“Sebenarnya keluarga sudah menyadari bahwa ananda Hanum usia 12 tahun itu sakit bukan karena asap. Jadi beliau meningitis tinggi, gizi buruk, usia 12 tahun, berat badan 17 kilo, itu sama dengan anak usia kurang lebih 6-7 tahun. Belum ada ceritanya pasien meninggal karena asap, berarti sudah ada penyertanya, ini terjadi karena penyertanya. jadi asap ini adalah penguatnya.” 

Penyangkalan itu kian menambah kesedihan orangtua Hanum. Padahal mereka hanya mau penyebab kematian anaknya dibuka secara terang benderang. 

”Mohon dicabutlah kata-kata itu, dan dibenarkahlah, kalau memang terkena ISPA ya ISPA lah, kalau terkena dampak asap ya asap, yuk mari sama-sama kita tanggulangi, cukup korbannya anak saya kalau ISPA, jangan ada yang lain, mohon kepada orang-orang yang pintar, yang intelektual, dalam hal ini pemerintah lah, jangan menutupi kesalahannya dengan mencari sela-sela lain." — Rappler.com

Berita ini berasal dari Asia Calling, program radio mingguan dari KBR.

BACA JUGA: