Harga pangan naik, Panglima TNI ingatkan 'Proxy War'

 

JAKARTA, Indonesia – Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) Jenderal Gatot Nurmantyo kembali mengingatkan isu “proxy war”, alias perang tanpa bentuk.  

“Indonesia adalah negara dengan kekayaan alam yang melimpah. Tidak salah jika kekayaan alam Indonesia tersebut menjadi incaran negara asing,” kata Gatot saat memberikan pembekalan kepada peserta Apel Mitra Informasi Garuda Sewasana di Bogor, Jawa Barat, pada Minggu, 29 Mei.

“Kita harus waspada dengan kekayaan alam yang kita miliki karena menjadi rebutan oleh negara-negara asing,” ujar Gatot, sebagaimana disampaikan oleh keterangan pers Pusat Penerangan TNI.

Ia mengatakan bahwa perang ke depan adalah perang pangan, air, dan energi, — diistilahkan perang ekonomi dan lokasinya di Indonesia. “Ini ancaman bagi bangsa Indonesia,” kata Gatot.

Ia menggarisbawahi bahwa di masa depan, energi bisa digantikan dengan energi hayati. Kekayaan hayati ada di negara di garis ekuator, terutama di Indonesia. “Maka, Indonesia berpotensi menjadi lumbung pangan, lumbung air, sekaligus lumbung bagi energi hayati,” ujar Gatot.

Cadangan energi akan habis

Sepuluh hari sebelumnya, Gatot menyampaikan hal yang senada saat memberikan orasi ilmiah pada Dies Natalis ke-57 Universitas Tanjung Pura (Untan) di Pontianak, Kalimantan Barat.  

Menurut Gatot, “Dalam proxy war tidak bisa dilihat siapa kawan dan lawan, tetapi perang tersebut dikendalikan oleh negara lain.”

Materi orasi ilmiah yang disampaikan oleh Gatot mengenai pertumbuhan manusia di muka bumi. Di acara itu, Universitas Tanjung Pura memberikan anugerah putra terbaik bangsa dalam bentuk Royal Award 2016 kepada Gatot. 

“Daya tampung bumi kita idealnya hanya 3-4 miliar jiwa,” kata Gatot dalam orasinya.

Karena kemiskinan dan kelaparan serta kesehatan yang buruk, maka sekitar 15 juta anak meninggal dunia setiap tahunnya.

Gatot menyampaikan bahwa proxy war saat ini berlatar belakang energi dan pada saat ini semakin nyata dengan adanya pergeseran konflik dunia.

“Di sisi lain, hanya ada negara-negara yang dilintasi ekuator yang mampu bercocok tanam sepanjang tahun. Negara tersebut adalah Amerika Latin, Afrika Tengah, dan Indonesia sendiri.Sementara itu, jumlah penduduk dunia akan mencapai 12,3 miliar, itu akan terjadi di tahun 2043, jumlah tersebut tiga kali lipat melebihi daya tampung bumi,” ujar Gatot.

Ia menuturkan bahwa di dunia ini hanya ada 2,5 miliar penduduk yang tinggal di garis ekuator, sementara untuk sisa penduduknya ada sejumlah 9,8 miliar yang berada di luar ekuator. 

“Kondisi ini memicu perang untuk mengambil alih energi negara-negara yang berada di garis ekuator, salah satunya Indonesia,” katanya.

“Saat ini yang terjadi adalah perang masa kini dengan latar belakang energi akan mengalami pergeseran menjadi perang pangan, air, dan energi. Dimana awalnya terjadi di wilayah Timur Tengah, maka secara otomatis akan bergeser menuju ke Indonesia, Afrika Tengah, dan Amerika Latin,” kata Gatot.

Gatot juga mengatakan bahwa dunia akan kehabisan energi. Dalam 28 tahun ke depan, bisa saja anak-anak dari mahasiswa yang ada di Untan ini yang akan menghadapi. 

“Saya pastikan nanti anak cucu Indonesia ke depannya yang akan menghadapi kondisi seperti itu,” ujar dia.

Menurut Gatot, banyak cara dilakukan negara asing untuk menguasai kekayaan alam Indonesia. Saat ini sudah terasa yakni adanya proxy war dan sudah mulai kita waspadai, karena sudah menyusup ke sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara, caranya dengan menguasai media di Indonesia, menciptakan adu domba TNI-Polri, rekayasa sosial, perubahan budaya, pecah belah partai, dan penyelundupan narkoba sudah jauh-jauh hari dilakukan. 

“Lepasnya Timor Timur adalah salah satu contoh dampak proxy war, karena di celah Timor ada kandungan minyak luar biasa yang bernama Greater Sunrise,” ujarnya.

Oleh karena itu, ia menyampaikan bahwa modal kita dalam menghadapi ini semua adalah modal geografi dan modal demografi Indonesia. Modal geografi yaitu darat yang merupakan negara agraris, sedangkan laut adalah negara maritim dan semua itu harus melibatkan rakyat dan untuk rakyat.  Sedangkan modal demografi adalah Indonesia mempunyai kearifan lokal.

“Pemuda harus mempunyai mimpi yang harus diraih dan ditempuh dengan berdoa, fokus, optimis, action, fleksibel, buat great networking/jaringan, keep learning/belajar dan tentunya semua dilakukan dengan hati yang yang tulus,” ujarnya.

Harga pangan cenderung naik

Pekan lalu Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menggelar rapat koordinasi untuk menangani masalah kenaikan harga beberapa komoditas pangan. Komoditas seperti ayam, beras, daging, gula, bawang merah, cenderung naik harganya menjelang bulan Ramadan dan Lebaran.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin yang ikut dalam rapat itu mengungkapkan,‎ rapat koordinasi sangat mendesak dilakukan karena melihat kenaikan harga beberapa komoditas pangan. Bahkan dibandingkan April 2015, harga bawang saat ini sudah naik 46 persen.

Media memberitakan harga gula pasir di berbagai pasar di Jawa Timur sudah mencapai Rp 16.000–Rp 17.000 per kilogramnya. Sejumlah Badan Usaha Milik Negara perkebunan dilibatkan melakukan operasi pasar dengan menggelontorkan 700 ton gula pasir untuk menekan harga ke Rp 11.750 per kilogramnya. 

Pernyataan Panglima TNI Gatot soal ancaman proxy war, nyaris bersamaan dengan tren kenaikan harga pangan.

Tahun lalu Gatot keliling kampus di Indonesia untuk menyampaikan peringatan yang sama tentang perang yang digerakkan oleh pihak lain, dan berlokasi di Indonesia. Saat itu Gatot masih menjabat Kepala Staf Angkatan Darat.  

Rappler melakukan wawancara khusus dengan Jenderal Gatot saat itu, untuk menjawab pertanyaaan soal Benarkah TNI promosikan 'proxy wars'?.

Wawancara dilakukan pada pertengahan April 2015, setelah Asia Sentinel, sebuah laman artikel analisis berbasis di Hong Kong, mencermati pernyataan KSAD Gatot dari kampus ke kampus.

Gatot dianggap mewakili sikap TNI yang mempromosikan ancaman terselubung yang “baru”, yang mencakup beragam isu di luar bahaya komunisme. Selama era Orde Baru, militer menggunakan isu komunisme sebagai tema ancaman proxy war.

Saat itu Gatot juga menyampaikan komitmen pihak TNI untuk mengawasi para mafia pangan, dan membantu mengecek harga pangan di pasar.

Ini untuk menjawab pertanyaan soal kecenderungan TNI untuk masuk ke wilayah sipil

Menurut Gatot, proxy war adalah kekuatan besar yang memainkan perannya secara tidak langsung melalui pihak ketiga. Di kesempatan lain Gatot menyebutkan proxy war adalah perang antara dua kekuatan dengan menggunakan pemain pengganti.

“Melalui perang proxy, tidak dapat dikenali dengan jelas siapa kawan dan siapa lawan karena musuh mengendalikan dari jauh,” kata dia.

Gatot menjelaskan, negara musuh akan membiayai semua kebutuhan yang diperlukan dengan imbalan kekuatan lawan terpecah-belah. Pihak ketiga itu, yakni non-state actors, bisa berupa lembaga swadaya masyarakat (LSM), organisasi massa, kelompok masyarakat, atau perorangan. –Rappler.com