Herawati Sudoyo: Virus Zika tidak fatal, tapi perlu pencegahan

Nyamuk aedes aegypti di dalam sebuah kontainer di sebuah lab di Sao Paulo, Brasil, pada 8 Januari 2016. Foto oleh Nelson Almeida/AFP

Nyamuk aedes aegypti di dalam sebuah kontainer di sebuah lab di Sao Paulo, Brasil, pada 8 Januari 2016.

Foto oleh Nelson Almeida/AFP

JAKARTA, Indonesia – Ruangan di lantai dua gedung Institut Eijkman di kompleks Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta, itu nyaman. Mebel antik di berbagai sudut, dilapisi dengan kain tenun dari berbagai daerah di Indonesia. Sentuhan etnik di mana-mana, termasuk di sudut-sudut laboratorium penelitian.  

“Setiap kali ke daerah saya mengumpulkan beragam kerajinan tangan dan tekstil khas setempat,” kata Herawati Sudoyo, wakil direktur di Institut Eijkman, lembaga riset biologi molekular. 

Di ruang kerjanya, tidak hanya ada ratusan buku, tetapi juga puluhan tas anyaman, topi, maupun tikar dan piring antik membuat betah siapapun yang duduk di sana.

Herawati, yang juga guru besar Universitas Indonesia itu, cukup sibuk dalam minggu-minggu terakhir, setelah heboh berjangkitnya virus Zika. Tahun lalu, ia dan tim peneliti Institut Eijkman menemukan virus ini menjangkiti seorang pria berusia 27 tahun di Provinsi Jambi.  

“Saat itu kami meneliti 103 sampel penderita demam berdarah. Satu positif terjangkit Zika,” kata Herawati.

Herawati bergabung dengan Institut Eijkman sejak lembaga itu diaktifkan kembali oleh Menteri Riset dan Teknologi BJ Habibie pada 1992. Ia menjadi ketua unit peneliti forensik DNA korban dan pelaku bom di depan Kedutaan Besar Australia pada 9 September 2004. Ada 10 tewas, termasuk pelaku bom bunuh diri dengan mobil dan 100-an yang luka-luka. 

“Pengalaman paling mengesankan, karena baru pertama kali kami lakukan dan membuat pemerintah termasuk wakil rakyat tahu, bahwa kami di sini bisa melakukan hal itu,” kata Herawati.  

“Kami memanfaatkan gambar dari berbagai sumber, termasuk ANTV yang pertama kali meliput peristiwa itu untuk memetakan mana yang pelaku, mana yang korban. Karena tubuh hancur dan berserakan,” tutur Herawati.

Sebagai lembaga penelitian yang bernaung di bahwa Kementerian Riset dan Teknologi (kini Kemenristek Dikti), lembaga yang memperkerjakan 100-an peneliti ini didanai dari uang negara.  

“Jauh dari cukup. Tidak mudah meyakinkan bahwa kami mengerjakan hal yang penting, riset dasar terkait dengan antara lain, kesehatan masyarakat. Kami memang tidak menghasilkan produk, kalau yang dimaksud adalah obat atau vaksin,” kata Herawati.  

Lembaga ini menjalin kerjasama termasuk menerima dukungan dana dari berbagai lembaga di luar negeri. Di lingkungan ASEAN, Institute Eijkman adalah yang terbaik di bidangnya, dan dikelola sepenuhnya oleh peneliti lokal.

Pada Selasa, 2 Februari, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan keadaan darurat kesehatan secara global terkait wabah virus Zika di kawasan Amerika Selatan, yang kini sudah merambah ke Amerika Serikat. Pejabat kesehatan di Texas, AS, menemukan ada warganya yang baru pulang melancong ke sebuah negara di Amerika Latin, terjangkit virus Zika. Virus ini ditularkan lewat hubungan seksual.  

“Mau lihat penelitian kami terkait DNA Gajah? Orang Utan?” canda Herawati, ketika Rappler menemuinya, Rabu siang, 3 Februari.  Wow, menarik. Tapi kami tahu Herawati tak cukup waktu, karena sibuk menerima berbagai pertanyaan dari media dalam dan luar negeri.  

Kami diajak berkeliling laboratorium dan berkenalan dengan peneliti muda yang penuh semangat. Berikut petikan wawancara dengan Rappler:

Herawati Sudoyo, Wakil Direktur Institute Eijkman, di kantornya, pada 3 Februari 2016. Foto oleh Uni Lubis/Rappler

Herawati Sudoyo, Wakil Direktur Institute Eijkman, di kantornya, pada 3 Februari 2016.

Foto oleh Uni Lubis/Rappler

Apakah temuan di Jambi terhadap seorang pria terjangkit virus Zika adalah yang pertama?

Virus Zika sebenarnya sudah ada di Indonesia sejak 40 tahun lalu, tapi tidak pernah terjadi wabah. Jadi, kita selama ini hidup damai dengan virus itu. Pria yang terjangkit virus Zika yang kami temukan di Jambi tahun lalu tidak pernah berpergian ke luar Indonesia. Jadi, virus itu memang ada di sana, di area Jambi dan Sumatera.  

Waktu itu (Desember 2014 – Mei 2015) kami melakukan penelitian saat terjadi wabah demam berdarah atau dengue. Dari 400 pasien yang memiliki gejala klinis dengue, kami terima sampel 200 pasien untuk diteliti. Kami punya platform atau medium yang dapat mendeteksi berbagai jenis virus yang belum dikenali, termasuk yang muncul kembali (re-emerging).

Dari 103 sampel spesimen negatif dengue, kami temukan satu yang positif terjangkit Zika. Dia tak pernah bepergian. Jadi memang ada di Jambi virusnya.

Itu kasus pertama yang melibatkan orang Indonesia. Kami laporkan ke Menteri Kesehatan, dan mendapat izin untuk dipublikasikan di jurnal internasional.

Sebelumnya, ada dua orang Australia dideteksi terjangkit Zika saat tiba kembali ke Australia. Mereka habis bepergian ke Indonesia, ke Jakarta. Yang kembali dari Bali.

Berapa banyak yang saat ini dideteksi terjangkit virus Zika?

Karena gejalanya mirip gejala orang terjangkit demam berdarah, atau flu dan demam ringan, termasuk lemas dan sakit kepala, sering kali orang tidak tahu kalau terjangkit virus ini. Belum ada data soal ada atau tidak yang terjangkit karena kita belum melakukan penelusuran dan pengawasan secara sistematis.

Siapa yang seharusnya melakukan penelusuran itu?

Kami di Eijkman punya keahlian itu dan tentu siap membantu jika pemerintah ingin melakukan penelusuran secara sistematis. Tapi inisiatif penelusuran biasanya dari Pusat Kesehatan Masyarakat (CDC).

Seberapa besar ancaman untuk kawasan tropis seperti Indonesia?

Laporan sudah dipublikasikan saat terjadi wabah Zika di tahun 1977, tapi itu hasil serologi. Virus Zika sudah ada sejak 40 tahun di Indonesia. Tapi tidak pernah terjadi wabah, atau lonjakan luar biasa jumlah pasien yang terjangkit Zika.

WHO sudah mengumumkan kondisi darurat kesehatan secara global terkait virus Zika. Apa yang kita lakukan untuk mencegah wabah mengingat banyak diantara kita sering bepergian?

Minimal mengingatkan dan menginformasikan kepada masyarakat, di kawasan mana terjadi wabah Zika. Menteri Kesehatan menulis protokol pencegahan yang bisa disebarkan kepada semua pemangku kepentingan termasuk ke publik.

Sore ini ada rapat terbatas di Istana. Apakah Presiden meminta rekomendasi dari Institut Eijkman? Terutama untuk rapat terbatas terkait Zika pada hari ini? 

Kami selalu berkomunikasi dengan Menteri Kesehatan dan Menteri Ristek dan Dikti. Semua input kami diskusikan, dan saya yakin disampaikan ke presiden. 

Seberapa bahayanya virus Zika?

Sebenarnya Zika tidak fatal. Perhatian kita terutama kepada perempuan yang hamil. Ini ramai karena terjadi lonjakan jumlah mikrosefali di Brasil, yaitu bayi yang lahir dengan lingkar kepala yang lebih kecil dari normal.

Virus Zika masuk dalam kelompok flavi, kebanyakan sama gejalanya dengan dengue. Kalau dengue menyebabkan penurunan trombosit dan kalau terjadi komplikasi bisa menyebabkan kematian, Zika biasanya lebih ringan. Tidak ada penurunan trombosit. Penderita sembuh dengan sendirinya. Seperti kasus di Jambi.

Apa yang perlu dilakukan Indonesia setelah pengumunan WHO?

Saya kira karena WHO sudah umumkan emergency, darurat untuk kesehatan masyarakat, kita masyarakat Indonesia harus ikut mewaspadai. Harus lebih banyak ke pencegahan, jangan sampai nyamuk aedes aegypti yang merupakan vektor atau sumber penularan dari virus ini berkembang biak di sekitar kita. Selain mewaspadai kita harus mawas diri, kebersihan adalah kunci utama memutuskan penularan virus Zika.

Virus ini memang bisa menular lewat hubungan seksual sebagaimana dilaporkan WHO dari kasus di Texas. Tapi tidak menular lewat udara. Kelihatannya menular melalui materi biologis. —Rappler.com

BACA JUGA: