Ima Matul Maisaroh, perempuan pertama Indonesia yang bicara di Kongres Partai Demokrat AS

MALANG, Indonesia - Nama Ima Matul Maisaroh kini menjadi buah bibir di kampung halamannya di Dusun Krajan Desa Kanigoro, Malang, Jawa Timur. Sebab, perempuan berusia 36 tahun diundang oleh Partai Demokrat Amerika Serikat untuk berbicara dalam konvensi yang digelar hari Selasa, 26 Juli.

Di ajang itu juga, Partai Demokrat secara resmi akan memilih Hillary Rodham Clinton sebagai kandidat utama presiden dan Senator Tim Kaine sebagai wakil presiden dalam pemilu yang digelar bulan November mendatang. Surat undangan sudah secara resmi diterima dari Komite Nasional Partai Demokrat hari Sabtu sore, 23 Juli.

Ima bisa berbicara di ajang bergengsi tersebut karena diangkat oleh Presiden Barack Obama sebagai salah satu dari 10 anggota Dewan Penasihat Gedung Putih. Dia menangani secara khusus program-program penanggulangan perbudakan dan perdagangan manusia, salah satu isu yang juga menjadi perhatian Partai Demokrat.

Maka, orang tua dan warga di kampung halaman Ima di Desa Kanigoro turut bangga. Tetapi, jalan yang dilalui Ima hingga bisa membawanya ke AS sangat pilu.

Dihubungi melalui akun Facebooknya, Ima mengenang dulu sempat bekerja menjadi TKI di Los Angeles pada tahun 1997. Dia memilih menjadi TKI demi bisa menghidupi dirinya dan keluarga lantaran kabur dari pernikahan pertamanya yang tak bahagia.

Terpaksa putus sekolah

Ima mengenang mantan suaminya itu datang ke rumah orang tuanya untuk menikahinya. Lazimnya warga setempat, kedua orang tua Ima tidak bisa menolak permintaan itu dan menikahkan putri mereka yang baru masuk sekolah.

“Waktu itu selisih perbedaan umur kami sampai 12 tahun. Akhirnya saya berhenti sekolah karena dikawinkan dengan orang yang saya tak kenal. Rumah tangga kami pun berakhir tak bahagia karena tidak ada cinta,” ujar Ima yang dihubungi melalui akun Facebook pada Senin, 25 Juli.

Ima sempat kabur dari rumah suaminya, walau bisa ditemukan kembali oleh orang tua. Dia kemudian mencoba peruntungan dengan mendaftar ke Pengerah Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI) untuk berangkat ke Hong Kong menjadi asisten rumah tangga.

Tetapi, sebelum berangkat Ima harus magang bekerja sebagai asisten rumah tangga terlebih dahulu.

“Saat itu, saya latihan kerja di majikan saya di Malang. Dia memiliki saudara sepupu di Amerika Serikat dan mengaku butuh pembantu. Lalu, saya ditawari,” tutur Ima.

Dia mengaku senang dengan tawaran tersebut, karena diiming-imingi akan digaji US$150 atau setara Rp 1,9 juta. Akhirnya, tawaran itu diterima dan orang tuanya harus menebus Ima dengan uang sebesar Rp 600 ribu kepada perusahaan PJTKI yang semula hendak memberangkatkannya ke Hong Kong.

Tak digaji dan disiksa selama dua tahun

Menurut informasi dari situs Indonesian Lantern, Ima menjejakkan kaki di Negeri Paman Sam saat masih berusia 17 tahun. Seorang diri, dia membulatkan niat bekerja di AS demi memperbaiki nasib.

Tetapi, yang terjadi justru sebaliknya. Ima mengaku sejak tiba di Bandara LAX keanehan mulai terjadi. Paspornya sudah ditahan oleh majikan yang berprofesi sebagai seorang desainer interior.

Selama 2 tahun berada di kediaman majikan, Ima bekerja lebih dari 12 jam nyaris tanpa istirahat. Selain itu, hampir setiap hari dia disiksa dan menerima pukulan dari sang majikan.

Hanya karena melakukan kesalahan kecil, majikannya akan memukul dan menampar Ima berkali-kali.

“Sampai sekarang, bekas luka di kepala masih bisa dilihat,” ujar Ima yang menyebut ketika itu dia tidak bisa berbahasa Inggris sama sekali.

Setelah 2 tahun, Ima mengaku tidak tahan kerap disiksa. Maka pada tahun 2000, dia nekat menyisipkan sebuah catatan kecil berisi ‘permintaan tolong’ kepada seorang penjaga bayi yang menjadi tetangganya. Tetangga itu yang kemudian membantu Ima melarikan diri dari rumah majikan dan mengantarnya ke kantor CAST, organisasi yang menangani korban perbudakan dan perdagangan manusia.

“Waktu itu saya tidak bawa paspor,” tuturnya.

Setelah beberapa bulan tinggal di rumah penampungan bagi komunitas yang tidak memiliki tempat tinggal, Ima akhirnya bisa tinggal di rumah layak dan bekerja di CAST.

Tak bisa tuntut majikan

ORANG TUA BANGGA. Kedua orang tua Ima, Alimah (kiri) dan Turiyo (kanan) tengah menunjukkan foto Ima bersama Presiden Barack Obama dan ketiga cucu mereka pada Senin, 25 Juli. Foto oleh Dyah Ayu Pitaloka/Rappler

ORANG TUA BANGGA. Kedua orang tua Ima, Alimah (kiri) dan Turiyo (kanan) tengah menunjukkan foto Ima bersama Presiden Barack Obama dan ketiga cucu mereka pada Senin, 25 Juli.

Foto oleh Dyah Ayu Pitaloka/Rappler

Ima kemudian menghubungi majikannya dan berpura-pura mengaku akan kembali ke Indonesia. Dengan tujuan, sang majikan akan mengembalikan paspor.

Saat itu, dia ditemani seorang agen Biro Federal Investigasi (FBI) ketika bertemu dengan majikan di Bandara LAX.

“Saya juga dipasangi alat penyadap untuk merekam seluruh pembicaraan,” katanya.

Sang majikan kemudian memberinya tiket sekali jalan dan berjanji akan mengirimkan uang gaji setelah Ima tiba di Malang, Jawa Timur. Tetapi, gaji itu tidak pernah dikirim, karena dia tidak pulang ke kampung halamannya.

“Saya hanya masuk ke ruang dalam bandara lalu keluar lagi,” tutur dia.

Dia juga enggan menuntut majikannya yang telah berlaku kasar ke jalur hukum lantaran prosesnya cukup berbelit. Menurut Ima, berdasarkan sistem hukum yang berlaku di AS dibutuhkan saksi mata yang jelas dan melihat ketika perempuan asal Malang itu diperlakukan kasar.

“Aksi kekerasan itu terjadi di dalam rumah tanpa diketahui banyak orang. Lagipula bekas-bekas luka saya dianggap kurang menunjukkan luka serius, meski terdapat bekas luka di kepala,” katanya lagi.

Orang tua Ima di Malang juga berpesan agar putrinya tidak usah menuntut majikannya yang sudah berbuat kasar itu. Bagi Turiyo, ayah Ima, yang penting putrinya selamat.

Ima kemudian mulai menata hidupnya. Alih-alih memilih pulang ke Indonesia, Ima menetap di Negeri Paman Sam. Dia disekolahkan hingga tiga tahun dan ijazahnya dikirim ke rumah.

“Sekarang, katanya dia bekerja di kantor dan pekerjaannya membantu orang-orang. Dia juga sering ketemu Presiden Obama, saya sebagai orang tua ya bangga dengan prestasinya,” ujar Alimah, Ibu Ima yang ditemui Rappler di rumahnya.

Dia menyebut putrinya kerap pulang ke Kanigoro dan mengikuti jadwal libur ketiga anaknya. Selama di desa, Ima sering memberi nasihat kepada saudaranya yang ingin mengadu nasib di AS.

Dia tidak ingin kerabatnya mengalami nasib serupa jika berangkat tanpa bekal kemampuan yang memadai.

“Ima mengatakan kerja di Amerika itu sulit. Jangan ke sana jika tidak memiliki kemampuan. Masuk ke Amerika juga susah. Lebih baik bekerja di sini atau ke tempat lain seperti Hong Kong,” tutur Alimah menirukan kalimat putri sulungnya itu.

Bukan lagi WNI

Dalam keterangan tertulis yang dirilis oleh KBRI Washington DC, Ima disebut sudah tak lagi menjadi WNI dan telah menjadi Warga Negara Amerika Serikat. Kendati begitu, pemerintah tetap menjalin komunikasi dengan Ima dan bahkan pernah mengundangnya sebagai pembicara dalam seminar perlindungan hak perempuan pada tahun 2015. Ima juga pernah memberikan pelatihan kepada staf KJRI di Los Angeles mengenai perdagangan manusia pada bulan April 2016.

“Konsul Jenderal RI di Los Angeles, Umar Hadi telah berkomunikasi dengan yang bersangkutan dan mengucapkan selamat atas kesempatan Ima dapat berbicara di konvensi Partai Demokrat,” ujar KBRI Washington DC dalam akun Twitter mereka.

Isu perdagangan manusia, kata KBRI, juga menjadi kepentingan nasional Indonesia.

“Isu perlindungan terhadap pekerja rumah tangga yang terkait dengan isu perdagangan manusia merupakan salah satu prioritas kebijakan politik luar negeri dan kabinet saat ini,” kata mereka lagi.

TKI di Amerika sulit dipantau

Kepala Seksi Penempatan Tenaga Kerja Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Malang, Sukardi mengatakan tak banyak TKI yang berangkat ke AS. Sebab, negara itu tak memiliki perjanjian khusus terkait TKI dengan Indonesia. Kabar mengenai Ima pun tidak tercatat di dokumen Disnakertrans setempat.

“Kami nyaris tidak memiliki data tentang TKI yang berangkat ke Amerika. Data tentang Ima juga kami tak punya. Saat dia berangkat sekitar tahun 1997, (data) belum online dan tidak serapih sekarang,” ujar Sukardi.

Teroris pun, ujarnya, belum masuk ke sana, sehingga akses masuk ke AS mungkin jauh lebih mudah dibandingkan saat ini. Pagelaran dan beberapa kecamatan lain seperti Gondanglegi, Donomulyo, Kalipare, Sumbermanjing Wetan, Tirtoyudo, Dampit dan Ampelgading memang dikenal sebagai daerah kantong TKI.

Tujuan favorit mereka ke Hong Kong dan Taiwan. Mereka terpaksa bekerja di luar negeri, karena kondisi ekonomi yang sulit, tak memiliki modal dan lapangan kerja yang tak tersedia.

Kendati begitu, Disnaker tetap berharap jumlah warga Malang yang berangkat menjadi TKI terus berkurang. Warga didorong menjadi pekerja mandiri atau mencari lapangan pekerjaan di dalam negeri ketimbang harus meninggalkan Indonesia.

Sukardi tak memungkiri ada banyak kasus yang terjadi pada warga Malang ketika sudah berada di luar negeri. Sementara, Disnaker mengaku tidak bisa berbuat banyak ketika mereka sudah di luar Indonesia.

Dari catatan Disnaker, setidaknya sudah 3 TKI yang bekerja di Hong Kong pulang dalam keadaan tak bernyawa karena berbagai sebab. Disnaker menyebut sebagian besar masalah berada terjadi di tahap penempatan yakni saat mereka berada di luar negeri.

“Sementara, yang menjadi tanggung jawab Disnaker yakni saat pra penempatan yang mencakup berbagai kebutuhan TKI sebelum berangkat dan tahap purna penempatan ketika TKI sudah kembali ke Tanah Air dan didorong untuk tak lagi kembali ke luar negeri. Sementara, di tahap penempatan, itu menjadi tanggung jawab BNP2TKI dan Kemenlu,” kata Sukardi. - Rappler.com