Pesan Menteri Siti Nurbaya pada Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2016

JAKARTA, Indonesia — Indonesia adalah rumah dari keanekaragaman hayati. Indonesia merupakan rumah dari 17 persen total spesies yang ada di dunia, yaitu sebanyak: 

Sementara untuk kelautan terdapat setidaknya:

“Kekayaan hayati yang dimiliki Indonesia itu harus dilindungi, “ kata Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar, dalam pesan tertulis yang disampaikan berkaitan dengan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, yang jatuh pada hari ini, Minggu, 5 Juni.

Pada tahun ini, United Nations Environment Programme (UNEP), atau Badan Lingkungan Hidup PBB, telah menetapkan tema Hari Lingkungan Hidup Sedunia, yaitu “Go Wild for Life”. 

Indonesia menyesuaikan dan mengambil tema Hari Lingkungan Hidup Indonesia 2016, “Selamatkan Tumbuhan dan Satwa Liar untuk Kehidupan”. 

Menurut Siti, banyak persoalan yang dihadapi Indonesia dalam keanekaragaman hayati. 

“Sebagian besar spesies diketahui menghadapi ancaman kepunahan karena perusakan habitat dan perburuan,” ujar dia. 

Berdasarkan data organisasi internasional untuk konservasi alam (IUCN), tercatat di Indonesia ada:

Hingga saat ini, jumlah spesies yang dilindungi mencakup:

Memberantas kejahatan perdagangan TSL

Siti juga menyampaikan Indonesia aktif memberantas kejahatan perdagangan TSL, atau Tumbuhan dan Satwa Liar  (wildlife crime). Sepanjang periode 2010-2014 jumlah kasus TSL yang berhasil diselesaikan sebanyak 146 kasus dari total 188 kasus, atau sebesar 77,6 persen. 

“Meskipun jumlah kasus yang terselesaikan cukup tinggi, namun kecenderungan kasus kejahatan perdagangan dan peredaran ilegal TSL terus meningkat. Hal tersebut menunjukkan upaya penegakan hukum saja belum cukup untuk menekan laju kejahatan TSL.

“Masih perlu untuk memperkuat kerjasama antara negara sumber, negara tujuan, dan negara transit sehingga jaringan perdagangan ilegal antar negara terputus,” kata Siti.

Pekan lalu dalam acara tahunan UNEA di Nairobi, Siti berpartisipasi dalam kampanye #WILDFORLIFE 

Wildlife crime telah menjadi Transnational Organized Crime dan diposisikan serupa dengan kejahatan luar biasa, seperti korupsi, pencucian uang, kejahatan terorganisir, senjata api ilegal, obat-obatan, dan terorisme.

Kejahatan TSL begitu menarik bagi pelakunya karena menjanjikan keuntungan yang sangat besar. Nilai perdagangan satwa ilegal mencapai US$15 – 20 miliar dolar per tahun, ini merupakan angka perdagangan ilegal yang sangat besar di dunia, dimana nilainya hampir sama dengan perdagangan narkoba, senjata, dan manusia. 

Menurut Siti, upaya konservasi secara langsung dapat mengatasi wildlife crime. Konservasi yang menekankan pada upaya pelestarian dan perlindungan keanekaragaman hayati secara tegas melarang adanya perburuan TSL yang dilindungi.  

“Konservasi juga mengatur agar pemanfaatan TSL dilakukan dengan optimal agar kondisinya tetap lestari. Upaya konservasi ini secara nyata di lapangan dapat diarahkan untuk mengurangi konflik manusia-satwa liar dan meningkatkan kesadaran masyarakat akan konservasi, sehingga dukungan sosial untuk perlindungan satwa liar meningkat dan ruang gerak perburuan akan berkurang,” ujarnya.

Menurut catatan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, dalam kurun waktu 1993-2004 ada penambahan 100 fauna baru. Sedangkan untuk rentang 2005-2014, ada lebih dari 269 jenis baru hayati yang ditemukan hanya dari peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). 

Satwa dari jenis burung, mamalia, amphibi, dan reptilia, serta ikan mengalami peningkatan jumlah jenis hampir mendekati dua kali lipat. Sedangkan untuk jenis kupu-kupu dan tumbuhan bahkan meningkat pesat dengan rentang antara 10 - 20 kali lipat. 

Data ini berdasarkan informasi kekayaan keanekaragaman hayati yang baru terkumpul sekitar 30 persen untuk fauna dan 50 persen untuk flora yang berada di alam Indonesia.

Indonesia telah menempatkan konservasi sebagai salah satu pilar pendukung pembangunan nasional. Hutan konservasi di Indonesia menempati porsi 22 persen dari total luasan hutan Indonesia yang mencapai 126,35 juta Ha, yaitu seluas 27,54 juta ha. 

“Luasan ini harus dikelola dengan pendekatan multidimensi, komprehensif, sehingga perlindungan dan pelestarian alam dapat berjalan beriringan dengan pembangunan ekonomi Indonesia. Kawasan konservasi harus menjadi bagian dari sumber kesejahteraan masyarakat,” kata Siti.

Verifikasi legalitas kayu

Siti juga mengingatkan ancaman terhadap keanekaragaman hayati seperti terjadinya kehilangan jenis dan kerusakan habitat diperburuk dengan terjadinya perubahan iklim. 

Di sisi lain, melestarikan atau melindungi keanekaragaman hayati dalam kerangka ekosistem, juga bermakna mempertahankan karbon yang ada pada kayu ataupun lahan yang terdapat di kawasan tersebut. 

Ironisnya, diperkirakan bahwa lebih dari 1 Gigaton karbon dilepaskan per tahun terjadi akibat alih-guna lahan akibat deforestasi di kawasan hutan tropis. Deforestasi ini mewakili sekitar 20 persen emisi karbon dunia saat ini.

Indonesia ikut ambil bagian dalam upaya pengendalian perubahan iklim dan untuk menahan naiknya suhu bumi agar tidak lebih dari 1,5 – 2,00C. Salah satu upaya penting ialah dengan reduksi emisi dari deforestasi dan degradasi, atau kita kenal dengan REDD+. 

Upaya perlindungan hutan berarti melindungi keanekaragaman hayati. Sektor kehutanan dan pemanfaatan lahan dinilai sebagai sektor yang signifikan dalam kontribusi emisi karbon.

Beberapa hal yang dilakukan untuk melestarikan hutan:

“Konsepsi SVLK dan taman nasional ini seiring dengan tesis dari Joseph Stiglitz dalam tulisannya From Resource Curse to Blessing yang menyatakan bahwa untuk keluar dari kutukan sumber daya, negara harus memperluas akses sumber daya alam kepada rakyatnya dan bertransformasi dari sumber daya alam sebagai keunggulan komparatif menjadi kompetitif dalam hal ini  adanya peningkatan nilai tambah,” kata Siti.

Permasalahan lingkungan lainnya yang secara intens juga memerlukan perhatian yang sangat serius meliputi masalah-masalah pencemaran air, pencemaran udara, persampahan dan B3 maupun limbah B3 serta kerusakan lingkungan hidup akibat kegiatan pertambangan. 

Di bagian akhir dari pesan di Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Siti menggarisbawahi pentingnya partisipasi masyarakat.

“Permasalahan lingkungan hanya dapat diatasi dengan keterlibatan seluruh masyarakat. Masyarakat berada pada posisi sangat strategis, baik sebagai potensi sumber masalah, yang dapat kita tekan, kurangi, juga sebagai potensi solusi yang harus kita dorong. —Rappler.com