Menteri Siti: Singapura fokus saja dalam upayanya redakan kabut asap

JAKARTA, Indonesia — Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya mengingatkan koleganya, Menteri Lingkungan Singapura, agar menahan diri dan tidak membuat banyak komentar mengenai isu kebakaran lahan di Indonesia.

Siti menyebut selama ini pemerintah Indonesia telah melakukan langkah besar dan penting untuk mencegah agar kebakaran lahan tidak lagi terjadi pada tahun ini dan beberapa tahun mendatang.

"Kami telah konsisten untuk terus berupaya melakukan bagian kami dalam mencegah kebakaran hutan dan menegakan hukum. Kini yang jadi pertanyaan saya, apa yang telah dilakukan oleh Pemerintah Singapura? Menurut saya, dia seharusnya fokus pada peran mereka sendiri," ujar Siti seperti dikutip foresthints.news di Jakarta, pada Sabtu, 16 April.

Pernyataan Siti itu untuk merespons komentar Menteri Lingkungan Singapura, Masagos Zulkifli, dalam sebuah forum di Hotel Ritz Carlton-Millenia pada Jumat, 15 April.

Saat itu Zulkifli mengatakan perusahaan kehutanan dan pertanian harus bertanggung jawab penuh untuk mencegah terjadinya kebakaran dan mitigasi di konsensi Indonesia.

"Tidak boleh lagi terulang kebakaran lahan seperti tahun lalu, karena musim kemarau yang berkepanjangan membuat peristiwa kebakaran tidak terkendali dan segera meluas," kata Zulkifli.

Alih-alih banyak berkomentar, menurut Siti, lebih baik Negeri Singa segera bekerja dan melakukan peran mereka. Siti menyebut dia memahami kondisi Singapura, di mana pemerintahnya kerap membanggakan diri mengenai upaya yang telah dilakukan di hadapan publiknya.

Sementara, dalam kasus kebakaran hutan, pemerintah Singapura menyadari janji saja tidak cukup. Harus didukung oleh aksi nyata. Jika tidak mereka bisa kehilangan kredibilitas di mata rakyatnya sendiri.

"Tidak perlu berkomentar terlalu banyak mengenai bagian yang tengah dilakukan Indonesia saat ini. Biar bagaimana pun, dengan segala rasa hormat kepada rekan saya dari Singapura, apa yang mereka lakukan (untuk meredakan asap)?" kata Siti.

Dia menjelaskan Presiden Joko "Jokowi" Widodo sudah memberlakukan penegakan hukum yang tegas terhadap perusahaan mana pun yang dianggap tak mematuhi dalam pengelolaan lahan dan kebakaran hutan di konsesi perusahaan itu. Bahkan, belakangan diketahui perusahaan pemilik konsesi itu ternyata bermarkas di Singapura.

Siti mengatakan jika suatu pemerintahan hanya bergantung kepada komentar pihak lain, maka langkah apa pun yang dibuat akan sulit diberlakukan.

Dia mengatakan pemerintah Indonesia memiliki cara khusus dan upaya untuk mengatasi permasalahannya sendiri.

"Pada faktanya hanya Indonesia yang bisa memahami permasalahan yang dialami Indonesia dan kami menyadari pemerintah sadar betul langkah penting yang sesuai aturan hukum harus diambil," tutur Siti.

Dia mengklarifikasi semua pernyataannya ini bukan berarti dia tidak menghargai masukan yang disampaikan oleh negara tetangga dari Singapura. "Tetapi, saya juga meminta mereka secara baik-baik agar berhenti membuat komentar khususnya menyangkut isu kebakaran hutan dan kabut asap," kata Siti.

Masalah bagi kedua negara

Petugas pemadam kebakaran menyemprotkan air untuk memadamkan api yang menjalar dan membakar lahan semak belukar dekat perkebunan di kawasan Dumai Bengkel kecamatan Dumai Timur, Dumai, Riau, Senin, 4 April. Foto oleh Aswaddy Hamid/ANTARA

Petugas pemadam kebakaran menyemprotkan air untuk memadamkan api yang menjalar dan membakar lahan semak belukar dekat perkebunan di kawasan Dumai Bengkel kecamatan Dumai Timur, Dumai, Riau, Senin, 4 April.

Foto oleh Aswaddy Hamid/ANTARA

Lalu, apa tanggapan Duta Besar Singapura untuk Indonesia, Anil Kumar Nayar, terkait pernyataan kedua Menteri Lingkungan?

"Isu itu bukan hanya menjadi masalah bagi Singapura atau Indonesia saja. Kami akan mencari tahu bagaimana bisa bekerja sama dengan pemerintahan Presiden Jokowi dan warga Indonesia (meredakan kabut asap)," ujar Anil yang ditemui dalam sebuah dialog di Jakarta pada Senin, 18 April.

Sebelumnya, dalam peristiwa kebakaran lahan dan hutan yang terjadi pada 2015, Negeri Singa mengaku geram terhadap Indonesia karena asap dari insiden itu menyebar ke Singapura selama beberapa pekan.

Menteri Luar Negeri Singapura, K. Shanmugam, menyatakan Indonesia menunjukkan perilaku yang tidak memikirkan keselamatan warga mereka dan publik Indonesia sendiri.

Sebagai salah satu dampaknya, Singapura sempat memboikot produk-produk yang diduga terlibat dalam pembakaran hutan Sumatera sehingga menyebar asap ke negara tersebut. Beberapa supermarket besar di Singapura seperti FairPrice, Sheng Siong dan Prime Supermarket menurunkan semua produk Asia Pulp & Paper Group, APP dari rak mereka.

APP diduga merupakan perusahaan yang ikut melakukan pembakaran hutan dan lahan, sehingga menyebarkan kabut asap ke Singapura. —Rappler.com

BACA JUGA: