Indonesia tolak bantuan negara asing untuk tangani kasus Bom Sarinah

Menko Polhukam Luhut Binsar Pandjaitan (tengah) didampingi Sekretaris Kabinet Pramono Anung (ketiga kiri), Kapolri Jenderal Pol Badrodin Haiti (kedua kiri), Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo, Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Tito Karnavian (kanan) dan Pangdam Jaya Mayjen TNI Teddy Lhaksmana (kiri) memberikan keterangan pers terkait aksi teror di kawasan Sarinah di Kantor Presiden, Jakarta, Kamis 14 Januari 2016. Foto oleh Andika Wahyu/ANTARA

Menko Polhukam Luhut Binsar Pandjaitan (tengah) didampingi Sekretaris Kabinet Pramono Anung (ketiga kiri), Kapolri Jenderal Pol Badrodin Haiti (kedua kiri), Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo, Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Tito Karnavian (kanan) dan Pangdam Jaya Mayjen TNI Teddy Lhaksmana (kiri) memberikan keterangan pers terkait aksi teror di kawasan Sarinah di Kantor Presiden, Jakarta, Kamis 14 Januari 2016.

Foto oleh Andika Wahyu/ANTARA

JAKARTA, Indonesia - Indonesia menolak bantuan yang ditawarkan oleh beberapa negara untuk menangani kasus teror bom yang terjadi di Jalan M.H Thamrin pada Kamis, 14 Januari. Pemerintah merasa masih cukup mampu untuk menyelidiki hingga tuntas kasus tersebut.

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan, Luhut Binsar Panjaitan yang ditemui pada Jumat malam mengatakan beberapa negara yang menawarkan bantuan antara lain Amerika Serikat, Australia, Singapura dan Malaysia.

"Negara-negara ini nawarin, tapi kita sampai sekarang masih cukup dengan kemampuan kita sendiri," ujar Luhut.

Bantuan yang diberikan oleh beberapa negara itu, kata Luhut terkait dari sisi teknis. Tetapi, dia melihat Polda Metro Jaya dan Detasemen Khusus (Densus) 88 masih memiliki peralatan yang cukup, sehingga masih bisa ditangani sendiri.

Sementara, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengatakan dunia internasional mengapresiasi respons cepat yang dilakukan oleh kepolisian Indonesia dalam menangani serangan di kawasan Thamrin. Sebab, hanya dalam kurun waktu tiga jam keadaan sudah bisa dikendalikan dan dapat mencegah kemungkinan-kemungkinan lain yang terjadi.

"Dukungan dari dunia internasional terhadap Indonesia dalam menghadapi aksi terorisme juga disampaikan melalui berbagai kecaman," ujar Retno yang ditemui di Istana Negara pada Jumat kemarin usai melapor kepada Presiden Joko "Jokowi" Widodo.

Rasa simpati disampaikan beberapa pemimpin dunia internasional dengan menghubungi Jokowi melalui telepon.

"Pada hari Kamis, Presiden menerima telepon dari Perdana Menteri Malaysia, sebentar lagi PM Australia. Raja Saudi dan Kanselir Jerman juga akan menelepon," papar mantan Duta Besar Indonesia untuk Belanda itu.

Selain Jokowi, Retno pun ikut dihubungi oleh beberapa kolega Menlu dari negara lain.

"Saya juga menerima banyak telepon dari Menlu yang ingin bekerja sama dan menyampaikan simpati terhadap rakyat kita," Retno menambahkan.

Akibat aksi teror itu menewaskan tujuh orang dan melukai 33 orang lainnya. Menurut Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Muhammad Iqbal, sebanyak lima teroris yang melakukan penyerangan berhasil dilumpuhkan. Jenazah mereka kini masih diidentifikasi di RS Polri Sukanto Kramat Jati.

Sehari usai serangan di kawasan Thamrin, Densus 88 Antiteror melakukan penangkapan sejumlah terduga teroris di berbagai wilayah di Indonesia. Polisi menangkap terduga teroris di Bekasi, Tegal (Jawa Tengah), Cirebon dan Depk (Jawa Barat) dan Balikpapan. - dengan laporan ANTARA/Rappler.com

BACA JUGA: