Indonesia tolak permintaan Turki untuk tutup 9 sekolah

TOLAK TUTUP SEKOLAH. Pemerintah Indonesia akhirnya mengambil sikap resmi dengan menolak permintaan Turki untuk menutup 9 institusi pendidikan yang diduga menyebarluaskan paham Fethullah Gu00c3u00bclen. Foto oleh Muhammad Iqbal/ANTARA

TOLAK TUTUP SEKOLAH. Pemerintah Indonesia akhirnya mengambil sikap resmi dengan menolak permintaan Turki untuk menutup 9 institusi pendidikan yang diduga menyebarluaskan paham Fethullah Gu00c3u00bclen.

Foto oleh Muhammad Iqbal/ANTARA

SEMARANG, Indonesia - Pemerintah Indonesia menolak permintaan Turki yang meminta agar 9 institusi pendidikan ditutup karena terkait dengan gerakan Fethullah Gülen. Keputusan itu diambil usai Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menggelar pertemuan dengan Kementerian Luar Negeri dan 9 pengelola institusi pendidikan tersebut pada Jumat sore, 5 Agustus.

Menurut Kepala Sekolah Asrama Bilingual Semesta, Mohammad Haris, dari pertemuan kemarin dicapai 3 poin utama.

"Satu di antaranya tidak akan menutup 9 sekolah yang dianggap berafiliasi dengan Gülen," ujar Haris kepada Rappler. (BACA: Turki minta Indonesia tutup sekolah terkait organisasi FETO)

Dia mengaku lega atas hasil positif dalam pertemuan lintas kementerian itu. Dengan adanya kesepakatan itu membuat pihak sekolah bisa lebih leluasa menata diri pasca dituduh terkait dengan gerakan Gülen.

"Kami telah menuntaskan semua pertemuan di Jakarta dan tentunya ini sangat membahagiakan buat kami semua yang ada di Semesta," katanya lagi.

Poin kesepakatan lainnya yang dicapai yakni kerjasama pendidik asal Turki masih berlanjut. Di SMA Semesta terdapat 6 guru asal Turki. Empat orang di antaranya diizinkan tetap mengajar, sedangkan dua orang lainnya terpaksa diputus kontraknya.

Kedua guru itu sejak belasan tahun terakhir mengajar mata pelajaran bahasa asing dan matematika.

"Alasan (pemutusan kontrak), karena rekomendasi yang kami ajukan (untuk kedua guru Turki) ternyata tidak disetujui oleh pemerintah. Surat tugas keduanya sudah melewati batas karena dari kontrak sebenarnya sudah habis ketika kerjasama kami dengan organisasi PASIAD berakhir pada tahun 2015," kata Haris.

Untuk mengatasi kekosongan dua posisi guru, Haris akan menggantinya dengan pengajar dari negara lain. Alternatifnya, bisa dari Australia atau Tiongkok. Sementara, untuk pemberian beasiswa bagi para siswa SMA Semesta yang berprestasi kini dialihkan ke program LPDK. Sebelumnya, pemberian beasiswa masih bekerja sama dengan Pemerintah Turki.

"Beasiswa 244 alumni kita di Turki akan dialihkan ke LPDK," tuturnya.

Dengan begini, para orang tua murid bisa menerima segala hasil kesepakatan tersebut. Haris menyebut yang paling penting para pelajar Indonesia bisa belajar dengan tenang dan terjamin di Turki.

Permintaan terhadap Pemerintah Indonesia disampaikan Turki melalui situs resmi kedutaan mereka di Jakarta. Turki menuding Fethullah Gülen sebagai otak aksi kudeta yang terjadi pada tanggal 21 Juli lalu.

Turki khawatir ajaran Gülen disebarluaskan melalui ke-9 institusi pendidikan tersebut.

"Perlu dicatat setelah upaya kudeta yang didalangi oleh organisasi teroris FETO, beberapa negara memutuskan untuk menutup sekolah yang berafiliasi dengan organisasi tersebut. Beberapa negara di antaranya yang melakukan hal itu yakni Yordania, Azerbaijan, Somalia dan Nigeria," tulis Kedutaan Turki dalam pernyataan resmi mereka.

Turki berharap Indonesia melakukan langkah serupa dengan mempertimbangkan hubungan baik kedua negara. Kedua negara juga terlibat dalam beberapa kerjasama multilateral dan regional seperti PBB, Organisasi Koneferensi Islam (OIC), G-20 dan MIKTA. - Rappler.com

BACA JUGA: