Indonesia wRap: Dari perkembangan kasus Banyu Biru hingga pembunuhan Engeline

Sidney Jones: Otak serangan Bom Thamrin bukan Bahrun Naim

Sidney Jones, mengatakan bahwa penembakan dan peledakan bom di kawasan Sarinah, Jalan MH Thamrin, Jakarta, pada 14 Januari lalu, kemungkinan tak didalangi oleh Bahrun Naim.

Melainkan dirancang oleh kelompok Jamaah Anshar Khilafah (JAK) yang secara ideologis dipimpin oleh Aman Abdurrahman.

“Sampai sekarang memang menuju ke situ (Bahrun bukan otak serangan),” kata Sidney pada Rappler, Selasa, 1 Februari. Selengkapnya baca di sini.

Sutiyoso indikasikan copot Banyu Biru dari BIN

Ketua Komisi I DPR Mahfudz Siddiq mengatakan bahwa Badan Intelijen Negara (BIN) tidak profesional dalam merekrut anggotanya.

Komentar Mahfudz dikeluarkan pasca pengusaha Banyu Biru Djarot mengunggah ke media sosial Surat Keputusan Kepala BIN Sutiyoso.

Sebelumnya, Sutiyoso menyatakan pihaknya akan mengevaluasi proses rekrutmen BIN. "Intinya, nanti semua anggota organik akan kami evaluasi," kata Sutiyoso kepada media, Senin, 1 Februari. "Kita lihat nanti apakah anggota itu capable atau tidak. Banyu Biru dipastikan dicoret, itu makanya kita evaluasi," kata dia. Selengkapnya baca di sini.

Terdakwa pembunuh Engeline, Agus Tay, dituntut 12 tahun penjara

Dalam dakwaannya, Jaksa Penuntut Umum menyebut jika Agus terbukti secara sah dan membiarkan kekerasan terhadap anak yang menyebabkan Engeline tewas. Ia juga melakukan tindak pidana dengan menguburkan jasad Engeline di kebun belakang rumah dengan maksud menyembunyikan kematian.

"Menjatuhkan pidana 12 tahun penjara dikurangi selama berada di dalam tahanan dan denda Rp1 miliar subsider 6 bulan kurungan serta membebankan biaya perkara sebesar Rp 5 ribu," kata JPU Ketut Maha Agung di Pengadilan Negeri (PN) Denpasar, Selasa.

Kriminalitas, psikopat, dan Undang-Undang Kesehatan Jiwa

Setiap muncul kasus kriminalitas yang cukup pelik untuk dibongkar, terbersit bahwa tersangka adalah seorang psikopat, termasuk Jessica dalam kasus Mirna yang juga dilabeli psikopat.

Konsep masyarakat tentang psikopat — yang dibentuk oleh dunia hiburan dan ekspos media — adalah mereka yang berdarah dingin, predator tanpa rasa bersalah yang mencari, memburu, menangkap, menyiksa, dan membunuh korbannya. Dalam sebuah referensi dikatakan bahwa pembunuhan berantai bisa disebabkan oleh psikotik dan psikopat.

Benarkah begitu? Baca selengkapnya di sini.
Perkembangan kasus Mirna dapat dibaca di sini.

Kisah Suti: Nenek 96 tahun, aktivis Gerwani penyintas tragedi 1965

Tak ada lagi gerakan perempuan di zaman Orde Baru, diganti dengan Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK). Perempuan dibungkam dan peran utamanya dikembalikan ke dalam urusan domestik rumah-tangga – mengurusi keluarga.

Sekarang ada Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) yang membantu kami mengungkap pelanggaran HAM berat 1965-66. Tetapi, aku tidak tahu apakah penegakan HAM akan berhasil. Orang-orang seusiaku yang menjadi saksi sejarah meninggal satu per satu. 

Aku hanya berharap ada orang-orang yang terus berjuang untuk perempuan.Kisah selengkapnya baca di sini. —Rappler.com