
SURABAYA, Indonesia – Wiyang Lautner, pengemudi Lamborghini Gallardo yang menabrak warung STMJ di kawasan Jalan Manyar, Surabaya, mulai gerah dengan pemberitaan di media.
Melalui kuasa hukumnya, Amus HZ Taka & Associates, mereka memasang iklan di sejumlah media besar terbitan Surabaya hari ini, Kamis, 3 Desember 2015.
Iklan tersebut berisi, “Menghimbau/mengingatkan, kepada media cetak, media elektronik–termasuk pengguna sosial media untuk tidak memberikan pemberitaan/pernyataan yang negatif. Tanpa didasari bukti-bukti yang kuat, yang dapat merugikan klien kami”.
Ahad lalu, sebuah Lamborghini Gallardo yang sedang dikemudikan Wiyang Lautner menabrak warung STMJ. Dalam peristiwa tersebut, satu orang tewas. Saat itu Wiyang diduga sedang adu balap dengan mobil mewah jenis lainnya, Ferrari yang sampai saat ini belum diketahui keberadaannya.
Peristiwa ini menyedot perhatian media massa dan tanggapan masyarakat di media sosial.
Tak hanya mengingatkan, Wiyang juga juga “menebar” ancaman lain jika peringatannya itu diabaikan. “Kami akan menempuh jalur hukum sesuai dengan peraturan perundangan-undangan yang berlaku.”

Menurut pihak Wiyang, pada saat mengemudi, Wiyang dalam kondisi yang sehat. Hal ini sesuai dengan pemeriksaan Rumah Sakit Bhayangkara Surabaya, usai kecelakaan terjadi.
Selain itu, pihak Wiyang juga membantah jika kecelakaan itu diakibatkan karena kebut-kebutan antar sesama mobil mewah, melainkan benar-benar musibah yang bisa dialami setiap orang.
Pihak Wiyang juga menyatakan salah satu penyebab kecelakaan karena kondisi jalan Manyar Kertoarjo Surabaya tergenang air sehabis hujan, sehingga mengakibatkan roda selip.
Akibatnya ban roda kanan belakang terbentur trotoar yang kemudian menyebabkan ban itu terkunci. Laju kendaraan menjadi tak terkendali karena ban kanan belakang yang terkunci itu tadi.
Jurnalis bereaksi
Iklan ini mengundang reaksi keras dari para jurnalis di Surabaya. Salah satunya dari Eka Rimawati, reporter salah satu stasiun televisi nasional.
Menurut dia iklan itu sudah berbau ancaman pada profesi jurnalis. “Kita memberitakan berdasarkan keterangan para saksi. Sementara kami mencoba konfirmasi kepada keluarga Wiyang, mereka kabur-kabur terus tak ada di rumah,” ujar Rima.
Anggota majelis etik Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Surabaya, Kukuh Setyo Wibowo ikut menimpali. Menurutnya, iklan semacam itu salah alamat. Pihak Wiyang dianggap tidak paham dengan kerja jurnalistik.
“Berita yang ditulis di media itu bukan hasil mengarang. Tapi dibangun berdasarkan fakta di lapangan,” ujar dia.—Rappler.com
BACA JUGA:
There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.