Kehidupan di Marunda pasca relokasi Pasar Ikan

Ursula Florene
Kehidupan di Marunda pasca relokasi Pasar Ikan

ANTARA FOTO

Kisah eks warga Pasar Ikan setelah relokasi. Apakah kehidupan mereka membaik di Rusunawa Marunda?

JAKARTA, Indonesia — Ini adalah hari keenam bagi Muhammad Soleh dan keluarganya menempati rumah susun sederhana sewa (Rusunawa) Marunda, Cilincing, Jakarta Utara. Ia adalah salah satu dari ratusan warga yang direlokasi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dari Pasar Ikan, pada Senin, 11 April lalu.

Keluarga Soleh adalah satu-satunya eks-warga Pasar Ikan yang menempati Rusun Marunda Blok A4 — atau yang lebih dikenal sebagai Blok Hiu. “Yang dari Pasar Ikan disebar ke banyak blok,” kata Soleh kepada Rappler, Jumat, 15 April.

Ia baru saja kembali setelah dua hari tak pulang karena bekerja di pasar lain yang berlokasi dekat daerah Kota, Jakarta Utara. Soleh tak sendirian. Pria 33 tahun ini tinggal bersama ibunya, Sa’arah, yang berusia 76 tahun. Saat bertemu Rappler, mereka tengah menanti MetroMini dari terminal bus Tanjung Priok.

Kendati Gubernur DKI Jakarta Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama menyediakan layanan bus gratis dari Tanjung Priok ke Rusunawa Marunda, tapi bus tersebut dapat terbilang jarang dan Soleh harus menunggu cukup lama. Karena itu, ia dan ibunya lebih memilih untuk menggunakan angkot dan MetroMini, yang lebih cepat dan banyak tersedia.

Pantauan Rappler, bus gratis yang menuju ke Marunda memang datang setengah jam sekali, bahkan lebih. Perjalanan dari Tanjung Priok juga memakan waktu lebih dari satu jam, karena kondisi jalanan yang padat akan truk-truk besar.

Sesampainya di “rumah” barunya, Soleh disambut Siti Laela, istrinya, serta dua anaknya yang masih kecil-kecil: Dewi Anjani (6 tahun) dan Qonita (1 tahun). Berlima, mereka akan menempati ruangan di lantai dua, yang berukuran 30 meter persegi itu hingga tiga bulan ke depan.

Kesulitan ekonomi

RUMAH BARU. Salah satu sudut ruangan di rusunawa Marunda tempat relokasi warga dari Pasar Ikan, Penjaringan, Jakarta Utara. Foto oleh Ursula Florene/Rappler

Ruangan tempat keluarga Soleh tinggal sangat sederhana. Ada dua kamar tidur, masing-masing memiliki satu kasur.

Selain itu, ada satu dapur sederhana, balkon yang beralih fungsi jadi tempat jemuran, dan satu kamar mandi. Lantainya masih berupa semen yang ditutupi terpal plastik berwarna biru. Untuk mendapat lantai ubin, mereka harus merogoh kocek lagi.

Meski memperolehnya secara cuma-cuma, Siti mengaku tak nyaman tinggal di rumah baru ini. “Memang enak. Air, lampu, ada semua. Tapi usahanya susah dan seret,” kata dia.

Sebelumnya, wanita 37 tahun ini bekerja sebagai pembersih ikan-ikan yang akan dijual. Ia memiliki dua bos yang memperkerjakannya, yakni di Pasar Ikan dan Muara Angke. Setelah relokasi, bosnya memindahkan lapak ke Muara Angke. Menurut Siti, hal tersebut tak akan menjadi masalah bila tempat tinggalnya tak digusur.

“Kalau yang di Muara Angke dulu, biaya transportasi ditanggung. Di Pasar Ikan, saya tinggal jalan kaki 10 menit,” kata Siti. Tapi kepindahannya ke Rusunawa Marunda membuat ia tak bisa lagi bekerja.

Lokasi rusun yang sangat jauh — 1 jam perjalanan lebih ke tempat kerjanya — membuat ia terpaksa berhenti. Bosnya enggan memperkerjakan ia lagi karena akan boros di waktu dan biaya perjalanan.

“Selain itu, kalau saya kerja juga, siapa yang momong anak?” Siti menambahkan. Sejak pindah, ia hanya mendekam di ruangannya saja.

Jarak jauh ini juga menjadi masalah bagi Soleh. Penghasilannya dari bekerja serabutan di pasar, sekitar Rp 50-100 ribu per hari, harus tergerus biaya transportasi yang bisa mencapai Rp 20 ribu sehari. Ia sudah mencoba mengakali dengan hanya kembali ke rusunawa dua hari sekali. “Tapi biaya transportasinya tetap berasa juga,” kata dia.

Sudah penghasilan berkurang, ternyata biaya hidup di Marunda juga lebih tinggi. Dulu, Siti mengatakan bisa membeli ikan sebanyak 20 ekor ikan kecil dengan harga Rp 10 ribu. “Sekarang cuma dapat 5 biji, itu juga bayar Rp 12 ribu. Bayam di sini juga lebih sedikit,” kata dia.

Kadang, mereka bisa berhemat bahan makanan. Soleh bisa ikut kawan-kawannya untuk pergi memancing, dan membawa pulang banyak ikan hingga Siti tak perlu lagi membeli di pasar. “Saya juga dulu suka bagi-bagi ke tetangga,” kata Soleh sembari memamerkan alat pancing yang biasa digunakannya. Kini alat-alat itu tersimpan rapi dalam kotak yang terbuat dari jerigen air, entah kapan bisa kembali mencicip air laut.

Saat di Pasar Ikan, mereka juga tak perlu mengeluarkan ongkos untuk sewa tempat tinggal. Di sana, keluarga Soleh bermukim di sebuah gudang bekas penyimpanan alat kapal. Meski tak bisa memperkirakan ukuran pastinya, menurut Soleh tempat tersebut lebih luas ketimbang ruangannya sekarang.

“Itu rumah punya ibu saya,” kata dia. Sa’arah membenarkan kata-kata putranya.

‘Lebih enak di Pasar Ikan’

HIDUP BARU. Salah satu warga relokasi dari Pasar Ikan, Penjaringan, Jakarta Utara, di Rusunawa Marunda. Warga mulai menempati rusun sejak pekan lalu. Foto oleh Ursula Florene/Rappler

Gudang tersebut sudah didiaminya sejak tahun 1945, waktu ia masih anak-anak. Sa’arah mengaku memang tak memiliki surat tanah. Namun, menurut dia, tak pernah ada yang mempermasalahkan hal tersebut.

Sewaktu muda, ia sempat bekerja sebagai tukang sapu di Pasar Ikan, sebagai pegawai PD Pasar Jaya. Namun, setelah pensiun, ia mencari tambahan uang dengan memulung botol-botol bekas. Hal itu dapat membantu penghidupan anaknya, yang juga berpenghasilan tak seberapa.

Sehari-hari Sa’arah berkeliling di sekitar pasar yang berlokasi dekat dari tempat tinggalnya. “Hanya 10 menit kalau jalan,” kata Siti menjelaskan.

Namun, setelah direlokasi, ia tak pernah lagi turun. Sama dengan menantunya, Sa’arah lebih banyak diam di rusun. Ia tak ingin penghasilan yang kecil harus dipotong lagi dengan biaya transportasi.

Belum lagi, jarak yang harus ditempuhnya untuk menuju pasar sangatlah jauh. Tubuh kurusnya tentu tak bisa sering dibawa berpindah-pindah angkutan umum, ataupun menunggu dalam waktu lama.

Kepindahan ke rusunawa ini membuat ia sedih. “Saya tak bisa melakukan apapun karena jauh. Kalau ada kerjaan, apa saja saya juga mau. Cuci piring di warung, apapun supaya bisa dapat sesuap nasi,” kata dia.

Sediakan lapangan pekerjaan

RUSUN MARUNDA. Tempat relokasi warga dari kawasan Pasar Ikan, Penjaringan, Jakarta Utara. Warga relokasi mulai menempati Marunda sejak hampir sepekan lalu. Foto oleh Ursula Florene/Rappler

Gubernur Ahok memang menjanjikan gratis biaya sewa bagi para warga relokasi. Soleh dan keluarganya tak perlu khawatir soal tempat tinggal hingga Juni mendatang. Namun, Siti tak bisa membayangkan bagaimana ia dan suaminya harus memenuhi biaya sewa pada bulan keempat, dan seterusnya.

Ruangan yang ditempati Siti saat ini disewakan dengan harga Rp 151 ribu per bulan, di luar listrik dan air. Hitungan kasar, mereka harus menyediakan kira-kira Rp 300 ribu untuk biaya tinggal setiap bulannya. “Kalau tak bekerja begini, saya tak tahu bisa dapat uang (sewa) dari mana,” kata Siti.

Ia berharap Ahok kelak dapat menyediakan pekerjaan di dekat Rusunawa Marunda. Dengan demikian, mereka tak perlu membuang uang lebih untuk transportasi, dan dapat menabung untuk  melanjutkan kehidupan mereka.

Sebelumnya, Ahok sempat berkomentar kalau kepindahan ini tak akan memengaruhi mereka yang berprofesi sebagai nelayan. “Rusun Marunda ada kanal timur, dan ada nelayan di Cilincing, Cakung. Maksud saya kalau profesinya nelayan, kenapa tidak pindah ke Marunda aja, dekat,” kata dia di Balai Kota pada Senin lalu.

Padahal, tak semua yang tinggal di dekat lautan berprofesi sebagai nelayan. Ada juga yang mendulang uang dari profesi lain, seperti Soleh dan Siti. Mereka-mereka inilah yang juga harus dipertimbangkan kehidupan ekonominya.

Bila tidak, keluarga Soleh terpaksa harus angkat kaki, karena tak mampu membayar sewa. —Rappler.com

BACA JUGA:

 

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.