Menilai para cagub-cawagub DKI dari gestur tubuh saat debat

Rappler.com
Gestur tubuh juga dapat membuat seseorang tambah menarik dan meyakinkan.

 Tiga pasangan calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta ber-selfie seusai debat publik pertama pada 13 Januari 2017. Foto oleh M Agung Rajasa/Antara

JAKARTA, Indonesia — Dalam perdebatan, jawaban atas pertanyaan maupun cara menanggapi lawan debat bukan satu-satunya poin penilaian. Gestur tubuh juga dapat membuat seseorang tambah menarik dan meyakinkan.

Pakar bahasa tubuh, Monica Kumalasari, menganalisa bahasa tubuh setiap kandidat gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta dalam debat publik pertama, pada Jumat lalu, 13 Januari.

Monica menjabarkannya dalam 5 kategori yaitu raut wajah, gestur, suara, gaya verbal dan konten verbal.

1. Raut wajah

Agus Harimurti Yudhoyono – Sylviana Murni

Monica menilai Agus sering memaksakan diri tersenyum, padahal dalam situasi netral wajahnya sering berekspresi datar.

Base line wajah Agus bukan smiley face. Karena dia mantan tentara, biasanya wajahnya flat,” kata Monica seperti dilansir dari ANTARA.

Menurut dia, ini mungkin merupakan salah satu cara putra sulung Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono itu untuk menenangkan diri dari rasa gugup yang melandanya.

“Kelihatan kaya banyak menelan ludah, kelihatan dari jakunnya. Mungkin juga karena ruangan dingin, jadi terasa kering [tenggorokan],” katanya.

Sementara Sylvi memiliki berbagai ekspresi wajah yang terlihat saat dia berbicara di atas panggung.

Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama – Djarot Saiful Hidayat

Ada dua hal yang diperhatikan dari bahasa tubuh mereka: konsisten dan spontan. Dua hal itu terpancar jelas dari sosok Ahok. Apa yang dikemukakan Ahok selama debat dinilai spontan dan konsisten sejak awal hingga akhir.

“Karena dia sudah menjalankan itu [gubernur] dan apa yang dia kemukakan adalah kenyataan,” kata Monica.

Hanya saja, gubernur DKI Jakarta nonaktif ini sempat tertawa ketika muncul pertanyaan jelang akhir debat mengenai apakah para kandidat akan tergiur mengikuti ajang pemilihan presiden 2019.

“Harusnya itu momen serius,” ujar Monica. Dia berpendapat Ahok seharusnya memasang ekspresi serius, sama seperti kandidat lain. Sebab, tindak-tanduknya dapat menimbulkan berbagai interpretasi.

“Kalau orang yang tidak senang sama dia, itu sudah diartikan macam-macam,” ujar Monica.

Serupa dengan Ahok, mimik wajah Djarot terlihat spontan dan konsisten. Mantan Wali Kota Blitar itu terlihat lebih tenang karena apa yang diutarakan selama debat adalah apa yang sudah ia kerjakan.

Anies Rasyid Baswedan – Sandiaga Salahuddin Uno

Monica berpendapat Anies adalah seorang orator yang baik dengan kemampuan retorika mumpuni.

“Bertuturnya pintar, bahasa tubuhnya tergambar dengan baik,” puji Monica.

Meski demikian, Anies sempat terlihat terkejut ketika Sylvi memanggilnya dengan sebutan “Pak Menteri”. Namun emosi itu segera disembunyikannya dengan memasang raut wajah datar.

“Bisa kelihatan dari mikro ekspresi yang muncul sangat cepat, hanya seperempat detik, sempat kaget. Ada sempat campuran ekspresi antara kaget sama marah,” kata Monica.

Sapaan “Pak Menteri” bisa jadi dianggap menyinggung, padahal sejak awal sudah ada komitmen bahwa para kandidat tidak boleh menyerang secara personal.

Untuk menganalisa ekspresi mikro lebih dalam, seorang ahli harus melihat detil-detil yang terlewatkan oleh orang awam.

“Ibaratnya video yang di-pause, kita bisa lihat otot mana yang mencerminkan kalau dia sempat kaget,” katanya.

Anies dan Sandi segera menyembunyikan perasaan terkejut karena menyadari mereka harus menjaga diri saat tampil di hadapan publik. “Ini yang disebut dengan display rules,” katanya.

Terkejut adalah emosi awal yang bisa diikuti dengan berbagai respon. Anies merespon dengan ekspresi datar, sementara Sandi menanggapinya dengan mencoba tersenyum.

Untuk penampilan Sandiaga secara individual, Monica melihatnya seperti orang yang sedang menikmati tontonan.

Salah satu contohnya adalah momen ketika dia tertangkap kamera sedang menggeleng-gelengkan kepala sambil menatap ke arah penonton, seakan memberi isyarat “harap tenang”.

“Padahal itu bukan menjadi tanggung jawab dia,” kata Monica. Saat Anies berbicara, Sandi mirip seperti penonton yang terlihat “terhanyut” dalam retorika Anies.

2. Bahasa tubuh

Monica menilai bahasa tubuh dari gerakan tangan para kandidat selama debat berlangsung.

Agus – Sylvi

Pada awal debat, Agus terlihat masih kaku. Namun tangannya jadi lebih dinamis seiring berjalan waktu. Tangan Agus sudah mulai “berekspresi”.

Monica mencatat ada saat ketika Sylvi memasukkan tangan kanan ke dalam saku.

“Bisa jadi karena kedinginan, tapi saat menghadapi sesuatu yang penting lebih baik hindari [tangan masuk saku],” katanya.

Ahok – Djarot

Gerakan tangan pasangan Ahok dan Djarot dianggap normal dan spontan karena apa yang mereka ungkapkan dalam debat adalah pekerjaan keduanya selama ini.

Anies – Sandi

“Anies bagus banget,” kata Monica. Ia banyak menggunakan gerakan ke atas dan bawah, seperti saat berbicara soal anti-narkoba.

Gerakan tangan Anies digunakan untuk memberi penekanan pada apa yang dibicarakannya atau bahwa tema itu penting baginya.

“Mungkin karena dia sudah terbiasa jadi dosen atau berbicara di depan umum,” katanya.

Sandi membuat bahasa tubuh dengan istilah “emblem”, yakni gerakan menempelkan jempol dengan telunjuk membentuk “O” dengan tiga jari tetap terangkat saat menyebut program kerja One Kecamatan One Center for Enterpreneurship (OK OCE).

Dengan cara ini, simbol tersebut diharapkan dapat merasuk ke bawah sadar penontonnya.

3. Suara

Agus – Sylvi

Nafas Agus agak memburu, terdengar seperti terburu-buru sehingga menimbulkan kesan defensif. Sementara Sylvi memiliki suara mengalun seperti orang bertutur.

Ahok – Djarot

Suaranya terdengar seperti penampilan mereka di muka publik seperti biasanya.

Anies – Sandi

Suara Anies terdengar seperti orang bertutur dan bercerita. Dia bisa mengatur kapan tinggi, rendah dan mana yang jadi penekanan.

Sedangkan Sandiaga Uno dianggap lebih bisa menjaga tone suaranya sehingga terdengar lebih tenang ketimbang Agus.

4. Gaya verbal

Monica mencatat Sylvi dan Sandi kerap menggunakan kata “saya” ketimbang “kami” untuk hal yang sebenarnya tidak dikerjakan sendirian.

Misalnya perkataan Sandiaga Uno, “Saya membina UKM”. Bisa dipastikan bukan hanya ia seorang diri yang jadi pembina, tapi ada tim yang ikut mengerjakan.

Gaya verbal seperti itu dianggap bisa menyiratkan keinginan menonjolkan diri sendiri, namun Monica mengatakan alasan di balik gaya verbal para kandidat tentu harus digali lebih dalam.

5. Konten

Monica menganalisa logika dari perkataan yang dilontarkan para kandidat hanya dari segi bahasa, terlepas dari isu politik.

“Ini hanya untuk edukasi masyarakat ketika melihat informasi dari sisi konten verbalnya, informasi itu logis atau tidak?”

Dilihat dari sisi logika, spontan dan detil, pasangan Ahok – Djarot dianggap lebih unggul dari yang lain karena bisa menjabarkan data dari realita.

“Yang lain ngomongnya masih di awang-awang,” katanya.—Rappler.com

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.