Kapolri: Koneksi jaringan teroris Malaysia-Indonesia sudah lama terjalin erat

Yuli Saputra
Kapolri: Koneksi jaringan teroris Malaysia-Indonesia sudah lama terjalin erat

ANTARA FOTO

Satu WNI ditangkap oleh kepolisian Malaysia diduga karena akan membuat teror saat Raja Salman berada di Kuala Lumpur.

BANDUNG, Indonesia – Kapolri Jenderal Tito Karnavian membenarkan adanya satu WNI yang ditangkap oleh kepolisian Malaysia pada akhir Februari lalu. Warga Indonesia itu tergabung dalam satu kelompok teror yang diduga akan menyerang rombongan Raja Arab Saudi ketika masih berada di Kuala Lumpur.

“(Informasi) itu kan sudah muncul juga di media. Dia bergabung dengan kelompok (teror) di sana (Malaysia),” ujar Tito usai memberikan kuliah umum di Aula Barat ITB kota Bandung pada Rabu, 8 Maret. (BACA: Malaysia tangkap 1 WNI terduga teroris yang akan serang Raja Salman?)

Dia mengatakan koneksi antara kelompok teror Indonesia dengan Malaysia sudah biasa dan sudah berlangsung lama. Baik Indonesia dan Malaysia kerap kali dijadikan tempat pelarian pelaku teror dari kedua negara tersebut.

“Dulu juga pada zaman DI/TII pun, saat mereka diserang, ditekan di sini, (mereka) larinya ke Sabah Serawak. Pada saat zamannya Jemaah Islamiyah (JI) larinya ke Malaysia. Pelaku yang dari Malaysia pun larinya ke sini, seperti Azhari dan Nurdin M. Top,” tutur Tito.

Dua negara serumpun itu memang diakui sudah menjadi jaringan lokal dengan koneksi tingkat regional. Oleh sebab itu, Polri membangun kerjasama internasional dan regional untuk memerangi dan menangani aksi terorisme serta radikalisme.

Sementara, terkait WNI yang ditangkap tersebut, Tito menjelaskan pihak kepolisian Indonesia sudah melakukan komunikasi dan koordinasi dengan mitranya dari Malaysia. Untuk urusan penanganan tindakan anti teror, dia mengatakan kerjasama antara Indonesia dan Malaysia berjalan sangat baik.

“Kami memiliki Liaison Officer (LO) di sana (Malaysia) yang berhubungan dan hubungan kerja sama anti teror di sana dengan anti teror di Indonesia sangat baik,” kata dia.

Menurut Kepala Kepolisian Malaysia Inspektur Jenderal Polisi Khalid Abu Bakar, WNI itu ditangkap bersama enam orang lainnya. Diduga mereka bagian dari jaringan kelompok Negara Irak Islam Suriah (ISIS).

“Mereka berencana untuk menyerang rombongan Raja Arab Saudi ketika mereka melakukan kunjungan ke Kuala Lumpur. Kami berhasil menangkap mereka dalam waktu yang singkat,” ujar Khalid.

Warga Indonesia ditangkap pada tanggal 21 Februari bersama seorang warga Malaysia. WNI berusia 28 tahun itu pernah dideportasi dari Turki pada bulan Juni 2016 usai ditahan karena diduga mencoba masuk ke Suriah secara ilegal. Tujuannya untuk bergabung dengan kelompok ISIS.

WNI dan warga Malaysia itu ditangkap di area Kepong, Kuala Lumpur. Masing-masing dari mereka bekerja sebagai teknisi pabrik dan petani. – Rappler.com

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.