Enam fakta peristiwa terbakarnya gudang kembang api di Kosambi

Rappler.com
Enam fakta peristiwa terbakarnya gudang kembang api di Kosambi

ANTARA FOTO

Warga sekitar tidak mengetahui ada gudang pengepakan kembang api di area Kosambi

JAKARTA, Indonesia – Gudang penyimpanan kembang api milik PT Panca Buana Cahaya Sukses yang berada di area Kosambi, Jakarta Barat meledak pada Kamis pagi, 26 Oktober sekitar pukul 09:00 WIB. Peristiwa ini mengejutkan warga sekitar yang bermukim di sekitar gudang tersebut.

Berdasarkan data dari Polda Metro Jaya insiden itu mengakibatkan 47 orang tewas. Angka itu diprediksi dapat bertambah mengingat ada 103 pekerja di gudang tersebut. Hingga saat ini polisi masih terus menyelidiki penyebab terjadinya ledakan dan identifikasi korban tewas.

Tim forensik mengaku kesulitan untuk melakukan identifikasi karena kondisi jenazah banyak yang dievakuasi dalam keadaan terpanggang hidup-hidup. Polisi kemudian membuka posko untuk mengidentifikasi korban di RS Polri Kramat Jati.

Berikat enam fakta dari peristiwa memilukan tersebut:

1. Gudang penyimpanan kembang api baru beroperasi dua bulan

Dari keterangan polisi, gudang pengepakan dan penyimpanan kembang api itu dimiliki pria bernama Indra Liyono (40 tahun) warga Kalideres, Jakarta Barat. Celakanya, saat peristiwa ledakan terjadi, ia tengah berada di Malaysia. (BACA: Pemilik tengah berada di Malaysia saat gudang kembang api meledak)

Kapolres Metro Tangerang Kombes Harry Kurniawan mengatakan jika gudang tersebut memang bergerak untuk meracik kembang api. Namun, gudang tersebut diketahui baru beroperasi selama dua bulan.

“Baru beroperasi dua bulan,” kata Harry kepada media.

Indra selaku pemilik gudang, Harry menyebut akan datang ke lokasi. Manajemen perusahaan pun sudah datang ke TKP dan rumah sakit untuk memberikan keterangan kepada polisi.

Namun, uniknya warga yang bermukim di sekitar lokasi gudang tidak mengetahui jika tempat itu digunakan untuk memproduksi kembang api. Salah satu warga bernama Benny Benteng yang tinggal di dekat gudang penyimpanan mengaku hanya tahu jika gudang tersebut difungsikan untuk menyimpan pasir Cina berwarna putih.

“Warga tidak tahu kalau gudang itu digunakan untuk memproduksi dan menyimpan kembang api,” kata Benny di area Kembangan, Kabupaten Tangerang seperti dikutip media.

Hal itu tidak mengherankan sebab, sejak awal beroperasi pintu gerbang selalu tertutup rapat. Para karyawan yang dipekerjakan pun mayoritas perempuan.

2. Klaim kantongi izin

Bupati Tangerang Ahmed Zaki Iskandar menyebut jika PT Panca Buana Cahaya Sukses sudah mengantongi izin. Perusahaan semula mengajukan izin operasi gudang, lalu mereka mengajukan izin pabrik packing kembang api.

“Sudah komplet (izinnya). Ini zona pergudangan dan industri kecil dan isinya untuk packing kembang api serta izinnya sudah selesai di tahun 2016,” ujar Zaki kepada media.

Ia menyimpulkan jika sudah ada izin yang dikantongi oleh PT Panca Buana Cahaya Sukses, artinya perusahaan tersebut sudah memenuhi persyaratan.

“Ini kan dia di dalam pabrik. Ini kan sudah ada izin keluar, berarti kan sudah sesuai persyaratan. Tapi, kemudian kan bagaimana pelaksanaan di lapangan. Ini perlu kami tekankan, harusnya sesuai dengan SOP,” tutur Zaki.

Sementara, ketika ditanyakan mengenai lokasi gudang kembang api yang dekat dengan pemukiman warga, Zaki menyebut hal itu tidak ada masalah. Sebab, industri perakitan kembang api masuk ke area pergudangan.

“Dan itu diperbolehkan,” tutur dia.

Ia turut menyebut tidak ada masalah jika gudang dibangun berbatasan langsung dengan pemukiman warga.

3. Indikasi mempekerjakan pekerja anak

NAMA KORBAN. Daftar berisi daftar nama korban yang dirawat di rumah sakit dan dipajang di kantor kelurahan pada Kamis, 26 Oktober. Foto oleh Ratu Selly/Rappler

Bupati Kabupaten Tangerang Ahmed Zaki Iskandar mengonfirmasi adanya indikasi PT Panca Buana Cahaya Sukses mempekerjakan pekerja anak. Hal itu lantaran terdapat korban luka yang masih berusia 15 dan 16 tahun.

“Tadi juga ada informasi, termasuk di sini ya, pekerja ada yang berada di bawah umur. Tadi ada yang berumur 15 tahun dan umur 16 tahun, nah itu nanti kami serahkan dan harus dipertanggung jawabkan oleh pemilik,” kata Ahmed di RSU Kabupaten Tangerang.

Polisi membagi dua lokasi untuk para korban. Bagi korban luka, mereka dievakuasi ke beberapa rumah sakit terdekat yakni antara lain di RS Ibu dan Anak Kosambi, Mitra Husada Teluk Naga dan RSUD Kabupaten Tangerang. Data dari pihak kepolisian, ada 46 korban luka yang disebar di tiga rumah sakit tersebut.

Sementara, 47 jasad korban tewas dievakuasi ke RS Polri Kramat Jati.

4. Sistem keamanan gudang dipertanyakan

Saat ledakan terjadi di gudang penyimpanan kembang api, puluhan pekerjanya justru terjebak di dalam. Mereka tidak bisa keluar dari gudang itu kendati api sudah membesar dan asap pekat menyelimuti.

Berdasarkan keterangan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Tangerang Agus Suryana, mereka harus mendobrak pintu gudang yang tergembok dari dalam.

“Setelah pintu terbuka, karyawan yang berada di bagian luar pabrik langsung berlarian menyelamatkan diri,” ujar Agus kepada media.

Kendati banyak pekerja yang selamat, namun banyak juga di antara mereka yang sudah menderita luka bakar dan tewas.

“Ada yang keluar diseret temannya, namun ada pula yang sudah hangus menjadi mayat,” tutur dia.

Ia menjelaskan jika bangunan gudang pengepakan kembang api terbagi dalam dua bagian. Sebagian pekerja bekerja di bagian depan yang merupakan luar bangunan. Lalu, di bagian tengah bangunan terdapat mesin dan gudang bahan baku kembang api dan petasan. Di bagian belakang bangunan yang tertutup rapat diisi pekerja di bagian pengepakan.

Menurutnya, petugas kesulitan mengevakuasi karyawan yang terjebak di bagian belakang pabrik pada kebakaran yang terjadi pada Kamis pagi kemarin. Ledakan kedua pun terjadi dan korban yang berjatuhan semakin banyak.

Bupati Tangerang Ahmed Zaki Iskandar mengaku tidak tahu banyak mengenai soal akses pintu gudang yang jumlahnya hanya satu. Menurut pemikirannya, akses sengaja dibuat satu pintu untuk alasan keamanan.

5. Bukan insiden kebakaran pertama

Berdasarkan penelusuran insiden kebakaran di kawasan pergudangan Kosambi, Tangerang, bukanlah peristiwa pertama. Peristiwa serupa terjadi di beberapa tahun yang berbeda.

Dari catatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPD) pada periode Januari hingga April 2015, sebanyak 20 pabrik dan gudang di Kabupaten Tangerang ludes dilalap api. Itu belum termasuk peristiwa kebakaran di tahun 2016.

Kepala BPBD Kabupaten Tangerang yang bertugas pada periode itu, Teteng Jumara mengatakan peristiwa kebakaran terbanyak dialami oleh pabrik garmen, kertas dan kimia. Penyebab kebakaran selain arus pendek atau konsleting listrik juga terjadi karena kecerobohan karyawan saat bekerja dan ledakan akibat gesekan bahan kimia.

“Daerah Kosambi merupakan kawasan pergudangan, sementara Cikupa adalah kawasan industri. Dua kawasan itu paling sering terkena musibah kebakaran, penyebabnya bisa arus pendek, kecerobohan dan lainnya,” kata Teteng seperti dikutip media.

6. Dirikan posko orang hilang

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono mengatakan hingga saat ini masih ada 10 orang yang belum ditemukan dari gudang penyimpanan kembang api tersebut. Tapi, tidak diketahui apakah mereka hanya menderita luka ringan lalu diizinkan pulang atau memang tidak masuk bekerja. 

Oleh sebab itu, polisi mendirikan dua posko orang hilang. Satu berlokasi di Polsek Kosambi, sedangkan sisanya di RS Polri Kramat Jati. 

Dengan begitu, keluarga korban bisa memanfaatkan posko tersebut untuk melaporkan jika ada anggota keluarganya yang belum ditemukan dan bekerja di sana. 

Di Rumah Sakit Kramat Jati kami dirikan posko orang hilang. Kami juga buka di Polsek Kosambi, nanti dibawa ke Kramat Jati,” kata dia.

Namun, Argo meminta keluarga yang melapor adalah saudara kandung. Salah satunya digunakan untuk membantu proses antemortem.

– Rappler.com

 

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.