IOM: Jakarta tujuan utama perdagangan orang domestik

Nurul (kanan) dari IOM Indonesia berbicara mengenai perdagangan orang di Indonesia, didampingi Komisioner Komnas Perempuan Magdalena Sitorus. Foto: Kanis Dursin

Nurul (kanan) dari IOM Indonesia berbicara mengenai perdagangan orang di Indonesia, didampingi Komisioner Komnas Perempuan Magdalena Sitorus.

Foto: Kanis Dursin

Dari tahun 2005 sampai 2015, misalnya, IOM Indonesia menangani 268 kasus perdangangan manusia di Jakarta, atau 20% dari total kasus perdagangan orang, dan 255 kasus atau 19 persen di Kepulauan Riau. Total korban tindakan pidana perdagangan manusia mencapai 6.748 dalam periode yang sama.

 “Jumlah korban tindakan pidana perdagangan orang bisa jauh lebih banyak karena IOM Indonesia hanya mendata kasus yang kami tangani,” kata Nurul Qairiah, Koordinator Proyek Nasional, Unit Perdagangan Manusia, Tenaga Kerja, dan Migrasi IOM Indonesia pada Senin, 25 April.

 Yang menarik adalah korban perdagangan tidak lagi hanya perempuan, tetapi juga laki-laki. Di Jakarta, misalnya, IOM Indonesia mencatat 23 anak laki-laki dan 5 laki-laki dewasa yang menjadi korban perdagangan orang dari 2005 sampai 2015.

Dalam periode yang sama, Provinsi Sulawesi Selatan mencatat 23 kasus perdagangan anak-anak dan 7 orang dewasa, Java Timur 21 orang, dan Riau Islands 19 orang.

Korban perdagangan orang di Jakarta berasal dari provinsi lain, terutama Jawa Barat dengan 2,203 orang, Jawa Tengah 909 orang, Kalimantan Barat 773 orang, Jawa Timur 651 orang, dan Nusa Tenggara Timur 564 orang.

 Menurut Nurul, wajar kalau korban perdagangan manusia cukup tinggi di Jakarta karena lebih dari 50 persen perusahaan tenaga kerja beroperasi di Jakarta.

“Faktor kedua adalah industri seks. Kita tahu bagaimana dunia hiburan di kota metropolitan seperti Jakarta, termasuk di hotel-hotel,” kata Nurul.

“Tetapi, ada juga yang transit di Jakarta. Misalnya, (perempuan) dari Jawa Barat dibawa ke Jakarta. Setelah enam bulan, mereka pindah ke Medan di Sumatera Utara, kemudian Batam, Makasar, dan terakhir di Papua.”  – Rappler.com